Kumpulan Kecaman Pedas Pemain, Pelatih, dan Legenda terhadap Liga Super Eropa: dari Eric Cantona hingga Marcelo Bielsa

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 20 Apr 2021, 14:30 WIB
7. Eric Cantona (1996-1997), pemain iconic bagi publik Old Trafford. Meski tak lama namun gelandang asal Prancis ini cukup memberikan kesan mendalam bagi para pecinta Manchester United. (www.ryangiggs.cc)

Bola.com, Jakarta - Dunia sepak bola khususnya Eropa sedang gaduh. Adalah pengumuman sejumlah tim yang akan membuat turnamen baru bertajuk European Super League atau Liga Super Eropa.

Tentu saja gagasan Liga Super Eropa itu mengundang polemik dan telah ditentang dari banyak kalangan. Walaupun demikian, rencananya akan tetap berjalan.

Advertisement

Akan tetapi, belum diketahui secara pasti kapan kompetisi European Super League atau Liga Super Eropa bakal digelar. Pesertanya pun belum mencapai kuota yang tersedia.

Sebanyak 12 klub telah menyatakan keikutsertaannya dalam pentas European Super League atau Liga Super Eropa. Mereka yaitu Juventus, Inter Milan, AC Milan, Barcelona, Real Madrid, Atletico Madrid, Manchester United, Manchester City, Chelsea, Arsenal, Liverpool, dan Tottenham Hotspur. 

Ide Liga Super Eropa itu mendapat kecaman yang luas dari suporter, pemain, pelatih, hingga legenda klub. Berikut ini beberapa di antaranya. 

2 dari 9 halaman

1. Dani Alves

Bek Barcelona, Dani Alves, merayakan gol ke gawang Villanovense pada babak 32 besar Copa del Rey di Camp Nou, Barcelona, Kamis (3/12/2015) dini hari WIB. (AFP/Lluis Gene)

"Sepak bola dulu, sedang, dan akan selalu menjadi olahraga yang mengubah kehidupan," tulis mantan bek Barcelona yang kini bermain di Sao Paolo itu di akun Twitter resminya.

“Kita tidak boleh membiarkan para elite merusak kemungkinan anak kecil yang bermimpi menjadi besar!!"

3 dari 9 halaman

2. Marcelo Bielsa (Pelatih Leeds United)

Manajer tim Leeds United, Marcelo Bielsa kecewa dengan penampilan timnya saat menghadapi Arsenal dalam laga lanjutan Liga Inggris 2020/21 pekan ke-24 di Emirates Stadium, London, Minggu (14/2/2021). Leeds United kalah 2-4 dari Arsenal. (AP/Adam Davy/Pool)

“Tentu saja itu membahayakan sepak bola. Ini seharusnya tidak mengejutkan kita semua," kata pelatih Leeds United, Marcelo Bielsa, seperti dilansir Guardian

“Tim yang lebih kuat ini berpikir mereka memiliki pengaruh paling besar dan menghasilkan sebagian besar pendapatan dalam sepak bola." 

“Mempertimbangkan logika ini, ketika tim yang lain tidak lagi diperlukan untuk mereka, mereka mengambil hak istimewa untuk kepentingan mereka sendiri dan melupakan yang lain."

"Logika di dunia saat ini adalah bahwa orang kaya menjadi kaya dengan mengorbankan orang miskin. Dan kemudian mereka menuntut lebih banyak hak istimewa." 

“Tapi karena sepakbola memiliki pandangan yang selalu lebih komersial sekarang, wajar jika dalam dunia bisnis, melihat hanya dari aspek ekonomi, mereka menuntut mayoritas."

“Sepak bola adalah milik semua orang, bahkan jika ada pemiliknya, pemilik sebenarnya dari sepak bola adalah orang-orang yang menyukai lencana dan tanpa mereka sepak bola akan hilang.”

4 dari 9 halaman

3. Eric Cantona (Legenda Manchester United)

3. Eric Cantona pernah menggunakan ban kapten di Manchester United. Dia setahun menjadi pemimpin lapangan pada 1996-1997.(AFP/Gerry Penny)

“Saya ingin mengatakan sesuatu tentang Liga Super Eropa,” kata legenda Manchester United Eric Cantona, seperti dilansir Manchester Evening News.

“Sejak satu tahun kami telah melihat pertandingan di TV dengan klub-klub terbaik di dunia dan para pemain terbaik di dunia, dan itu sangat membosankan, dan itu masih sangat membosankan, karena para penggemar tidak ada - para penggemar bernyanyi, melompat, mendukung tim mereka."

“Fans adalah hal terpenting dalam sepak bola. Mereka harus dihormati. Apakah klub-klub besar ini menanyakan pendapat mereka (fans) tentang ide ini? Tidak, sayangnya, dan itu memalukan," tegas pria asal Prancis itu. 

5 dari 9 halaman

4.

Gary Neville (AFP/ Andrew Yates)

"Sungguh memalukan. Itu tidak akan pernah terjadi. Biarkan mereka melepaskan diri tapi, hukum mereka. Hukum saja mereka," kata legenda Manchester United, Gary Neville kepada Sky Sports.

"Jika mereka mengumumkan letter of intent maka mereka harus dihukum dengan berat. Denda besar, pengurangan poin, ambil gelar yang diraih, siapa yang peduli?"

"Beri gelar juara [Premier League] Burnley, Fulham. Biarkan Fulham bertahan dan degradasi kan saja Manchester United, Liverpool dan Arsenal," sambung mantan kapten MU itu.

  

6 dari 9 halaman

5. Jamie Carragher

Mantan Pemain Liverpool, Jamie Carragher. (EPA/Peter Powell)

"Semakin banyak saya membaca tentang proposal Liga Super Eropa, tampaknya pemilik Liverpool semakin menyukai stadion kosong karena semua yang telah mereka lakukan adalah meningkatkan kemungkinan pemogokan massal lagi," kata legenda Liverpool, Jamie Carragher, seperti dilansir Goal Internasional. 

"Pertandingan Liverpool melawan Leeds United pada Senin malam sangat tepat untuk mengungkap kegilaan ide kompetisi tertutup itu. Ini adalah pertandingan dengan potensi konsekuensi besar untuk kualifikasi Liga Champions, penuh bahaya, dan drama."

"Jutaan orang akan menonton karena alasan itu, emosi akan terus meningkat, apa pun hasilnya. Kegembiraan yang sama akan menyertai semua sisa tujuh pertandingan Liverpool, itulah sebabnya televisi membayar jutaan untuk mereka."

"Itulah keindahan sepak bola liga - di mana setiap tindakan dan poin penting. Itulah sebabnya, sebagai mantan pemain Liverpool, sangat memuakkan bagi saya karena reputasi klub saya dirusak oleh arogansi kelompok kepemilikan yang ingin menghapus momen seperti itu, menciptakan budaya di mana kita tidak perlu lagi berjuang untuk meraih kesuksesan. Itu antitesis dari semua yang saya pahami tentang sepak bola - terutama di kota saya - untuk diperjuangkan," imbuh dia. 

 

7 dari 9 halaman

6. Mesut Ozil

Pemain anyar Fenerbahce, Mesut Ozil melambaikan tangan saat menghadiri pertandingan timnya melawan Kaysersispor dalam lanjutan Turkish Super League di Istanbul, Senin (25/1/2021). (Foto: AFP/Ozan Kose)

“Anak-anak tumbuh dengan mimpi memenangkan Piala Dunia dan Liga Champions, bukan Liga Super Eropa,” cuit mantan pemain Arsenal yang kini membela Fenerbahce, Mesut Ozil, di Twitter, Selasa (20/4/2021).

 “Kenikmatan pertandingan besar adalah hanya terjadi sekali atau dua kali dalam setahun, tidak setiap pekan. Sangat sulit dipahami untuk semua penggemar sepak bola di luar sana,” imbuh dia.

8 dari 9 halaman

7. Ander Herrera

Gelandang RB Leipzig, Dani Olmo (kiri) berebut bola dengan gelandang Paris Saint-Germain (PSG), Ander Herrera pada partai semifinal Liga Champions di Estadio da Luz, Lisbon, Selasa (18/8/2020). PSG melaju ke final Liga Champions setelah mengandaskan Leipzig 3-0. (Manu Fernandez/POOL/AFP)

"Saya jatuh cinta terhadap sepak bola populer, sepak bolanya para penggemar, dengan mimpi melihat tim yang Saya cintai bersaing dengan yang terhebat," tulis pemain PSG, Ander Herrera, di akun media sosialnya.

"Jika Liga Super Eropa ini berjalan, impian itu akan berakhir. Mimpi fans soal timnya yang bukan raksasa bisa menang bersaing di lapangan, di kompetisi terbaik, akan berakhir. Saya mencintai sepak bola dan tidak bisa diam di atas masalah ini." 

"Saya meyakini Liga Champions harus menjadi lebih baik, tapi tidak dengan cara yang orang-orang kaya mencuri apa yang orang-orang lain ciptakan, yakni olahraga yang paling indah di planet ini," imbuh dia.

9 dari 9 halaman

8. Antonio Cassano

Antonio Cassano (Inter Milan) - Pemain berjuluk Si Bengal ini kerap ribut dengan pelatih, termasuk dengan pelatih Inter Milan, Andrea Stramaccioni pada 2013. Selain Stramaccioni, ia juga pernah ribut dengan Rudi Voeller dan Fabio Capello. (AFP/Olivier Morin)

“Mustahil memikirkan kompetisi seperti itu. Klub-klub besar harus memahami bahwa sepak bola adalah milik semua orang,” kata mantan striker Timnas Italia, Antonio Cassano, di program Twitch Bobo TV.

“Tim-tim kecil tidak bisa dikesampingkan, saya akan meminta FIGC untuk menendang Inter, Milan dan Juventus keluar dari Serie A. Biarkan mereka memainkan liga mereka sendiri, dan mari kita lihat apa yang terjadi. Gravina harus melawan ini. Dua belas klub tidak bisa menguasai sepak bola," imbuh dia, seperti dilansir Football Italia. 

Sumber: Berbagai sumber 

Berita Terkait