4 Alasan Alfred Riedl Pilihan Tepat Latih Timnas Indonesia

oleh Aning Jati diperbarui 11 Jun 2016, 20:00 WIB
Bola.com merangkum empat alasan mengapa penunjukan Alfred Riedl sebagai pelatih Timnas Indonesia dianggap tepat. (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Penunjukan Alfred Riedl sebagai pelatih Timnas Indonesia untuk ketiga kalinya dalam enam tahun terakhir masih menyisakan pro dan kontra di kalangan pencinta sepak bola nasional.

Silang pendapat, terutama yang muncul di jejaring sosial di dunia maya, merebak. Masing-masing memiliki pendapat yang diyakini benar, terkait apakah penunjukan pelatih asal Austria itu jadi pelatih Tim Merah-Putih merupakan keputusan tepat atau justru kekeliruan besar.

Pada kenyataannya, pro dan kontra itu sudah diprediksi PSSI. Dalam sesi konferensi pers yang digelar di Kantor PSSI, Jakarta, Jumat (10/6/2016), Plt. Ketua Umum PSSI, Hinca Panjaitan, menyadari keputusan PSSI menunjuk pelatih asal Austria itu akan membuat kalangan penikmat olahraga si kulit bundar di Tanah Air ramai dengan pro dan kontra.

Advertisement

Pasalnya, sebelumnya Komite Teknik dan Pengembangan PSSI berserta tim panelis sudah melakukan fit and proper test terhadap tiga pelatih yang jadi kandidat, yakni Rahmad Darmawan, Nilmaizar, dan Indra Sjafri.

Alhasil, PSSI terkesan asal tunjuk dan tidak konsisten dengan kebijakan yang sudah diterapkannya. Namun, Hinca menegaskan penunjukan Alfred Riedl kembali menduduki kursi panas pelatih Tim Garuda sudah melalui pertimbangan matang.

"Dalam waktu singkat PSSI harus bekerja cepat mempersiapkan Timnas. Langkah paling logis adalah dengan menunjuk Alfred Riedl sebagai pelatih Timnas Indonesia," jelas Hinca.

Nah, bila bola.com sudah merangkum hal apa saja yang membuat Alfred Riedl dianggap tidak tepat kembali menduduki jabatan pelatih kepala Timnas Indonesia, kali ini bola.com menyajikan hal yang membuat pelatih 66 tahun dianggap sosok tepat menahkodai Tim Garuda:

2 dari 5 halaman

1

1. Sudah pernah jadi pelatih Timnas Indonesia

Dua kali melatih Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2010 dan 2014 tak bisa dimungkiri jadi nilai tambah Alfred Riedl. Dalam kurun waktu enam tahun, perkembangan sepak bola Indonesia memang mengalami perubahan. Namun, Alfred tercatat baru "meninggalkan" sepak bola Indonesia setahun terakhir.

Pasalnya, selepas gagal membawa Tim Merah-Putih melangkah lebih jauh di Piala AFF 2014, Alfred dikontrak PSM Makassar yang bersiap tampil di ISL 2015. Hanya, belum sampai ISL 2015 bergulir, ia memutuskan mundur dengan alasan kondisi kesehatan.

Kendati sudah tidak terlibat dalam sepak bola Indonesia setahun terakhir, Alfred masih memiliki tangan kanan dalam staf kepelatihan, semisal Wolfgang Pikal, yang bisa memberinya informasi perihal perkembangan terkini sepak bola Indonesia. Termasuk, mengenai pemain-pemain yang layak masuk timnas.

Alfred Riedl dan Wolfgang Pikal. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Dalam waktu yang relatif mepet untuk mempersiapkan tim, pengalaman membesut Tim Garuda pada dua periode sebelumnya bakal berguna. Alfred dan tim pelatih tak butuh banyak waktu untuk saling beradaptasi dalam satu kesatuan.

Begitu juga pengetahuannya akan sepak bola Indonesia yang kerap dibumbui hal lain nonteknis di luar lapangan, sudah sering dihadapinya sehingga ia relatif paham bagaimana mengatasi itu semua dalam waktu pendek.

Belajar dari pengalaman di dua edisi sebelumnya, Alfred diyakini sudah hafal benar di mana kelemahan atau kekurangan timnas sehingga ia dan tim pelatih bisa menampilkan permainan yang lebih baik.

3 dari 5 halaman

2

2. Paham kekuatan sepak bola Asia Tenggara

Alfred Riedl seolah tak bisa lepas dari sepak bola Asia Tenggara. Pada 1998 ia memulai kiprahnya bersama timnas Vietnam selama tiga tahun, sebelum kembali lagi ke negara berjulukan Vietnam Rose itu pada 2004.

Setelah sempat diselingi jadi arsitek timnas Palestina, ia kembali ke Vietnam pada 2005. Selama tiga tahun ia berkiprah di negara yang punya julukan lain sebagai ladang 1000 ranjau itu. Pada 2009 ia bergeser menukangi timnas Laos, hingga pada 2010 terpilih mengarsiteki Timnas Indonesia di Piala AFF 2010.

Pelatih timnas Indonesia, Alfred Riedl (ketiga dari kiri) memberikan arahan pada Imanuel Wanggai (kedua dari kiri) di sela-sela latihan di lapangan SPH Karawaci, Tangerang (17/11/2014). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Kiprah Alfred di Indonesia berlanjut kala dualisme PSSI. Ketika itu Alfred dipanggil lagi untuk mempersiapkan Timnas Indonesia versi KPSI, berlaga di Piala AFF 2012. Namun, PSSI di bawah Djohar Arifin Husin kala itu mengirim tim nasional yang dilatih Nilmaizar ke penyisihan grup yang berlangsung di Malaysia.

Alfred kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan timnas jelang Piala AFF 2014. Singkat kata, Alfred dan Piala AFF bak berjodoh. Meski, pencapaiannya selama ini pada turnamen sepak bola regional Asia Tenggara itu hingga saat ini belum memuaskan.

Pelatih yang membawa Laos ke semifinal SEA Games untuk pertama kalinya itu tetap pantas mendapat kesempatan kembali membuktikan kemampuannya membaca peta persaingan di ASEAN untuk meracik taktik dan strategi yang bakal diterapkannya pada Pasukan Garuda di Piala AFF 2016.

4 dari 5 halaman

3

3. Bebas kontrak

Dari tiga kandidat pelatih yang diseleksi PSSI, yaitu Rahmad Darmawan, Nilmaizar, dan Indra Sjafri, semuanya masih terikat kontrak. Jadi bisa dibayangkan bagaimana repotnya PSSI harus melakukan lobi atau negosiasi dengan klub bersangkutan untuk melepaskan pelatihnya.

Bahkan Sekjen PSSI, Azwan Karim, sempat menyatakan kemungkinan pihaknya harus menebus kontrak pelatih jika memang ingin merekrut satu dari tiga kandidat itu. Padahal, kondisi keuangan PSSI sedang memprihatinkan karena selama setahun terakhir tidak memiliki aktivitas akibat dibekukan.

Nilmaizar memenuhi panggilan PSSI untuk menjalani fit and proper test sebagai pelatih Timnas Indonesia. Bila merekrut Nil, bisa jadi PSSI harus bernegosiasi dengan Semen Padang terkait ikatan kontrak Nil. (Bola.com/Juprianto Alexander)

Tiga calon pelatih itu seusai menjalani tes di depan tim ahli Komite Teknik dan Pengembangan PSSI, juga kompak menyatakan PSSI harus menyelesaikan urusan kontrak mereka terlebih dulu dengan klub.

Jadi, tidak mengherankan bila pada akhirnya PSSI menjatuhkan pilihan kepada Alfred Riedl. Seperti diketahui, usai menangani timnas Indonesia di Piala AFF 2014, Alfred Riedl menepi karena tersingkir di penyisihan grup.

Setelah itu Alfred Riedl sempat menangani PSM Makassar di awal ISL 2015. Tetapi, lantas mundur dengan alasan kesehatan. Sejak itu status Alfred Riedl sudah bebas kontrak, tidak terikat dengan pihak manapun. Alhasil, PSSI mudah untuk merekrutnya.

5 dari 5 halaman

4

4. Didukung Kelompok 85

Kendati berbau nonteknis, dukungan Kelompok 85 terhadap sosok Alfred Riedl punya dampak besar dalam persiapan Timnas Indonesia menuju Piala AFF 2016.

Seperti diketahui, nama Alfred Riedl sempat dimunculkan Edy Rahmayadi, Ketua Kelompok 85, pada akhir Mei lalu. Kelompok 85, yang mendesak digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI menilai Alfred merupakan kandidat paling pas mengisi kursi pelatih Timnas.

Pangkostrad TNI, Edy Rahmayady (tengah), Manager Persib Bandung, Umuh Muchtar (kiri) dan kelompok 85 berfoto bersama di Grand Rubina Business Park, Jakarta, Selasa (24/5/2016). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Dengan dukungan Kelompok 85, dipastikan seandainya KLB PSSI menghasilkan kepengurusan baru di PSSI, posisi Alfred sebagai pelatih tetap aman. Pasalnya, sebelum ini beredar rumor adanya kekhawatiran yang melanda Rahmad Darmawan, Nilmaizar, dan Indra Sjafri apabila terpilih sebagai pelatih, bakal dilengserkan oleh kepengurusan PSSI baru.

Selain itu, dukungan Kelompok 85 yang terdiri dari mayoritas klub ISL yang saat ini berlaga di turnamen garapan PT Gelora Trisula Semesta (GTS), TSC dan ISC B 2016, menjamin sinkronisasi jadwal pemusatan latihan dengan turnamen yang sedang berlangsung.

Restu dari Kelompok 85 terhadap Alfred juga diyakini memuluskan izin dari klub untuk melepas pemain yang dipanggil menjalani pemusatan latihan. Maklum, tarik ulur kepentingan klub dan timnas masih kerap terjadi di negeri ini.