Liverpool Tak Boleh Salah Lagi di Anfield usai Tumbang dari Galatasaray di Istanbul

Liverpool tidak boleh melakukan kesalahan di Anfield melawan Galatasaray setelah tampil buruk di Istanbul.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 11 Maret 2026, 22:00 WIB
Pelatih Liverpool, Arne Slot, bertepuk tangan kepada para pendukung di akhir pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions antara Galatasaray dan Liverpool, di Istanbul, Turki, Rabu (11-3-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Emrah Gurel)

Bola.com, Jakarta - Liverpool menghadapi pekerjaan rumah besar jelang leg kedua babak 16 besar Liga Champions melawan Galatasaray.

Kekalahan di leg pertama di Rams Park membuat tim asuhan Arne Slot tidak boleh lagi melakukan kesalahan ketika menjamu lawan di Anfield, pekan depan.

Advertisement

Sebelum pertandingan dimulai di Istanbul, sebuah spanduk raksasa terbentang di belakang gawang bertuliskan: "You are alone in Sami Yen Hell!", sebuah sindiran terhadap lagu kebanggaan Liverpool You'll Never Walk Alone.

Pesan itu menjadi peringatan keras mengenai atmosfer yang menanti tim tamu.

Yang terjadi setelahnya benar-benar menjadi ujian mental bagi juara Premier League tersebut. Tekanan tanpa henti dari tuan rumah membuat Liverpool kesulitan mengembangkan permainan di tengah riuhnya stadion.

Gol cepat lewat sundulan Mario Lemina menjadi penentu kemenangan Galatasaray pada leg pertama. Meski demikian, kekalahan itu masih diyakini bisa dibalikkan saat duel penentuan dimainkan di Anfield.

Situasinya belum membuat Liverpool harus panik.


Tandang Galatasaray Tak Meyakinkan

Kemenangan ini jelas memberi keuntungan bagi Galatasaray sebelum melawat ke markas Liverpool pada pertandingan leg kedua pekan depan. (AP Photo/Khalil Hamra)

Galatasaray diketahui tidak selalu tampil meyakinkan saat bermain tandang. Hal itu terlihat pada babak play-off sebelumnya ketika mereka sempat menyia-nyiakan keunggulan agregat 5-2 dari leg pertama melawan Juventus sebelum akhirnya memastikan lolos lewat dua gol pada perpanjangan waktu di Turin, meski bermain melawan 10 orang selama lebih dari satu jam.

Pada League Phase kompetisi ini, wakil Turki tersebut juga menelan tiga kekalahan tandang dari Eintracht Frankfurt, AS Monaco, dan Manchester City. Selain itu, suporter Galatasaray tidak akan hadir di Anfield karena mendapat larangan dari UEFA.

Dengan kondisi tersebut, peluang Liverpool untuk melaju ke perempat final, yang berpotensi mempertemukan mereka dengan Chelsea atau juara bertahan Paris Saint-Germain, masih terbuka lebar.

Namun, Slot menegaskan timnya tidak boleh mengulangi penampilan yang penuh kesalahan seperti di Istanbul. Jika menghadapi tim yang lebih kuat dari Galatasaray, Liverpool bisa saja dihukum lebih berat.


Konate Jadi Sorotan

Duel Galatasaray vs Liverpool di Ali Sami Yen Stadium di matchday 2 league phase Liga Champions 2025/2026, Rabu (01/10/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Francisco Seco)

Satu di antara pemain yang mendapat sorotan tajam adalah bek tengah Ibrahima Konate. Penampilannya dinilai paling mengkhawatirkan.

Padahal, sejak awal tahun performa bek Timnas Prancis itu sempat membaik dan menjadi sangat penting bagi Liverpool yang memiliki opsi terbatas di lini belakang. Namun, laga ini justru mengingatkan pada awal musim ketika ia terlihat gugup dan sering membuat kesalahan.

Konate sempat gagal mengantisipasi umpan silang Wilfried Singo, beruntung peluang dari Victor Osimhen sebelum turun minum masih melambung di atas mistar. Ia kembali hampir melakukan kesalahan fatal di babak kedua saat salah memberikan umpan ke belakang kepada kiper Giorgi Mamardashvili.

Osimhen sebenarnya sempat mencetak gol dari situasi tersebut, tetapi dianulir karena bendera offside sudah terangkat. Keputusan itu dianggap cukup beruntung bagi Liverpool karena pemain Galatasaray, Baris Alper Yilmaz, tidak menyentuh bola dalam prosesnya.

Malam buruk Konate makin lengkap ketika bola dari sepak pojok Dominik Szoboszlai sempat memantul masuk ke gawang melalui dirinya. Gol itu kemudian dianulir karena dianggap handball.

Slot bahkan merasa seharusnya Liverpool mendapatkan penalti pada situasi tersebut.

"Jika melihat bagaimana mereka menarik baju Virgil sebelum bola mengenai tangan Ibou, maka bisa dibilang kami bukan satu-satunya yang terkesan dengan atmosfer di sini," ujar Slot.

"Di Premier League, tarikan seperti itu lebih sering dibiarkan dibanding di Liga Champions. Karena itu saya sangat terkejut tidak diberikan penalti. Bahkan ketika kami hanya melihat pemain Galatasaray saja, wasit langsung memberikan tendangan bebas untuk mereka," lanjutnya.

Dalam pertandingan itu Konate hanya menyelesaikan 22 dari 32 umpan yang ia lepaskan, dengan akurasi 68,8 persen, terendah di antara pemain Liverpool yang tampil sejak awal. Slot berharap bek berusia 25 tahun itu bisa segera bangkit mengingat jadwal penting yang menanti timnya.


Performa Bintang Liverpool

Galatasaray sukses meraih kemenangan krusial saat menghadapi Liverpool pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions 2025/2026. (AP Photo/Khalil Hamra)

Jika kebisingan stadion memengaruhi konsentrasi Konate, hal serupa tampaknya juga dialami pemain lain. Hal itu terlihat dari peluang emas yang gagal dimanfaatkan Florian Wirtz pada awal pertandingan, saat gawang sudah terbuka lebar.

Wirtz yang baru kembali tampil setelah hampir sebulan absen akibat masalah punggung juga menyia-nyiakan peluang lain ketika tembakannya mengarah tepat ke pelukan kiper Galatasaray, Ugurcan Cakir, setelah mendapat umpan dari Alexis Mac Allister.

Sebelumnya, Liverpool sudah tertinggal melalui situasi sepak pojok yang seharusnya bisa diantisipasi. Mac Allister dan Joe Gomez gagal memenangkan duel udara dengan Osimhen, sementara Milos Kerkez dan Hugo Ekitike berdiri berdekatan di tiang gawang saat Lemina menyundul bola tanpa kawalan.

"Anda harus memberi kredit kepada mereka. Ketika mendapat peluang, mereka bermain seolah itu kesempatan terakhir dalam hidup mereka," kata Slot.

"Itu sesuatu yang bisa kami pelajari. Kami terkadang mendapat peluang, tetapi terlihat seolah kami berpikir masih akan mendapatkan 10 peluang lagi. Bermain di tempat seperti ini sudah sulit saat skor 0-0, apalagi ketika kami tertinggal satu gol."

Satu di antara pemain Liverpool yang tampil cukup baik adalah Mamardashvili. Kiper asal Georgia itu melakukan beberapa penyelamatan penting saat menggantikan Alisson Becker yang cedera.

Namun, secara keseluruhan Liverpool kurang mampu mengendalikan lini tengah dan tidak cukup konsisten menekan lawan.

Mohamed Salah, yang mencatat penampilan ke-81 di Liga Champions bersama Liverpool, bahkan baru digantikan oleh Jeremie Frimpong setelah melewati satu jam permainan. Sementara Ekitike gagal memaksimalkan peluang emas ketika hanya berhadapan dengan Cakir.


Baru Leg Pertama

Virgil van Dijk dari Liverpool, kanan atas, dan kiper Galatasaray Ugurcan Cakir berebut bola tinggi saat pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions antara Galatasaray dan Liverpool, di Istanbul, Turki, Rabu (11-3-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Khalil Hamra)

Sejarah juga tidak berpihak pada Liverpool di Istanbul. Meski pernah menjuarai Liga Champions dan UEFA Super Cup di kota tersebut, mereka belum pernah menang melawan klub Turki di sana dalam enam percobaan, dengan lima kekalahan dan satu hasil imbang.

September lalu Liverpool juga sempat kalah 0-1 dari Galatasaray di kota yang sama, dan dengan cepat mengembalikan misi Eropa mereka ke jalur yang benar. Kini, mereka kembali harus melakukan hal yang sama, hanya dalam waktu tujuh hari.

"Yang saya tahu sekarang ini baru leg pertama," kata Slot.

"Kami sudah dua kali kalah di sini dan kabar baiknya, pertandingan berikutnya tidak dimainkan di sini. Laga itu akan dimainkan di Anfield dan para suporter kami bisa menciptakan atmosfer yang serupa."

"Saya rasa tidak mungkin begitu banyak hal buruk kembali terjadi seperti dalam dua pertandingan ini. Di kandang sendiri semuanya akan terasa lebih normal bagi kami, dan saya juga yakin kami bisa tampil lebih baik."

Jika Liverpool mampu memanfaatkan leg kedua di Anfield, kekalahan di Istanbul mungkin hanya akan menjadi kenangan yang cepat dilupakan. Namun jika kembali gagal, mereka tidak akan punya tempat untuk bersembunyi.

 

Sumber: The Athletic

Berita Terkait