Menanti Sentuhan Magis Geoffrey Kondogbia di Inter Milan

oleh Juprianto Alexander Sianipar diperbarui 28 Jul 2015, 06:20 WIB
BERSINAR - Geoffrey Kondogbia diharapkan dapat bersinar bersama Inter Milan di musim depan. (Twitter)

Bola.com, Jakarta - Inter Milan menjadi klub yang beruntung di bursa transfer musim ini. Bagaimana tidak, La Beneamata berhasil mendapatkan salah satu permata sepak bola Prancis, Geoffrey Kondogbia.

Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, gelandang bertahan dengan postur menjulang, 188 cm, terbilang kenyang pengalaman. Tiga klub berbeda (Lens, Sevilla, dan AS Monaco) sudah pernah dibelanya. Hingga akhirnya, ia memutuskan hijrah ke Inter Milan musim panas ini dengan nilai transfer yang terbilang mahal untuk pemain seusianya, 35 juta euro (Rp 519 miliar).

Advertisement

Proses tim milik pengusaha Indonesia, Erick Thohir mendapatkan Kondogbia juga jauh dari kata mudah. Maklum, Inter harus saling sikut dengan AC Milan, yang kebetulan juga terpincut dengan bakat besar pemuda kelahiran Nemours, Prancis ini.

Adu taktik dan strategi pun terjadi di antara dua rival sekota ini. Bedanya, adu taktik dan strategi ini tidak terjadi di lapangan melainkan terjadi di bursa transfer. Tujuannya hanya satu memastikan Kondogbia memilih bermain di Giuseppe Meazza atau San Siro musim depan.

Rossoneri, seperti biasa mengutus sang guru transfer, Adriano Galliani untuk melakukan negosiasi dengan AS Monaco dan Kondogbia. Sedangkan Inter mengutus dua orang terbaiknya, Piero Ausilio (Direktur Teknik) dan Marco Fassone (Direktur Umum).

Singkat cerita, Inter berhasil memenangi perburuan Kondogbia dan sang pemain akan tinggal di Meazza selama lima tahun usai lolos tes medis. Di sisi lain, Milan tidak terima dan Galliani menyebut Monaco telah mengingkari perjanjian.

"Kesepakatan dengan Geoffrey sudah beres pada malam sebelumnya dan dikonfirmasi pada pagi hari yang sama olehnya dan ayahnya," kata Galliani dengan nada kecewa, beberapa waktu lalu.

Lantas, kenapa dua rival sekota itu begitu ngebet ingin memboyong pemain yang sempat menjadi incaran beberapa tim Premier League macam Arsenal dan Liverpool ini? Jawabannya ada pada segudang kualitas yang dimiliki pemain yang dibesarkan akademi RC Lens ini.

Kondogbia memang tidak rajin mencetak gol seperti apa yang dilakukan kompatriotnya di timnas Prancis, Paul Pogba bersama Juventus. Sejak memutuskan jadi pemain profesional lima tahun silam, baru empat gol dikemas adik dari Evans Kondogbia, striker yang bermain di klub Ligue 2 Prancis, AC Arles-Avignon.

Namun demikian, fakta itu bisa dimaklumi mengingat Kondogbia merupakan pemain yang lebih kuat dalam bertahan ketimbang membantu serangan. Kemampuan hebat Kondogbia dalam bertahan pulalah yang membuat Inter berani merogoh kocek hingga 35 juta euro.

Musim lalu, pemain yang turun dalam 23 pertandingan bersama Monaco di pentas Ligue 1 mencatat rata-rata 3,1 tekel, 2,5 intersepsi, 0,4 umpan kunci, dribble 1,7 dan 86,2 persen akurasi umpan dalam satu pertandingan. Statistik yang terbilang apik.

Tekel, dribel, dan umpan merupakan senjata Kondogbia dalam setiap pertandingan. Tiga kelebihan anak muda asal Prancis itu pula yang diharapkan allenatore Inter, Roberto Mancini bisa mengubah nasib timnya di Serie A musim ini setelah gagal mengamankan tiket tampil di kompetisi Eropa musim 2015-2016.

Dari tim yang finis di peringkat delapan musim lalu menjadi tim yang syukur-syukur bisa bersaing untuk memperebutkan satu slot ke Liga Champions musim depan. Tiket ke Liga Champions lebih realistis bagi Inter ketimbang target Mancini yang berambisi mematahkan dominasi Juventus, penguasa Serie A empat musim terakhir.

"Ia akan menjadi pemain terbaik di dunia. Setelah satu atau dua nama besar di posisinya di dunia, ia adalah yang berikutnya dalam daftar tersebut," ucap Mancio memuji. "Kami melakukan pengorbanan besar untuk mendapatkannya dan kami telah mendapatkan pemain yang sangat bagus."

Kondogbia diprediksi bisa sehebat Pogba, Arturo Vidal, dan Yaya Toure. Malah, bukan tidak mungkin, ia bisa menyamai kualitas yang dimiiki mantan pemain Arsenal dan timnas Prancis, Patrick Vieira, pemain yang berposisi sama dengan dirinya.

Di masanya, Vieira merupakan tipikal gelandang bertahan dengan kemampuan komplet. Ia sulit dilewati lawan karena memiliki postur menjulang, memiliki kemampuan tekel di atas rata-rata, dan juga kelebihan membangun serangan dari lini belakang. Kualitas Vieira yang juga pernah berkostum Inter mirip dengan apa yang dimiliki Kondogbia saat ini.

Lalu, akan seberapa besar pengaruh kehadiran Kondogbia bagi lini tengah Inter? Jika itu pertanyaannya, maka rasanya tidak sulit bagi pemain yang sudah mengoleksi empat caps bersama Tim Ayam Jantan memberikan dampak signifikan bagi lini tengah I Nerrazzurri.

Gambaran paling sederhana dari kehebatan Kondogbia bisa dilihat dari pencapaian Monaco musim lalu. Tim asuhan Leonardo Jardim mampu finis ketiga di pentas Ligue 1 dan melaju hingga perempat final Liga Champions.

Sukses menyingkirkan Arsenal pada babak 16 besar, langkah Les Rouges et Blancs terhenti di tangan runner-up Liga Champions musim 2014-15, Juventus. Meski tersingkir, Kondogbia mendapatkan pengakuan atas kualitas yang dimilikinya usai disematkan gelar man of the match di leg kedua perempat final.

Di Inter, sepertinya Kondogbia akan mendapatkan peran berbeda yakni sebagai gelandang yang naik turun membantu serangan dalam formasi 4-4-2 diamond yang agaknya akan diandalkan Mancini musim depan. Ini jika merujuk pada peran yang diberikan sang pelatih kepada Kondogbia saat meladeni Carpi, Bayern Munchen, dan AC Milan di International Champions Cup 2015.

Ia selalu bermain di posisi gelandang tengah kiri ditemani oleh Marcelo Brozovic dan Hernanes yang menempati posisi gelandang serang. Sedangkan pos gelandang bertahan dipercayakan Mancini kepada pemain serbabisa Mateo Kovacic. 

Agaknya, Mancini tergiur ingin melihat sejauh mana potensi Kondogbia bisa mengaplikasikan kelebihannya dalam memasok umpan ke lini depan dan melakukan dribble saat membantu serangan Inter.

Namun, bukan tidak mungkin posisi baru ini akan membuat nama Kondogbia kian harum di Italia maupun Eropa. Persis seperti prediksi mantan pelatih timnas Prancis, Raymond Domenech yang menyebut Kondogbia bisa menyamai kehebatan Pogba, rekan setimnya saat Prancis U-20 meraih gelar Piala Dunia dengan mengalahkan Uruguay lewat adu penalti, dua tahun lalu.

"Pogba merupakan pemain yang mempunyai kualitas bagus. Tapi Kondogbia tidak kalah dengan dia. Kondogbia mempunyai potensi untuk jadi pemain bintang," ucap Domenech.

Kini, publik pun menunggu apakah Kondogbia pantas menyandang status sebagai 'Vieira' baru? Menarik untuk ditunggu.

Foto dok. Bola.com

Baca Juga:

Bursa Transfer : Kondogbia Disambut Fanatisme Fans Inter Milan Kondogbia Gabung Inter Bukan karena Uang

Geoffrey Kondogbia Ternyata Fans Berat Kartun "One Piece"