Wawancara Didik Ludiyanto: "Ada Anomali di Persela"

oleh Zaidan Nazarul diperbarui 10 Agu 2015, 16:30 WIB
ANOMALI - Didik Ludiyanto mengakui ada sebuah ketidakwajaran di Persela. (Bola.com/Zaidan Nazarul)

Bola.com, Lamongan - Piala Presiden mulai bergulir 30 Agustus 2015. Turnamen pramusim ISL 2015-2016 garapan Mahaka Sports and Entertainment ini dijadwalkan berlangsung selama 50 hari. Sebanyak 16 klub terbagi ke dalam empat grup, yang akan bermain di empat kota besar, yakni Bali, Makassar, Malang, dan Bandung.

Mayoritas kontestan sudah bersiap. Namun, bila melihat kontestan lain, persiapan yang dilakukan Persela Lamongan tergolong lebih singkat. Mereka baru mulai berlatih Senin (10/8/2015) ini. Hanya, klub berjulukan Laskar Joko Tingkir ini punya percaya diri bakal tampil sama baiknya dengan kontestan lain yang menggelar persiapan lebih panjang.

Advertisement

Pelatih Persela, Didik Ludiyanto, optimistis anak asuhannya bisa berbicara banyak di turnamen ini. Apa yang mendasari kepercayaan diri itu? Berikut penuturan Didik Ludianto kepada Bola.com di Lamongan, termasuk bagaimana kondisi terkini Persela.

Sebagai pelatih apa target personal Anda di Piala Presiden?

Sama dengan manajemen, saya sangat realistis. Semua tergantung situasi dan kondisi tim ini. Fokus bagaimana caranya lolos dari fase grup dulu, baru berpikir selanjutnya.

Anda kurang yakin dengan kekuatan Persela kali ini?

Tidak juga, saya sangat optimistis. Meski persiapan tim lebih pendek ketimbang beberapa tim lain, kami memiliki apa yang mungkin tidak dimiliki tim lain.

Apa itu?

Suasana kekeluargaan dan kebersamaan di tim. Kami sangat kompak di dalam dan di luar lapangan. Sebuah anomali jika melihat kondisi keuangan di tim ini. Saya sebut tidak normal karena pemain mau berkumpul meski apa yang mereka dapatkan jauh lebih sedikit jika mereka mau bergabung dengan tim lain.

Berapa dana yang disiapkan untuk mendanai tim di Piala Presiden?

Tak perlu saya sebutkan, tapi sekadar diketahui, pemain datang dengan biaya sendiri. Rasa memiliki pada tim ini sudah di luar kewajaran. Jika tekad sebesar ini ada di dada mereka, saya yakin kami akan tampil solid di turnamen nanti.

Apa yang membuat pemain mau berkorban sebesar itu?

Kami membangun tim ini dengan semangat kekeluargaan. Saya dan pemain punya kedekatan emosional yang sangat kuat. Terkadang saya memposisikan diri sebagai pelatih, sahabat, maupun ayah, menyesuaikan situasi dan tempat. Namun, tipisnya batasan itu tidak mengurangi rasa hormat pemain pada pelatih, begitu pun sebaliknya. Kami saling mengerti saja.

Berapa pemain yang Anda butuhkan?

Saya butuh sekitar 22 pemain, minus pemain asing. Untuk tambahan pemain masih melihat siapa saja yang benar-benar mau gabung dan tidak. Sebab dari 20 pemain yang saya hubungi, semuanya menyatakan kesanggupannya. Jika dalam tiga hari ke depan 20 pemain itu hadir, kami hanya perlu menambah dua pemain saja. Kalau kurang dari itu, kami sesuaikan dengan kuota.

Kenapa tidak menggunakan pemain asing? Saya rasa dengan kondisi keuangan seperti ini, pemain asing tidak akan mau. Jadi lebih baik kami hanya panggil pemain lokal saja. Sementara untuk tambahan pemain bisa kami ambil dari tim Porprov Lamongan atau mantan pemain Persela U-21. 

Kalau boleh memilih, Persela lebih senang berada satu grup dengan siapa?

Kami tidak pilih lawan, semua lawan kami anggap berat. Sebab kami punya pengalaman bagus saat tampil di Piala SCM Cup lalu. Saat itu, kami keluar sebagai juara grup meski dikepung tiga tim kuat semacam Arema Cronus, Persipura, dan Mitra Kukar. Semua tahu, mereka memiliki materi yang lebih mengilap dibanding kami, tapi kami mampu mengalahkan mereka.

Baca Juga :

Wawancara Pelatih PSM: Tekad Kembalikan Nama Besar Juku Eja

Wawancara Ryuji Utomo Prabowo: Terkejut Diajak Main di Bahrain

Wawancara Zulham Zamrun: "Etikanya Saya Bicara ke Persipura Dulu"