Terkait Kartu Merah Balogun, Bos La Liga Kritik Keras FIFA, Singgung Sikap Diam Dunia Sepak Bola

Bos La Liga, Javier Tebas, semprot FIFA, sebut banyak pihak di dunia sepak bola sengaja bungkam.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 08 Juli 2026, 21:15 WIB
Presiden La Liga Spanyol, Javier Tebas, berbicara kepada media di Ciudad del Futbol di Las Rozas, di luar Madrid, pada 16 Desember 2024. (OSCAR DEL POZO/AFP)

Bola.com, Jakarta - Presiden La Liga, Javier Tebas, melontarkan kritik terhadap apa yang disebutnya sebagai "sikap diam yang ikut membiarkan" di sekitar FIFA setelah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, lolos dari sanksi larangan bermain pada Piala Dunia 2026.

Balogun tetap bisa tampil saat Amerika Serikat kalah 1-4 dari Belgia pada babak 16 besar. Kesempatan itu didapat setelah Komite Disiplin FIFA memutuskan menangguhkan sanksi larangan bermain satu pertandingan selama 12 bulan.

Advertisement

Keputusan tersebut sebelumnya menuai kritik keras dari UEFA. Pada Senin waktu setempat, UEFA menyebut langkah FIFA sebagai keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan.

Namun, di luar Eropa, keputusan FIFA itu tidak banyak mendapat respons dari para pejabat sepak bola.


Puncak Gunung Es

Wasit Raphael Claus dari Brasil memberikan kartu merah kepada Folarin Balogun (Amerika Serikat), kanan, saat pertandingan sepak bola babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Amerika Serikat dan Bosnia di Santa Clara, California, dekat San Francisco, Kamis, 2 Juli 2026. (AP Photo/Julio Cortez)

Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) memang mengeluarkan pernyataan untuk membela wasit Raphael Claus setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut pengadil asal Brasil itu "agak mencurigakan".

Meski begitu, CONMEBOL tidak mengkritik FIFA maupun Trump, yang sebelumnya mengungkap telah meminta agar sanksi Balogun ditinjau kembali.

Raphael Claus merupakan wasit yang mengeluarkan kartu merah kepada Balogun pada laga melawan Bosnia dan Herzegovina setelah melakukan tinjauan melalui VAR.

Menurut Tebas, keputusan terkait Balogun hanyalah puncak gunung es dari serangkaian peristiwa yang selama bertahun-tahun telah mengikis kredibilitas FIFA dan sepak bola secara umum.


Organisasi Tertutup

(Kiri/Kanan) Presiden AS, Donald Trump, memperhatikan saat menerima Hadiah Perdamaian FIFA (FIFA Peace Award) dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia 2026 yang berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko, di Kennedy Center, Washington, DC, pada 5 Desember 2025. (Brendan SMIALOWSKI/AFP)

Pria berusia 63 tahun itu juga menuding FIFA sebagai organisasi yang tertutup. Menurutnya, berbagai keputusan telah ditentukan sebelum proses pemungutan suara berlangsung dan tanpa berkonsultasi dengan liga-liga domestik.

"Yang paling buruk adalah banyak pihak di dunia sepak bola menyadari hal itu, tetapi terlalu banyak yang memilih tetap diam," tulis Tebas melalui akun X.

"Karena diam jauh lebih nyaman daripada membela independensi, transparansi, dan tata kelola yang baik."

"Sepak bola dunia layak memiliki institusi yang bertanggung jawab, menghormati aturan, dan dikelola secara transparan, bukan melalui keputusan sepihak, berdasarkan kebijakan sendiri, dan sewenang-wenang yang mengikis kepercayaan suporter, klub, liga, serta para pemain," tegas Tebas.

 

Sumber: BBC

Berita Terkait