8 Transfer Paling Aneh dalam Sejarah Sepak Bola Dunia

Ini dia delapan transfer paling aneh dalam sejarah sepak bola dunia.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 27 Juli 2025, 11:00 WIB
Lazio siap menyelamatkan karier bek Chelsea, Papy Djilobodji, pada bursa transfer Januari 2016. (Chelseafc.com)

Bola.com, Jakarta - Jendela bursa transfer musim panas di Eropa selalu seru. Beberapa klub berlomba-lomba mendatangkan pemain untuk membangun kekuatan.

Ya, kedatangan para pemain saat bursa transfer tentunya sangat membantu klub untuk menjalani musim berikutnya.

Advertisement

Dalam bursa transfer terkadang menghadirkan berbagai cerita yang unik dan tak terduga. Transfer janggal tersebutlah yang terkadang masuk dalam kategori aneh.

Bisanya para klub mendatangkan pemain yang tak disangka-sangka atau tidak terlalu dibutuhkan karena mempunyai stok pemain banyak. Alhasil, transfer pemain tersebut dianggap sia-sia.

Siapa saja pemain serta klub yang pernah melakukan transfer aneh? Berikut ini Bola.com merangkum dari Give Me Sports, 8 transfer pemain paling aneh dalam sejarah.


1. Julien Faubert ke Real Madrid

Mantan pemain Real Madrid, Julien Faubert. (AFP/Pierre-Philippe Marcou)

Real Madrid pernah melakukan transfer yang bisa dibilang aneh cukup aneh. Faubert yang berposisi sebagai bek kanan hanya bermain sebanyak dua kali.

Itu dikarenakan Real Madrid sudah mempunyai tiga pemain yang bisa dipasang sebagai bek kanan. Ketiga pemain tersebut ialah Sergio Ramos, Michel Salgado dan Miguel Torres.

Kendati demikian, Real Madrid justru tetap merekrut Julian Faubert. Menariknya, Faubert pernah memperkuat klub asal Indonesia, Borneo FC, pada 2018.


2. Papy Djilobodji ke Chelsea

Chelsea juga pernah melakukan transfer aneh saat merekrut bek tengah asal Senegal, Papy Djilobodji. The Blues secara tiba-tiba mendatangkan Papy Djilobodji.

Padahal, Chelsea sudah mempunyai empat pemain yang yang berposisi sebagai bek tengah. Keempat pemain tersebut ialah Kurt Zouma, Gary Cahill, Branislav Ivanovic, hingga John Terry.

Kondisi tersebut pun membuat Papy Djilobodji kesulitan menembus skuat utama Chelsea selama empat musim bersama Chelsea.


3. Roberto Mancini ke Leicester City

Pelatih Italia, Roberto Mancini menginstruksikan pemainnya saat bertanding melawan Italia pertandingan UEFA Nations League di Stadion San Siro di Milan (17/11). Portugal meraih poin sembilan sedangkan Italia lima. (AFP Photo/Marco Bertorello)

Eks pelatih Manchester City, Roberto Mancini melakoni debut di Premier League sebagai pemain saat berusia 36 tahun. Kala itu, Mancini bergabung dengan Leicester City.

Umurnya yang sudah tak muda lagi membuatnya tak bisa bermain selama 90 menit. Alhasil, Mancini hanya mencatatkan tiga penampilan bersama The Foxes sebelum gantung sepatu.


4. Javier Mascherano dan Carlos Tevez ke West Ham United

Carlos Tevez - Peran penyerang asal Argentina ini sangat besar saat membawa Manchester United meraih gelar Liga Champions 2008/09. Selama di Old Trafford Tevez memenangi dua Liga Inggris, satu Piala Liga, Piala Dunia Klub dan Liga Champions. (AFP/Paul Ellis)

Javier Mascherano dan Carlos Tevez bisa dibilang pemain yang masuk kategori bintang. Kedua termasuk pemain berbakat dari Amerika Selatan.

Namun, Javier Mascherano dan Carlos Tevez secara mengejutkan bergabung dengan klub papan tengah Premier League, West Ham United.

Setelah itu, Tevez akhirnya bermain untuk klub besar seperti Juventus, Manchester United. Sementara Mascherano membela Liverpool dan Barcelona.


5. Juninho Paulista ke Middlesbrough

Legenda Timnas Brasil Juninho Paulista, Edilson dan Denilson (ki-ka) merayakan kemenangan di Sao Luis, Brasil. Edilson, salah satu dari 11 orang yang didakwa dengan kasus penipuan, pemalsuan dokumen publik, korupsi dan pencucian uang. (AFP/ANTONIO SCORZA)

Banyak yang tak menyangka, pemain yang cukup dikenal dengan tendangan bebasnya, Juninho, justru memilih klub seperti Middlesbrough. Padahal, ada klub lain, yakni Sao Paolo yang juga berminat meminangnya.


6. Nicklas Bendtner ke Juventus

Pemain Denmark Nicklas Bendtner (tengah) berebut bola dengan para pemain Swedia pada laga kualifikasi piala Eropa Prancis 2016 di Stadion Parken, Kopenhagen,Rabu (18/11/2015) dini hari WIB. (AFP Photo/Jonathan Nackstrand)

Nicklas Bendtner pernah dianggap sebagai satu di antara pemain muda Arsenal paling potensial. Hal itu ia buktikan saat mencetak 14 gol pada musim 2008-2009.

Namun, seiring berjalannya waktu performanya terus menurun dan kerap melakukan hal konyol serta kontroversial. Menariknya hal tersebut tak menjadi perhatian Juventus.

Nyonya Tua pernah mendatangkan Nicklas Bendtner pada musim 2012-2013. Saat merekrut Nicklas Bendtner, Bianconeri sudah memiliki empat penyerang, yakni Mirko Vucinic, Nicolas Anelka, Fabio Quagriarella, dan Alessandro Matri.

Selama berkostum Juventus Bendtner hanya mencatatkan 9 penampilan. Kendati minim bermain, Bendtner justru ikut merasakan gelar Scudetto yang diraih Juventus.


7. Kevin-Prince Boateng ke Barcelona

Barcelona resmi mengumumkan Kevin-Prince Boateng sebagai rekrutan anyara pada bursa transfer Januari 2019. (AFP/Lluis Gene)

Kedatangan Kevin-Prince Boateng ke Barcelona pada bursa transfer musim dingin 2019 bisa dibilang mengejutkan. Hampir tak ada rumor yang menyebutkan sang pemain akan merapat ke Camp Nou.

Transfer tersebut dianggap aneh karena masa keemasan Kevin-Prince Boateng dianggap sudah berakhir. Puncak karier Kevin-Prince Boateng ialah saat merasakan gelar Serie A bersama AC Milan pada 2010-2011.

Setelah itu, Kevin-Prince Boateng memperkuat klub seperti Sassuolo dan Schalke 04. Saat ini, pemain asal Ghana itu bermain untuk klub Serie A, Fiorentina.


8. Julio Cesar ke Queens Park Rangers

Kiper Brasil, Julio Cesar dan Dante tampak lesu usai ditaklukkan Jerman pada laga semifinal Piala Dunia 2014 di Stadion The Mineirao (8/7/2014). Jerman menang 7-1 atas Brasil. (AFP/Gabriel Bouys)

Julio Cesar bisa dibilang merupakan satu di antara kiper sukses asal Brasil. Julio Cesar pernah merasakan gelar Liga Champions bersama Inter Milan pada 2010.

Tak hanya itu, ia kerap menjadi penjaga gawang utama Brasil, terutama saat Piala Dunia. Namun, kesuksesan tersebut tak berlanjut saat Julio Cesar secara mengejutkan pindah ke klub asal Inggris, Queens Park Rengers.

Menariknya, QPR harus terdegradai ke kasta kedua liga Inggris saat Julio Cesar memperkuat klub tersebut. Setelah QPR degradasi, Julio Cesar hengkang ke Toronto FC sebelum bergabung dengan Benfica.

Berita Terkait