Rencana Gianni Infantino Buka Kepemilikan Pengelola Piala Dunia untuk Investor Disebut Sebagai Bom Nuklir bagi Sepak Bola

Presiden FIFA, Gianni Infantino, dikabarkan berencana menjual sebagian kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 29 Juli 2026, 09:00 WIB
Berdiri di samping Trofi Piala Dunia, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan pidato pada pertemuan musim dingin Konferensi Walikota AS pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Infantino mempromosikan Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menyoroti potensi manfaatnya bagi kota dan komunitas tuan rumah. (Alex Wong/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Presiden FIFA, Gianni Infantino, dikabarkan sedang menyiapkan rencana untuk melepas sebagian kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta.

FIFA telah mengonfirmasi akan membuka peluang bagi pihak ketiga untuk melakukan investasi minoritas yang tidak memiliki kendali melalui FIFA Forward Enterprise (FFE).

Advertisement

Dalam proyek tersebut, FIFA menggandeng bank J.P. Morgan, sementara OpenEconomics ikut berperan mencari calon investor jangka panjang.

Pengembangan proyek tetap berada di bawah kendali Infantino dan administrasi FIFA, sedangkan investor eksternal hanya akan memiliki saham minoritas tanpa peran operasional.

Menurut laporan, pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah diajak berdiskusi mengenai rencana itu.

Skema tersebut mencakup pembentukan sebuah perusahaan yang akan mengelola kompetisi putra dan putri FIFA, termasuk Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub.

Seluruh 211 asosiasi anggota FIFA akan memperoleh kepemilikan saham yang dapat dipertahankan atau dijual untuk memperoleh pemasukan.


Bom Nuklir Sepak Bola

Ilustrasi trofi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Laporan The Times, dilansir Mirror, menyebut seorang tokoh senior sepak bola menggambarkan rencana tersebut sebagai "bom nuklir" bagi sepak bola.

Dalam proposal yang beredar, FIFA akan tetap menjadi pemegang saham mayoritas, sementara investor swasta diperkirakan menguasai 20 hingga 30 persen saham. Adapun asosiasi anggota FIFA akan menerima porsi sekitar 20 persen secara keseluruhan.

UEFA merespons laporan tersebut dengan mengeluarkan pernyataan yang bernada keras.

"Ini telah melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh institusi pengelola sepak bola. UEFA memandang persoalan ini dengan sangat serius.

"Begitu pula seharusnya setiap asosiasi sepak bola nasional, seluruh pemangku kepentingan, liga, klub, pemain, suporter, pemerintah, dan siapa pun yang peduli terhadap masa depan sepak bola.

"Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang bisa diperjualbelikan, terlebih tanpa transparansi mengenai siapa yang akan memperoleh keuntungan finansial. Tidak seorang pun memiliki sepak bola. FIFA juga bukan pemilik yang berhak menjualnya," demikian bunyi pernyataan UEFA.


Kekhawatiran Lain

Momen itu juga disaksikan Presiden FIFA Gianni Infantino yang turut hadir di pertandingan Iran vs Kosta Rika. (AP Photo/Riza Ozel)

Rencana tersebut juga memunculkan kekhawatiran bahwa investor swasta dapat mendorong penyelenggaraan Piala Dunia putra di negara-negara yang dinilai paling menguntungkan secara komersial.

Laporan itu menambahkan, pengusaha Amerika Serikat, Joshua Kushner, disebut sebagai calon investor utama bersama J.P. Morgan.

Joshua merupakan adik Jared Kushner, suami putri Donald Trump, Ivanka Trump.

Infantino diperkirakan akan kembali terpilih sebagai Presiden FIFA hingga 2031 karena tidak memiliki pesaing. Jika model baru itu diterapkan, ia disebut berpeluang mengemban jabatan sebagai komisaris.

Sejumlah pihak menilai gaji untuk posisi tersebut bisa menyamai Komisaris NFL, Roger Goodell, yang menerima 64 juta dolar AS per tahun (Rp1,1 triliun), atau sekitar 10 kali lipat lebih besar dibandingkan pendapatan Infantino sebagai Presiden FIFA.


Tuduhan Infantino

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbicara di KTT Semafor World Economy 2026 pada 15 April 2026 di Washington, DC. KTT ini mempertemukan para pemimpin bisnis dan CEO teknologi untuk membahas ekonomi, kecerdasan buatan, dan tren bisnis. (Alex Wong/Getty Images via AFP)

Infantino juga mendapat sorotan setelah penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Harga tiket, persoalan logistik turnamen, hingga campur tangan Donald Trump yang berujung pada penangguhan sanksi pemain Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, menjadi perhatian publik.

Sepekan setelah turnamen berakhir, Infantino mengunggah pernyataan sepanjang 15 slide dengan total 887 kata di Instagram.

Dalam unggahan tersebut, ia menuduh para pengkritiknya telah menyebarkan kebencian.

"Pesan saya untuk semua orang yang...

"Kepada semua yang melewatkan indahnya sepak bola, emosi, perayaan, tawa, tangis, kekecewaan, dan kebahagiaan. Kepada semua yang tidak sempat melihat anak-anak, bayi, kakek-nenek, dan orang tua berkumpul menikmati sepak bola, saya minta maaf karena pertandingan telah berakhir dan minta maaf karena kalian melewatkan semua kebahagiaan serta kebersamaan itu.

"Saya juga minta maaf karena kalian begitu dipenuhi kebencian dan kritik hingga melewatkan semuanya," tulis Infantino.

 

Sumber: Mirror

Berita Terkait