Muncul Kekhawatiran Donald Trump Bisa Campur Tangan dalam Penentuan Final Piala Dunia 2030

FIFA bakal memutuskan Spanyol atau Maroko yang jadi tuan rumah final Piala Dunia 2030 dan Donald Trump dilaporkan menjadi sosok penting di belakangnya.

Bola.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan, kali ini muncul kekhawatiran mengenai potensi pengaruhnya terhadap penentuan tuan rumah final Piala Dunia 2030.

Sebelumnya, Trump diketahui turun tangan sehingga hukuman larangan bermain satu pertandingan yang diterima Folarin Balogun dibatalkan. Keputusan tersebut membuat penyerang Amerika Serikat itu tetap bisa tampil menghadapi Belgia pada perempat final Piala Dunia 2026 lalu.

Keputusan itu masih memicu perdebatan, meski Amerika Serikat dan Belgia sudah tersingkir dari Piala Dunia 2026.

Mantan wasit Piala Dunia, Jonas Eriksson, serta legenda Inggris, Gary Lineker, termasuk di antara sosok yang menyerukan agar Gianni Infantino mundur dari jabatan Presiden FIFA.

Dalam ulasan Talksport, perhatian kini beralih ke penentuan lokasi final Piala Dunia 2030, yang akan digelar di tiga benua dan enam negara, serta berpotensi diikuti 64 tim.

Uruguay, Argentina, dan Paraguay akan menjadi tuan rumah pertandingan-pertandingan awal. Setelah itu, turnamen berlanjut ke Portugal, Spanyol, dan Maroko. Spanyol serta Maroko sama-sama mengincar status sebagai tuan rumah partai final.

Hubungan dekat Trump dengan Infantino sejak setidaknya 2021, membuat namanya ikut dikaitkan dengan persaingan tersebut, terlebih di tengah ketegangan diplomatik Amerika Serikat dan Spanyol.

Infantino telah memindahkan sebagian operasional FIFA ke Trump Tower di New York. Ia juga pernah memberikan kartu merah seremonial serta penghargaan Peace Prize kepada Trump.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Maroko dan Spanyol Bersaing

Stadion Santiago Bernabeu yang telah direnovasi sempat menjadi favorit sebagai lokasi final Piala Dunia 2030. Selain itu, Camp Nou dan Stadion Hassan II yang masih dalam tahap pembangunan di Maroko juga masuk persaingan.

Pengaruh Maroko disebut terus meningkat. Situs Spanyol, The Objective, melaporkan Raja Mohammed VI telah meluncurkan upaya lobi dengan melibatkan Duta Besar Maroko untuk Amerika Serikat, Youssef Amrani, serta Presiden Federasi Sepak Bola Maroko (FRMF), Fouzi Lekjaa.

Federasi sepak bola di Afrika, Asia, Amerika Utara, dan Oseania disebut berpotensi memberikan dukungan terhadap pencalonan Maroko. Di sisi lain, pemerintahan Trump dinilai bisa menjadi sekutu penting.

Trump sebelumnya mendukung kedaulatan Maroko atas Sahara Barat yang masih menjadi sengketa politik. Ia juga mendapat kritik dari pemerintah Spanyol terkait kebijakannya terhadap Iran dan Palestina.

Sebagai respons, Trump mengancam akan memutus hubungan dengan Spanyol yang merupakan satu di antara mitra utama NATO.

Program radio olahraga Spanyol, El Partidazo de COPE, mengklaim para petinggi sepak bola mulai mencermati potensi pengaruh Trump menjelang penentuan tuan rumah final Piala Dunia 2030.

Menurut Infobae, Direktur El Partidazo de COPE, Juanma Castano, menyebut Trump diduga memberikan tekanan agar Maroko menjadi tuan rumah final karena hubungan dekat negara tersebut dengan Amerika Serikat.

Akan tetapi, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF). FIFA maupun Gedung Putih juga belum memberikan komentar terkait klaim tersebut, dan sejauh ini belum ada bukti yang mendukung tuduhan itu.

UEFA Kritik Gianni Infantino

Di sisi lain, Infantino terus menghadapi desakan untuk mundur dan hubungannya dengan UEFA disebut makin panas.

Mantan wasit Jonas Eriksson menilai negara-negara Eropa perlu bersatu menghadapi FIFA.

"Saya pikir bukan hanya satu, dua, atau tiga negara yang harus memiliki pandangan berbeda. Satu benua, satu konfederasi seperti UEFA harus bersatu," ujar Eriksson kepada talkSPORT.

Menurut Eriksson, perbedaan sikap FIFA dan UEFA kian terlihat dalam berbagai persoalan. Ia juga menilai jika hanya satu atau dua negara yang menentang FIFA, mereka berisiko menghadapi konsekuensi politik.

"Namun, jika satu benua yang kuat seperti UEFA bersatu, saya pikir FIFA harus menerima bahwa ini sudah mencapai batasnya. Situasi ini tidak baik untuk sepak bola maupun integritas olahraga," katanya.

Eriksson juga menyebut satu di antara bentuk konsekuensi yang mungkin terjadi adalah hilangnya kesempatan negara anggota UEFA menjadi tuan rumah final Piala Dunia.

Wacana Piala Dunia 64 Tim

Sementara itu, Infantino masih berencana melanjutkan pembahasan mengenai kemungkinan penambahan peserta Piala Dunia dari 48 menjadi 64 tim.

Menurutnya, usulan tersebut akan dibahas setelah Piala Dunia 2026 berakhir.

"Ini tentu menjadi isu yang akan diteliti dan dibahas di komite terkait setelah Piala Dunia ini," ujar Infantino kepada Bluewin.

"Ketika menyelenggarakan Piala Dunia, penting untuk menggelarnya bagi seluruh dunia, bukan hanya Eropa dan Amerika Selatan."

"Setiap negara harus memiliki mimpi untuk tampil di Piala Dunia. Kualitas tim-tim sekarang sangat tinggi dan terus meningkat di seluruh dunia," katanya.

"Jika negara-negara yang lebih kecil tidak diberi kesempatan tampil di Piala Dunia, mereka akan kehilangan motivasi untuk terus berkembang," imbuhnya.

 

Sumber: Talksport

Video Populer

Foto Populer