4 Simbol Kehancuran Manchester United Musim Ini

oleh Ario Yosia diperbarui 23 Okt 2019, 10:30 WIB
Striker Manchester United (MU) Marcus Rashford merobek gawang Liverpool pada laga Liga Inggris di Old Trafford, Minggu (20/10/2019). (Twitter Man Utd)

Bola.com, Jakarta - Manchester United sedang mengalami periode terburuk sejak kepergian Sir Alex Ferguson. Sepanjang musim ini, tim Setan Merah hanya meraih tiga kali kemenangan.

Manchester United sudah lama tidak meraih kemenangan di semua ajang. Tim Setan Merah terakhir kali meraih kemenangan di semua ajang pada saat berhadapi Astana di Liga Europa.

Advertisement

Pada laga tersebut, Manchester United hanya mampu unggul satu gol saja atas utusan Kazakhstan tersebut.

Di Premier League, Manchester United bercokol di posisi ke-14 dengan raihan sepuluh poin. The Red Devils hanya berjarak dua poin dari jurang degradasi.

Dari segi permainan, Ole Gunnar Solskjaer seperti kehabisan strategi. Pelatih asal Norwegia tersebut hanya mengandalkan permainan dari sisi sayap tanpa memikirkan kreativitas di lini tengah.

Simbol-simbol kehancuran Manchester United di musim ini mulai terlihat. Cukup banyak faktor yang menyebabkan tim Setan Merah tidak berdaya menghadapi beberapa lawannya, baik di pentas lokal maupun Eropa. Berikut empat simbol kehancuran Manchester United di musim ini:

 

2 dari 5 halaman

Tak Ada Kreativitas di Lini Serang

Gelandang Manchester United, Daniel James, dijatuhkan gelandang Liverpool, Fabinho, pada laga Premier League di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (20/10). Kedua klub bermain imbang 1-1. (AFP/Oli Scarff)

Kurangnya kreativitas serangan menjadi salah satu penyebab minimnya raihan gol Manchester United. Ole Gunnar Solskjaer hanya mengandalkan sisi sayap Manchester United tanpa memanfaatkan kreativitas di lini tengah Setan Merah.

Solskjaer kerap menanfaatkan Daniel James dan Marcus Rashford di kedua sisi sayap Manchester United. Dengan skema tersebut, tim lawan dapat membaca alur serangan Manchester United.

Sedangkan, Jesse Lingard yang kerap menepati posisi gelandang serang Manchester United tidak mampu memberikan kreativitas serangan yang berarti. Bahkan, Solskjaer lebih sering menyimpan Juan Mata di bangku cadangan dan memasang Paul Pogba menjadi gelandang bertahan. Solskjaer harus segera merubah komposisi lini tengah demi menghadirkan kreativitas dalam melakukan serangan.

3 dari 5 halaman

Tak Punya Figur Pemimpin

Pemain Manchester United, Phil Jones, merayakan gol yang dicetak Paul Pogba ke gawang Fulham pada laga Premier League di Stadion Craven Cottage, London, Sabtu (9/2). Fulham kalah 0-3 dari MU. (AFP/Ian Kington)

Sejak kepergian pemain senior seperti Wayne Rooney dan Zlatan Ibrahimovic, Manchester United tidak memiliki sosok pemimpin dalam skuat. Pemain senior seperti Ashley Young, Juan Mata, dan David de Gea tidak mampu menjadi pemimpin sejatinya pedahulu mereka. Sosok seperti Roy Keane dan Nemanja Vidic sangat diperlukan dalam memimpin skuat Setan Merah.

4 dari 5 halaman

Rentetan Hasil Minor yang Tak Berkesudahan

Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, bersalaman dengan pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, usai laga Premier League di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (20/10). Kedua klub bermain imbang 1-1. (AFP/Oli Scarff)

Sepanjang musim ini, Manchester United hanya mampu meraih tiga kemenangan di semua ajang, dua diantaranya di ajang Premier League. Rasio kemenangan Setan Merah hanya sebesar 25 persen.

Sementara itu, Manchester United telah menelan tiga kali kekalahan di semua kompetisi. Tiga kekalahan tersebut berasal dari tim lemah seperti Crystal Palace, West Ham United, dan Newcastle United.

Sedangkan, Manchester United lebih sering meraih hasil imbang. Manchester United telah enam hasil imbang di semua kompetisi musim ini. Rasio hasil imbang Manchester United mencapai 50 persen. Sering kehilangan poin membuat Manchester United terpuruk di posisi ke-14 Premier League.

5 dari 5 halaman

Pelatih Minim Jam Terbang

Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, menyapa suporter usai melawan Wolverhampton pada laga Premier League di Stadion Molineux, Wolverhampton, Senin (19/8). Kedua klub bermain imbang 1-1. (AFP/Paul Ellis)

Saat ini, Manchester United diarsiteki eks manajer Cardiff City, Ole Gunnar Solskjaer. Solskjaer pernah meraih hasil buruk bersama tim asal Wales tersebut.

Bersama Cardiff, Solskjaer hanya mampu membawa sembilan kemenangan, lima hasil imbang dan 16 kekalahan dari total 30 pertandingan. Solskjaer tidak mampu membawa Cardiff selamat dari jurang degradasi setelah megakhiri musim di posisi ke-20. Hal ini membuat para fans Manchester United was-was melihat klub kebanggan mereka terancam terdegradasi musim ini. (Bola.com/Tegar Juel)