Bola.com, Jakarta - Apakah justru akan menjadi perjudian yang lebih besar jika Manchester United tidak memberikan jabatan manajer secara permanen kepada Michael Carrick?
Pertanyaan itu kini mulai mengemuka, menyusul satu jawaban penting yang didapat Carrick pada Minggu lalu, bukan dari petinggi klub, melainkan dari para pemainnya sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh pertandingan masa kepemimpinannya sebagai pelatih interim, Carrick menghadapi situasi tertinggal saat turun minum. MU saat itu berada di bawah tekanan tim tamu yang tampil impresif, Crystal Palace.
Sebelumnya, setiap kali tertinggal, Setan Merah selalu mampu memperbaiki keadaan sebelum laga berakhir. Namun, kali ini, mereka benar-benar berada dalam posisi sulit.
"Segalanya selama ini berjalan sesuai keinginan kami, jadi saat jeda saya mengatakan kepada mereka, 'inilah momen yang sudah saya tunggu, saat seperti ini'," ujar Carrick.
"Seolah saya berkata, 'ayo, sekarang apa yang akan kita lakukan?' Kadang Anda memang harus menemukan jalan keluar dalam pertandingan. Ini soal bagaimana kami bereaksi," ungkapnya.
Jawaban yang ia dapatkan datang lewat eksekusi penalti tenang dari Bruno Fernandes dan sundulan keras Benjamin Sesko. Bagi Sesko, itu merupakan gol ketujuh dalam delapan laga sejak Ruben Amorim diberhentikan pada 5 Januari.
Kemenangan itu mengangkat MU ke posisi ketiga klasemen Liga Inggris, peringkat tertinggi mereka sejak hari terakhir musim 2022/23 di era Erik ten Hag.
Tiket ke Liga Champions musim depan kini terbuka lebar.
Rekam Jejak yang Sulit Diabaikan
Secara keseluruhan, Carrick mencatat enam kemenangan dan satu hasil imbang dalam tujuh laga terakhir.
Jika digabung dengan periode interim pertamanya setelah pemecatan Ole Gunnar Solskjaer pada November 2021, ketika ia mengalahkan Arsenal dan menahan imbang Chelsea, rekornya menjadi tujuh kemenangan dan dua hasil seri dari sembilan pertandingan.
Itu menyamai rekor terbaik dari sembilan laga awal seorang manajer dalam sejarah Premier League.
Memang, catatan serupa pernah dimiliki Ange Postecoglou sebelum perjalanannya di Tottenham Hotspur menunjukkan bahwa performa awal belum tentu menjamin keberlanjutan.
Namun, dukungan suporter Setan Merah yang terus menyanyikan nama Carrick seusai laga memberi sinyal jelas: publik Old Trafford sudah memiliki pilihan mereka.
Masih Berhati-hati
Meski begitu, para pengambil keputusan di klub mungkin masih berhati-hati untuk tidak tergesa-gesa.
Tujuh tahun lalu, Solskjaer memulai masa interim dengan delapan kemenangan beruntun di semua kompetisi dan meraih 32 poin dari kemungkinan 36 sebelum akhirnya dipermanenkan.
Akan tetapi, konteks kini berbeda. Thomas Tuchel telah memperpanjang kontraknya bersama Timnas Inggris, sementara Carlo Ancelotti dikabarkan segera melakukan hal serupa dengan Brasil.
Jika Carrick mampu membawa MU kembali ke Liga Champions maka justru akan terlihat lebih berisiko jika klub tidak memberinya jabatan secara tetap.
Alternatif seperti pelatih Palace, Oliver Glasner, meski punya gelar Liga Europa dan Piala FA, atau Roberto De Zerbi dengan gaya main atraktifnya, tetap menyimpan ketidakpastian dibanding mempertahankan sosok yang sudah memahami tekanan besar di Old Trafford dan bekerja dengan tenang tanpa banyak sensasi.
Hubungan dengan Suporter
Carrick tidak nyaman membicarakan peran pribadinya. Ia lebih sering menggunakan kata "kami" ketimbang "saya". Namun, pelatih berusia 44 tahun itu mengakui ada kebanggaan tersendiri mendengar namanya menggema di stadion.
"Tempat ini sangat berarti bagi saya. Mendapat begitu banyak energi positif, melihat semua orang menikmati datang ke pertandingan, dan tentu saja saya punya pengaruh terhadap itu, tentu rasanya menyenangkan, saya tidak akan berbohong," katanya.
"Para pemain pantas mendapat banyak pujian atas apa yang mereka tampilkan di lapangan."
"Ini jelas bukan soal saya semata. Tetapi, koneksi dengan para pendukung sangat besar artinya. Mereka tetap bersama kami, bahkan setelah awal yang sulit, dan kami menutup pertandingan seperti itu. Itu sangat berarti," lanjut Carrick.
Dengan MU kini berada di jalur Liga Champions dan dukungan publik yang kian menguat, perdebatan pun bergeser. Bukan lagi soal apakah Carrick pantas dipertimbangkan, melainkan apakah justru akan menjadi taruhan yang lebih besar jika klub memilih jalan lain.
Sumber: BBC