Lebih Memalukan Mana: Spurs Degradasi atau Arsenal tanpa Trofi?

Musim ini, mana yang lebih memalukan. Tottenham Hotspur degradasi atau Arsenal tanpa trofi satu pun?

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 26 Februari 2026, 17:00 WIB
Laga yang bertajuk Derby London utara tersebut berlangsung sengit sejak awal pertandingan. Dua gol mewarnai laga sebelum turun minum. (AP Photo/Ian Walton)

Bola.com, Jakarta - Musim 2025/26 berubah menjadi mimpi buruk bagi pendukung Tottenham Hotspur. Ancaman degradasi kini bukan lagi sekadar wacana, sementara rival sekota mereka, Arsenal, justru bertengger di puncak Premier League.

Dengan 11 pertandingan tersisa, Spurs hanya berjarak empat poin dari zona degradasi. Lebih mengkhawatirkan lagi, mereka belum sekali pun meraih kemenangan liga sepanjang 2026.

Advertisement

Dari sembilan laga tahun ini, hanya empat poin yang berhasil dikumpulkan, membuat mereka terbenam di dasar klasemen performa. Jika tren ini berlanjut, "separuh putih" London Utara bisa saja bermain di Championship musim depan.

Sementara itu, "separuh merah" masih bersaing di empat kompetisi sekaligus musim ini.


Siapa Lebih Memalukan?

Pada babak kedua, Arsenal berhasil menggandakan skor lewat Viktor Gyokeres pada menit ke-47. (AFP/Glyn Kirk)

Situasi kontras tersebut memicu perdebatan di talkSPORT dalam program "Inside Spurs". Pertanyaannya provokatif: jika Spurs terdegradas,i tetapi Arsenal gagal meraih satu pun trofi, siapa yang menjalani musim lebih memalukan?

Majestic menjawab singkat, "Spurs terdegradasi.'

Namun, Sonny Snelling punya pandangan berbeda.

"Menurut saya Arsenal," katanya.

"Tidak dapat apa-apa setelah semua yang mereka lakukan… mereka memimpin di Liga Champions, memimpin Liga Inggris, masuk final Carabao Cup dan tampil bagus di Piala FA, lalu tidak memenangkan apa pun."

"Alasan saya mengatakan Spurs tidak lebih memalukan karena menurut saya ini sudah lama terasa akan terjadi. Itu argumen saya," imbuh Snelling.

“Semua ini sudah terasa sejak Mauricio Pochettino pergi. Kami memang seperti sedang menuju ke arah ini. Harry Kane dan Heung-min Son pergi, dan setelah musim lalu juga, saya rasa bukan kejutan besar jika Tottenham turun," lanjutnya.

Snelling juga menyinggung komentar Gary Neville yang menyebut degradasi Spurs akan menjadi kejutan terbesar dalam sejarah Premier League.

"Menurut saya, kalau Arsenal sekarang kehilangan semuanya, mereka akan melihat ke belakang dan bahkan jika mereka menang tahun ini, mereka tetap akan berkata, 'kami seharusnya memenangkan tiga yang lain.'"


Dari Puncak ke Jurang?

Pelatih Kepala Tottenham Hotspur keturunan Yunani-Australia Ange Postecoglou memberi selamat kepada gelandang Tottenham Hotspur asal Swedia Dejan Kulusevski setelah pertandingan sepak bola tahap Liga Europa UEFA antara Tottenham Hotspur dan Tottenham Hotspur di Stadion Tottenham Hotspur di London, pada 26 September 2024. Tottenham memenangkan pertandingan dengan skor 3-0. Glyn KIRK / AFP

Musim lalu Spurs finis di posisi ke-17, meski menjuarai Liga Europa. Tak lama setelah itu, klub memecat Ange Postecoglou. Penggantinya, Thomas Frank, hanya bertahan beberapa bulan sebelum Igor Tudor didatangkan sebagai "pemadam kebakaran" demi menghindari degradasi.

Gelar Liga Europa tersebut memang mengakhiri puasa trofi 17 tahun. Namun, dalam rentang itu pula Spurs kalah di dua final Piala Liga, satu final Liga Champions, dan sempat finis runner-up Premier League.

"Ironisnya, Arsenal yang menciptakan gagasan bahwa Anda harus memenangkan sesuatu, kalau tidak, berarti tidak sukses," kata Majestic.

"Karena pada era Poch, meski tidak berhasil melewati garis akhir, rasanya tetap sukses. Kami merasa berada di meja teratas. Saya bisa datang ke talkSPORT dan menikmatinya."

Abbi Summers kemudian menyoroti ekspektasi yang terus meningkat di era tersebut.

"Itu karena standar dan ekspektasi sudah naik begitu tinggi berkat pekerjaan yang dia lakukan," ujarnya.

"Memang tidak berujung pada trofi, dan itu sangat disayangkan, bahkan tragis. Ada banyak faktor mengapa itu tidak terjadi, tetapi itu membuat kami kompetitif."

"Kami perlahan menjadi kompetitif sejak era Martin Jol, lalu Harry Redknapp, dan akhirnya Pochettino. Kami selalu ada di sekitar papan atas dan akhirnya masuk percakapan klub-klub besar," tutur Summers.


Kejutan Luar Biasa

Pelatih kepala Tottenham, Igor Tudor, kedua dari kanan, berbicara kepada para pemainnya selama pertandingan Liga Inggris antara Tottenham Hotspur dan Arsenal di London, Minggu, 22 Februari 2026. (AP Photo/Ian Walton)

Menurut Summers, degradasi bagi Tottenham akan menjadi kejutan luar biasa.

"Tim seperti Leicester ketika promosi dan kemudian juara liga, itu luar biasa, tetapi pada dasarnya mereka masih tim Championship untuk sebagian besar waktu itu," katanya.

"Blackburn sudah sangat lama, tetapi Tottenham adalah tim Premier League. Anda seharusnya bagian dari 'big six'."

"Terdegradasi itu tak terpikirkan. Kepemilikan klub, struktur, para pemain, mereka tidak siap untuk itu".

"Bagaimana Anda bertindak jika berakhir di Championship? Jangan sekali-kali berpikir jika Spurs turun, kami langsung naik lagi. Anda pasti bermimpi. Benar-benar bermimpi," ujarnya.

"Mereka tidak menyadari dampaknya. Ini bukan klub yang memahami situasi seperti itu."

"Berbeda dengan klub seperti Aston Villa atau Newcastle, yang memang klub besar, tetapi ketika mereka terdegradasi, levelnya tidak sama seperti Tottenham sekarang. Mereka mungkin lebih siap untuk bertarung di Championship."

"Tottenham tidak akan punya gambaran sedikit pun bagaimana bertahan di sana," imbuhnya.

"Lihat saja sekarang. Untuk bertahan saat ini saja, kami tidak benar-benar tahu caranya," lanjut Summers.

 

Sumber: Talksport

Berita Terkait