Sukses


Kisah Sepak Bola Indonesia dalam Nuansa Tionghoa di 3 Kota

Bola.com, Jakarta - Menyambut Tahun Baru Imlek 2567 (2016), bola.com merangkum cerita dari tiga kota di Indonesia, yakni Batam, Semarang, dan Makassar tentang sepak bola, budaya Tionghoa, dan kiprah pesepak bola keturunan Tionghoa. 

Batam: SSB dan Miniatur Indonesia

Coba sesekali singgah di Kota Batam dan lihat anak-anak muda di sana bermain sepak bola. Anda akan menemukan hal yang membuat ungkapan sepak bola adalah universal berlaku secara nyata. Di Batam memang tak ada klub profesional, tapi ada puluhan SSB dan akademi yang berkembang. 

Daud (tengah), pemuda keturunan Tionghoa asal Batam satu tim dengan anak Flores dan Aceh. (Bola.com/Wiwig Prayugi)

Banyak anak-anak keturunan Tionghoa yang bermain di SSB. Mereka membaur dengan warga perantau asal Jawa, Minang, Aceh, Batak, melayu Palembang, hingga Flores. Menurut salah satu penggiat sepak bola di Batam asal Padang, Yusra Indra, SSB membuat anak-anak tak pernah memandang asal suku mereka saat membaur dengan suku lain.

“Semuanya sama saat berada di lapangan sepak bola. Meski ada olahraga lain seperti bulutangkis dan bola basket, sepak bola tetap jadi favorit anak-anak,” katanya.

Satu pesepak bola asal Batam yang singgah di tim nasional adalah Sutanto Tan, yang mengawali karier di PS Batam. Kiprah Sutanto di timnas membuat anak-anak keturunan Tionghoa di Batam termotivasi. Sutanto menjadi idola anak-anak SSB.

“Adik-adik saya banyak yang masuk SSB setelah ada pemain yang masuk timnas. Kalau saya masih sebatas berlatih biasa karena hobi,” tutur Daud, salah satu pemain sepak bola keturunan Tionghoa dari Batam yang belajar sepak bola di SSB Viva Guadalupe Batam.

Makassar: Kiprah Mantan Pemain dan Liga Ramadhan

Makassar jadi salah satu kota yang memiliki pesepak bola keturunan Tionghoa dari generasi lama hingga sekarang. Pada era 1950-an saat pemain Tionghoa jadi pilar Timnas Indonesia, PSM Makassar memiliki Keng Wie. Ia menjadi bagian dari skuat Juku Eja yang meraih juara Perserikatan 1965.

Tahun 1990-an ada Yosef Wijaya dan Erwin Wijaya yang mengantarkan PSM juara Perserikatan 1992. Kemudian pada 2008, muncul striker Febrianto Wijaya yang kini menjadi anggota DPRD Mamuju. Meski memutuskan pensiun dini, bukan berarti Febrianto meninggalkan sepak bola. 

Febrianto jadi salah satu mantan pemain yang aktif saat digelar turnamen tarkam di Makassar. Pada Juli 2015, Febrianto membentuk klub OTP 37 yang tampil di Liga Ramadan. OTP merupakan singkatan dari nama kakek Febrianto. Tak tanggung-tanggung, Febrianto merekrut banyak pemain top, seperti Zulham Zamrun, Maldini Pali, Muchlis Hadi Ning Syaifullah, dan Paulo Sitanggang.

Kiprah Febrianto di sepak bola tak hanya itu. Ia juga menjadi pembina dan pelatih di SSB Manakarra di kota kelahirannya, Mamuju. “Meski sudah banting setir ke bidang lain, saya tetap mencintai sepak bola. Semoga saya bisa berbuat banyak untuk masyarakat Mamuju dan Sulsel lewat sepak bola,” kata Febrianto Wijaya.

Zulham Zamrun di Liga Ramadhan 2015 bersama OTP 37, klub milik Febrianto Wijaya. (Bola.com/Ahmad Latando)

Semarang: Aksi Gantole Alvin Lie dan Pesta Barongsai 1999

Kota Semarang dikenal sebagai wilayah yang kental dengan budaya Tionghoa. Cikal bakal klub yang bermarkas di kota itu, PSIS Semarang, juga berkaitan dengan kiprah masyarakat keturunan Tionghoa melalui PS Union atau Hoa Yoe Hwee Koan yang berdiri tahun 1911. Hingga sekarang, masih banyak masyarakat Semarang keturunan Tionghoa yang menjadi penggila PSIS, seperti Simon Legiman, Johar Lin Eng, hingga politikus Alvin Lie yang kini menjadi anggota Ombudsman RI.

Cerita pertama muncul saat PSIS menjuarai Liga Indonesia 1998-1999. Partai final melawan Persebaya Surabaya yang berlangsung di Stadion Klabat, Manado, 9 April 1999, membuat ribuan masyakat Semarang tak bisa menonton aksi Tugiyo dkk. secara langsung. Alhasil, masyarakat tumpah ruah saat pemain PSIS diarak keliling kota.

Uniknya, perayaan juara PSIS sangat kental dengan budaya Tionghoa, yakni disambut oleh aksi barongsai di Balai Kota Semarang. Almarhum Ismangoen Notosaputro, tokoh sepak bola dan budaya Semarang, pernah berkata, selebrasi PSIS juara sekaligus perayaan masyarakat Tionghoa Semarang menyambut era reformasi.

Jauh sebelum PSIS Semarang juara dan disambut barongsai, pada medio 1990-an tokoh politik asal Kota Atlas, Alvin Lie punya kebiasaan unik. Saat PSIS berlaga di Stadion Jatidiri, Alvin terbang dengan gantole dan mengibarkan spanduk besar bertuliskan “Selamat Berjuang PSIS!”, atau “Ayo Sikat Lawanmu, PSIS!”

Video Populer

Foto Populer