Mantan Pejabat Nilai Infantino Tak Memenuhi Syarat untuk Terpilih Lagi sebagai Presiden FIFA, Desak Banding ke CAS

Mantan pejabat FIFA sebut Gianni Infantino tidak memenuhi syarat dalam pemilihan Presiden FIFA.

Bola.com, Jakarta - Peluang Gianni Infantino untuk kembali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA mendapat sorotan.

Miguel Maduro, mantan ketua Komite Tata Kelola FIFA, menilai Infantino tidak memenuhi syarat untuk maju dalam pemilihan periode keempat.

Ia juga meminta para pengkritik Infantino membawa persoalan ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).

Maduro menyebut ada jalur yang jelas untuk menghentikan langkah Infantino. Menurutnya, para pihak yang menentang pencalonan Infantino dapat meminta Komite Peninjau FIFA memeriksa kelayakannya.

Jika komite menyatakan ia tetap memenuhi syarat, keputusan tersebut bisa diajukan banding ke CAS.

"Pasal 33 ayat 2 Statuta FIFA sangat jelas menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menjabat sebagai presiden lebih dari tiga periode,” kata Maduro dalam konferensi pers melalui sambungan telepon yang digelar kelompok advokasi hak asasi manusia FairSquare, Selasa waktu setempat.

"Gianni Infantino sudah terpilih tiga kali. Ia telah menjabat sebagai Presiden FIFA selama tiga periode. Jadi, tidak ada cara untuk menyelaraskan periode berikutnya bagi Gianni Infantino dengan aturan ini," tambahnya.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Siapa Maduro

Maduro merupakan pengacara asal Portugal yang terpilih sebagai ketua Komite Independen pada Kongres FIFA pertama Infantino sebagai presiden, Mei 2016.

Namun, ia dipecat 10 bulan kemudian setelah menolak menyetujui pengangkatan Wakil Perdana Menteri Rusia, Vitaly Mutko, ke Dewan FIFA.

Sebelum memimpin komite FIFA, Maduro pernah menjabat sebagai advokat jenderal di Pengadilan Eropa serta menteri pembangunan regional Portugal. Sejak pemecatannya, ia dikenal sebagai satu di antara pengkritik Infantino.

Persoalan Penghitungan Masa Jabatan

Infantino memimpin FIFA setelah Sepp Blatter kehilangan kekuasaan yang telah dipegangnya selama 17 tahun di tengah serangkaian skandal korupsi.

Pada awal kepemimpinannya, muncul harapan Infantino akan membawa perubahan. Salah satu reformasi awal yang diperkenalkannya adalah pembatasan masa jabatan presiden maksimal tiga periode.

Namun, menjelang berakhirnya Piala Dunia 2022 di Qatar, Infantino menyampaikan bahwa Dewan FIFA telah secara bulat mengonfirmasi periode pertamanya, yakni 2016 hingga 2019, tidak dihitung.

Alasannya, ia ketika itu hanya menyelesaikan sisa masa jabatan Blatter.

Dengan penafsiran itu, periode yang sedang dijalani Infantino, yang secara hitungan merupakan masa jabatan ketiganya, dianggap sebagai periode kedua.

Ia pun bisa kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan empat tahun berikutnya pada Maret 2027.

FairSquare, melalui kampanye FIFA Reboot, telah mengirim surat kepada Komite Tata Kelola, Audit, dan Kepatuhan FIFA. Mereka menilai keputusan tersebut bertentangan dengan bunyi maupun semangat aturan pembatasan masa jabatan.

FairSquare juga berpendapat Dewan FIFA tidak berwenang menentukan persoalan itu karena seharusnya menjadi ranah Komite Peninjau, yang merupakan subkelompok beranggotakan tiga orang di bawah Komite Tata Kelola.

Batasi Kekuasaan

Maduro sependapat. Ia menilai Dewan FIFA tidak memiliki kewenangan untuk memutuskan kelayakan pencalonan presiden.

"Ini sama seperti seorang presiden negara menafsirkan konstitusi sendiri agar bisa kembali mencalonkan diri, alih-alih menyerahkan persoalan itu kepada mahkamah agung atau mahkamah konstitusi," ujarnya.

Menurut Maduro, aturan tersebut hanya menyebut batas tiga periode tanpa membedakan apakah masa jabatan berlangsung penuh atau tidak, selama empat tahun atau lebih singkat.

"Tujuan aturan ini adalah membatasi konsentrasi kekuasaan. Karena itu, setiap penafsiran yang memperluas kekuasaan harus didukung oleh argumen yang sangat kuat," kata Maduro.

Ia juga menilai persoalan tersebut seharusnya bisa diajukan kepada seluruh asosiasi anggota FIFA melalui pemungutan suara dalam kongres.

Langkah itu, menurutnya, akan secara efektif mengubah aturan. Namun, Infantino tidak menempuh jalur tersebut.

Maduro memperingatkan, jika penafsiran Dewan FIFA diterima, tidak ada yang bisa mencegah Infantino menggelar pemilihan beberapa bulan sebelum masa jabatan keempatnya berakhir, lalu menyatakan periode itu juga tidak dihitung dalam batas tiga periode.

"Hal itu akan membuat pembatasan masa jabatan, pada praktiknya, sama sekali kehilangan fungsi," imbuhnya.

Kritik terhadap Infantino

Peluang Infantino mempertahankan kekuasaan hingga 2031 sempat terlihat tidak menjanjikan pada Agustus lalu.

Saat itu, muncul laporan mengenai rencana rahasia untuk menjual sebagian kepemilikan kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta yang dipimpin saudara dari menantu Presiden Amerika, Serikat Donald Trump.

Sejumlah pimpinan sepak bola Eropa sebelumnya sudah tidak puas dengan gaya kepemimpinan Infantino yang dinilai otoriter, kedekatannya dengan Trump, serta kontroversi terkait keputusan membatalkan hukuman kartu merah striker Amerika Serikat, Folarun Balogun, di Piala Dunia.

Rencana FIFA Forward Enterprise itu menjadi titik puncak ketidakpuasan mereka.

Untuk sesaat, konfederasi Asia serta Amerika Utara dan Tengah tampak memiliki pandangan serupa.

Namun, situasi itu tidak berlangsung lama. Infantino dengan cepat kembali mengendalikan narasi dan kini terlihat sulit dikalahkan.

Maduro menyoroti sikap UEFA yang dinilai kurang membantu. Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, telah mengonfirmasi akan mencalonkan diri untuk periode keempat karena masa jabatan pertamanya juga tidak dihitung.

Iklim Politik FIFA

Maduro mengakui hal itu membuat UEFA rentan dituduh bersikap munafik. Namun, ia menyebut ada perbedaan penting antara kasus UEFA dan FIFA.

UEFA telah menggelar pemungutan suara dalam kongres untuk mengubah aturan batas masa jabatan.

Ketika ditanya mengapa tidak ada federasi atau konfederasi yang mengangkat persoalan kelayakan Infantino, Maduro menilai politik sepak bola dunia berada dalam "iklim ketakutan".

"Kita telah melihat bahwa siapa pun yang bertindak sendiri, menentang, dan menyuarakan perbedaan pendapat akan dikucilkan, disingkirkan, serta kehilangan pengaruh dalam struktur kekuasaan," ujarnya.

Kendati menganggap Infantino bisa dihentikan, Maduro belum yakin pergantian presiden akan membawa perubahan besar bagi FIFA.

"Kekhawatiran saya, mengganti Infantino saja tidak cukup," cetusnya.

"Kita sudah melihat hal ini pada masa lalu. Itu bisa menjadi langkah positif, tetapi FIFA membutuhkan lebih dari sekadar pergantian presiden. Saya khawatir presiden yang baru nantinya kurang lebih akan sama dengan Infantino," ucap Maduro.

 

Sumber: The Athletic

Video Populer

Foto Populer