Bantah Pindahkan Trofi Piala Afrika 2025 ke Pangkalan Militer, Senegal Tegaskan Tetap Melawan

Kontroversi Piala Afrika 2025 makin panas. Senegal bantah sembunyikan trofi di basis militer.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 21 Maret 2026, 13:45 WIB
Pelatih kepala Senegal, Pape Thiaw (C), dan tim merayakan kemenangan dengan trofi setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (Abdel Majid BZIOUAT/AFP)

Bola.com, Jakarta - Isu mengejutkan sempat mencuat terkait pelatih Timnas Senegal, Pape Thiaw, yang disebut-sebut memindahkan trofi Piala Afrika 2025 ke pangkalan militer setelah keputusan kontroversial dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).

Namun, klaim tersebut kini terbukti tidak benar.

Advertisement

Hampir dua bulan setelah turnamen berakhir, CAF secara mengejutkan mengumumkan bahwa mereka mencabut gelar Senegal.

Keputusan itu diambil setelah Senegal dinilai melakukan walk-off sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit yang kontroversial di partai final, 18 Januari lalu.

Situasi memanas ketika VAR memberikan penalti di menit akhir untuk Maroko. Keputusan tersebut memicu kemarahan kubu Senegal hingga Thiaw memerintahkan para pemainnya meninggalkan lapangan.

Setelah penundaan hampir 20 menit, kapten Senegal, Sadio Mane, akhirnya membujuk rekan-rekannya untuk kembali melanjutkan pertandingan.

Penalti yang dieksekusi Brahim Diaz gagal berbuah gol. Senegal kemudian memastikan kemenangan 1-0 lewat gol perpanjangan waktu dari Pape Gueye.

Akan tetapi, jauh setelah laga berakhir, CAF justru menetapkan Maroko sebagai juara dengan kemenangan default 3-0 di partai final.


Isu Trofi Dipindahkan

Penyerang Senegal bernomor punggung 10, Sadio Mane, mengangkat trofi saat merayakan kemenangan bersama rekan-rekan setimnya setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (SEBASTIEN BOZON/AFP)

Keputusan tersebut memicu gelombang kontroversi lanjutan. Federasi Sepak Bola Maroko (FRMF) menyatakan bahwa banding mereka tidak dimaksudkan untuk mempertanyakan performa tim di lapangan, melainkan untuk memastikan regulasi kompetisi diterapkan dengan benar.

Di sisi lain, Senegal bereaksi keras. Mereka menyebut keputusan tersebut sebagai sesuatu yang tidak adil, belum pernah terjadi sebelumnya, dan tidak dapat diterima, yang mencoreng sepak bola Afrika.

Senegal pun memastikan akan membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).

Di tengah polemik, muncul laporan yang menyebut Thiaw enggan menyerahkan trofi, bahkan diklaim telah memindahkannya ke pangkalan militer dengan pengawalan bersenjata.

Sebuah video yang memperlihatkan tentara mengelilingi trofi pun beredar luas.

Namun, laporan dari RMC mengungkap bahwa video tersebut sebenarnya adalah rekaman lama. Video itu diambil beberapa pekan lalu saat trofi dibawa dalam kunjungan ke prajurit Senegal sebagai bagian dari perayaan kemenangan Piala Afrika 2025.


Penegasan Senegal

Gelandang Senegal #26, Pape Gueye (kiri), dan rekan-rekan setimnya merayakan kemenangan mereka di akhir pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 antara Senegal dan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (FRANCK FIFE/AFP)

Kendati kabar pemindahan trofi terbukti keliru, sikap Senegal tetap tegas. Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Senegal (FSF), Abdoulaye Sow, bahkan menyebut CAF sebagai lembaga yang korup dan menegaskan pihaknya tidak akan menyerahkan trofi juara.

"Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) itu korup, dan reaksi di seluruh dunia terhadap keputusan ini menunjukkan kemarahan besar. Presiden FSF sedang berdiskusi dengan semua pihak terkait. Perjuangan ini masih panjang," ujarnya.

"Saya ingin meyakinkan seluruh rakyat Senegal. Senegal berada di pihak yang benar dan kemenangan ada di pihak kami. Trofi ini tidak akan meninggalkan negara ini," imbuhnya/

Ia juga menegaskan langkah hukum akan ditempuh.

"Ini sebuah parodi; keputusan ini tidak didasarkan pada apa pun. Tidak memiliki dasar hukum… Presiden federasi akan berkoordinasi dengan para pengacara; kami akan berhubungan dengan otoritas terkait, lalu membawa kasus ini ke CAS, yang akan memberikan keputusan akhir," ungkapnya.


Bintang Senegal Bicara

Idrissa Gueye dari Senegal meminta para pemain untuk meninggalkan lapangan selama pertandingan final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko, di Rabat, Maroko, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Mosa'ab Elshamy)

Setelah menyebut keputusan tersebut sebagai aib bagi Afrika, Sow menutup dengan pernyataan tegas.

"Kami tidak akan mundur. Rakyat Senegal tidak perlu ragu. Kebenaran ada di pihak Senegal, hukum ada di pihak Senegal."

Sementara itu, bintang Senegal, Idrissa Gueye, juga angkat bicara melalui media sosial.

"Gelar, trofi, medali… semua itu bersifat sementara. Yang benar-benar penting adalah setiap suporter bisa kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga. Rakyat Senegal telah menunjukkan jati dirinya: bermartabat saat menang, bermartabat saat menghadapi kesulitan. Itulah Teranga," tulisnya.

"Kami tahu apa yang kami alami malam itu di Rabat. Dan itu, dengan izin Tuhan, tidak akan bisa diambil dari kami," lanjut gelandang Everton itu.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait