Sukses


Ramadhan Sananta Bicara Kisah di Balik Layar Piala Asia U-23 dan Play-off Olimpiade: Pertama Kali Lihat Shin Tae-yong Menangis

Bola.com, Jakarta Euforia yang dibuat Timnas Indonesia di Piala Asia U-23 dan play off Olimpiade Paris sudah berlalu. Namun, ada banyak cerita di baliknya.

Indonesia untuk kali pertama melaju hingga semifinal Piala Asia U-23 di Qatar, mereka pun hampir lolos ke Olimpiade.

Striker Indonesia U-23, Ramadhan Sananta lewat podcast di Sportcast 77 mengungkapkan banyak cerita di balik layar. Indonesia memang tidak jadi juara atau lolos ke Olimpiade. Tapi, sejarah sudah diukir lewat perjuangan yang tidak mudah.

Sananta membahas tentang babak play-off melawan Guinea U-23 di Paris pada 9 Mei. Timnas Indonesia U-23 kalah tipis 0-1. Namun, di laga itu Sananta dan rekan-rekannya tidak sekedar melawan 11 pemain Guinea di lapangan. Tapi juga cuaca hingga kejenuhan.

“Capek sebenarnya kami. Dari pemusatan latihan, lalu ke Qatar untuk Piala Asia U-23. Dan lanjut ke Paris untuk play-off Olimpiade. Saat play-off, badan masih mau bergerak. Tapi, otak sudah stres dan tidak bisa berfikir. Karena ada di titik jenuh,” katanya.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 5 halaman

Kedinginan dan Kelelahan

Itu yang membuat permainan Indonesia U-23 kurang gereget saat lawan Guinea. Lantaran otak dan kaki sudah tidak singkron. Maklum, mereka sudah lebih dari satu bulan menjalani serangkaian pertandingan.

“Waktu lawan Guinea saya masuk sekitar menit 57. Cuaca 13 derajat. Baru masuk, bibir dan tenggorokan sudah terasa kering. Apalagi anginnya juga lumayan kencang,” lanjutnya.

Namun, dia merasa perjuangan Indonesia U-23 sudah maksimal. Dari tim yang tidak diunggulkan, justru masuk empat besar Asia.

“Kalau saya, merasa puas masuk empat besar dan itu jadi sebuah sejarah. Hanya belum rezeki karena tidak bisa ke Olimpiade,” terangnya.

3 dari 5 halaman

Pertama Kali Lihat Shin Tae-yong Menangis

Setelah pertandingan play off Olimpiade, suasan ruang ganti Indonesia U-23 diselimuti kekecewaan. Sananta ikut meneteskan air mata. Karena dia melihat sang pelatih, Shin Tae-yong menangis karena perjuangannya menuju Olimpiade harus berakhir.

“Saat di ruang ganti, Coach Shin sempat memberikan motivasi. Dia menyampaikan kepada kami jangan menyesali kekalahan. Tapi, setelahnya saya melihat Coach Shin menangis. Saya juga tidak bisa menahan air mata karena rasa haru,” lanjutnya.

Selama membela Timnas Indonesia, Sananta baru kali ini melihat pelatih asal Korea Selatan tersebut menangis. Dia melihat Shin Tae-yong sudah menganggap timnya seperti keluarga.

“Dia pelatih yang serius saat latihan. Tidak suka jika melihat ada yang main-main waktu latihan. Tapi kalau di luar, suka juga bercanda,” lanjutnya.

Selain itu, Shin Tae-yong berhasil mengubah pola pikir pemain Indonesia. Dia menghilangkan rasa takut ketika akan berhadapan dengan tim seperti Australia, Korea Selatan dan lainnya.

“Setiap pertandingan, kami dibuat tidak takut. Harus dihadapi. Dia yang mengubah karakter pemain bisa seperti itu,” imbuhnya.

4 dari 5 halaman

Dua Kali Jadi Eksekutor saat Adu Penalti

Selain babak play-off Olimpiade, ada pertandingan lain yang sangat mendebarkan bagi Sananta, yakni saat perempat final Piala Asia U-23. Mereka berhasil mengalahkan Korea Selatan dengan cara yang tidak biasa.

Setelah imbang 2-2, Indonesia menang lewat adu penalti dengan skor 11-10. Dalam adu penalti, Sananta harus dua kali jadi eksekutor.

“Ini pertama kali bagi saya. Adu penalti sampai nendang dua kali. Biasanya, saya jadi penendang ketiga atau terakhir. Tapi di pertandingan itu ditunjuk jadi yang pertama,” katanya.

5 dari 5 halaman

Baca Al-Fatihah saat Adu Penalti

Untungnya, Sananta dua kali sukses menaklukkan kiper Korea Selatan. Tapi, tidak ada yang tahu jika jantung Sananta berdebar ketika melangkah maju jadi eksekutor.

“Saya jalan sambil baca-baca. Al-Fatihah, minta kepada Allah juga agar penalti saya jadi gol. Sejak awal, saya sudah yakin mau nendang ke arah mana. Meski sempat ditepis, Alhamdulillah tendangan pertama jadi gol,” katanya.

Saat menendang untuk kali kedua, rasa was-was makin menghantuinya. Jika gagal, langkah Indonesia langsung terhenti di babak itu.

“Waktu itu ragu mau tendang ke arah yang sama atau beda. Waktu sudah mau tendang, kiper sudah gerak dan saya ganti arah. Alhamdulillah masuk lagi. Kalaut tidak masuk, saya pasti sudah dikritik di media sosial,” katanya lalu tertawa.    

Video Populer

Foto Populer