Sukses


Piala Polda Jateng, Wajah Bopeng dan Harapan Sepak Bola Nasional

Bola.com, Cilacap - “Ini pertandingan sepak bola yang menjadi impian dan harapan semua.” Komentar itu berasal dari seorang Pasoepati, suporter Persis Solo, saat datang ke Cilacap. Dia bersama 2000-an suporter dengan menggunakan bus, kereta atau kendaraan pribadi datang untuk mendukung Persis saat menghadapi PSCS Cilacap di semifinal kedua Piala Polda Jateng. Laga digelar di kandang PSCS di Stadion Wijayakusuma, Cilacap, Minggu (28/6).

Laga yang berakhir 3-1 untuk Persis berjalan lancar dan aman. Suporter tuan rumah, Lanus, tidak mengumbar amarah saat tim kesayangan menelan kekalahan di kandang sendiri. Mereka hanya ‘berperang’ lewat nyanyian dengan Pasoepati.

Usai laga, suporter tuan rumah turun ke lapangan menyambut lawannya. Tidak untuk perang batu atau botol mineral tapi saling bersalaman dan berpelukan dengan Pasoepati.

“Atmosfer seperti ini yang diharapkan. Tidak ada rusuh usai pertandingan. Tim tamu menang di kandang lawan. Tapi saya tetap meminta suporter untuk menghindari Yogyakarta saat pulang ke Solo,” ujar Anwar Sanusi, Sekretaris Jenderal Pasoepati.

Pasoepati (Bola.com/Vincensius Sawarno)

Perseteruan dengan kelompok lain menjadikan suporter tidak bisa melakukan tur tanpa ada gangguan. Terutama bila mereka harus melewati kota-kota dari suporter lawan.

Saat suporter tamu dan tuan rumah bersatu di sebuah pertandingan, sebaliknya mereka bisa ribut dengan suporter lain di perjalanan pulang atau pergi.

Kapan suporter bisa berdamai tanpa ada kerusuhan?  Apakah perseteruan ini berakar dari sejarah Nusantara yang terdiri dari banyak kerajaan yang mmebuat rakyat terpecah dan tak bisa bersatu? Apakah politik divide et impera (memecah-belah) yang diterapkan Kolonialisme masih meninggalkan bekas meski sudah berlalu ratusan tahun? Padahal, kita punya Bhinneka Tunggal Ika.

Ini merupakan wajah bopeng sepak bola nasional. Semangat untuk bersatu ditunjukkan suporter di Piala Polda Jateng. Turnamen ini seperti menjadi momen rekonsiliasi suporter. Rekonsiliasi tidak harus suporter yang bermusuhan kemudian langsung datang saat kedua tim dari suporter yang pernah berselisih itu bertanding.

Banaspati dan Jetman, kelompok suporter Persijap Jepara, tidak serta-merta datang ke Semarang saat mereka menghadapi PSIS. Memenuhi permintaan panitia pelaksana pertandingan agar mereka tidak datang ke Semarang menunjukkan sebagai bentuk rekonsiliasi. Masing-masing suporter tak berharap ada keributan di dalam maupun luar lapangan.

Panser Biru (Bola.com/Vicensius Sawarno)

Namun suporter Persijap bisa menyambangi Rembang saat menghadapi PSIR. Mereka juga datang ke Solo untuk memberi dukungan pada Laskar Kalinyamat.

Sebaliknya, suporter PSIS sempat berlawanan dengan pendukung Persis di Manahan. Meski hubungan di antara mereka cukup harmonis, namun tensi para suporter sempat tinggi karena kejadian di lapangan. Laga itu sendiri tidak kalah bertensi tinggi yang kemudian merambat ke suporter.

Laga bisa berjalan aman meski ada suporter lawan sungguh menjadi dambaan. Apalagi, tim tamu bisa mengalahkan tuan rumah. Ini bisa menumbuhkan harapan saat kompetisi yang sesungguhnya digelar kembali.

Tapi wajah bopeng sepak bola nasional masih tetap terlihat di turnamen itu. Kinerja wasit yang tak bagus sehingga memancing emosi pemain terpampang di beberapa pertandingan. Bahkan wasit di pertandingan Persibas Banyumas melawan PSIS sampai harus diganti karena dinilai tidak bisa memimpin dengan baik.

“Kalau wasit sampai harus diganti, berarti kinerjanya memang tidak bagus,” tutur pelatih Persibas, Putut Wijanarko.

Pemain PSIS Semarang dan Persis Solo terlibat aksi saling kejar di babak kedua. (Bola.com/Vincensius Sawarno)

Rapor merah wasit menjadi catatan di turnamen itu. Pelatih PSIS M Dhofir menyesalkan kepemimpinan wasit saat timnya bermain di Manahan.

“Padahal, lewat turnamen ini menjadi momen melakukan pembenahan. Sepak bola kita sedang terpuruk dan Piala Polda Jateng sesungguhnya bisa membantu untuk memperbaikinya,” ucapnya.

Turnamen Piala Polda masih menunjukkan wajah bopeng sepak bola nasional. Namun ada pembenahan yang menerbitkan harapan untuk sepak bola kita. 

Baca juga :

Kalah dari Arema, Persis Siap Terjun di Piala Polda Jateng 2015

Persis Solo Resmi Terima Undangan Piala Kemerdekaan

PSIS Menangi Derby Pantura di Piala Polda Jateng

Video Populer

Foto Populer