Air Mata, Rekor, dan Tiket 8 Besar Piala Dunia 2026, Malam Emosional Lionel Messi

Lionel Messi menebus penalti gagal dengan gol menit 83 saat Argentina menang 3-2 atas Mesir di 16 besar Piala Dunia 2026.

BolaCom | Gia Yuda PradanaDiperbarui 08 Juli 2026, 18:46 WIB
Lionel Messi terharu setelah membawa Argentina melangkah ke perempat final Piala Dunia 2026. (AP Photo/Mike Stewart)

Bola.com, Jakarta - Lionel Messi melewati malam naik turun di babak 16 besar Piala Dunia 2026 ketika Argentina menekuk Mesir 3-2. Penalti yang gagal sempat membebani sang kapten, namun ia menebusnya lewat gol penyeimbang yang mengubah arah laga.

Argentina tertinggal dan lawan memperlebar keunggulan menjadi 2-0 pada menit ke-67. Cristian Romero membuka jalan kebangkitan, Messi menyamakan kedudukan pada menit ke-83, sebelum Enzo Fernandez memastikan kemenangan melalui sundulan di masa stoppage time.

Advertisement

Usai laga, euforia bercampur haru mengiringi langkah Argentina yang kini menatap perempat final menghadapi Swiss. Momen-momen emosional Messi, dari rasa bersalah hingga air mata, menjadi poros cerita kemenangan ini.


Dari Penalti Gagal ke Titik Balik Argentina

Messi berdiri di titik 12 pas dengan harapan membawa Argentina memimpin. Tendangannya tak berbuah gol, dan ekspresi kecewa langsung tergambar di wajah sang kapten. Tim sempat kehilangan arah setelah momen tersebut, tekanan meningkat di fase gugur yang menuntut presisi.

Situasi kian rumit ketika Mesir memperbesar keunggulan menjadi 2-0 pada menit ke-67. Di tengah sorotan dan tekanan, tidak banyak yang menduga Messi masih akan menjadi penentu pada malam itu.

Argentina menemukan momentum saat Cristian Romero mencetak gol yang menyalakan asa. Messi lalu menyamakan skor pada menit ke-83, gol yang menjadi titik balik laga. Di penghujung waktu, Enzo Fernandez menuntaskan comeback dengan sundulan pada masa stoppage time, mengunci skor 3-2 untuk La Albiceleste.


Selebrasi dan Pengakuan Messi

Sesaat setelah bola penyeimbang bersarang di gawang Mesir, Messi berlari menuju bendera sudut lapangan, melompat, dan mengepalkan tangan. Selebrasi itu lebih dari sekadar kegembiraan; itu pelepasan emosi setelah momen yang sangat berat di depan gawang beberapa menit sebelumnya.

"Sejujurnya itu adalah momen pelampiasan, pelampiasan bagi kami semua," kata Messi. "Saya sangat marah karena gagal mengeksekusi penalti dan cara saya mengambilnya. Saya merasa telah mengecewakan tim pada momen penting."

Ia kemudian menyampaikan rasa syukurnya bisa memperbaiki keadaan. "Namun, untungnya Tuhan kembali menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk saya pada akhirnya dan saya bisa mencetak gol penyeimbang."


Air Mata, Rekor, dan Langkah Lanjut

Peluit akhir menghadirkan pemandangan jarang dari Messi. Air mata mengalir ketika rekan setim menghampiri dan mengangkatnya di tengah lapangan, menandai malam yang penuh tekanan berubah menjadi perayaan.

Lautaro Martinez dan Julian Alvarez sama-sama memberikan penghargaan atas pengaruh besar sang kapten bagi tim. Pelatih Lionel Scaloni juga menegaskan gairah bermain Messi tetap menyala, meski ia telah memasuki penghujung karier.

Gol penyeimbang ke gawang Mesir menghadirkan catatan baru untuk Messi. Ia kini mencetak gol dalam enam pertandingan fase gugur Piala Dunia secara beruntun, sekaligus memperpanjang rekor menjadi sembilan laga Piala Dunia berturut-turut selalu membobol gawang lawan.

Argentina menatap perempat final melawan Swiss dengan kepercayaan diri tinggi. Bagi Messi, malam itu kembali menunjukkan bahwa status legenda juga dibangun dari keberanian bangkit setelah kegagalan.

Berita Terkait