Pep Guardiola Beberkan Makna Selebrasi Emosional yang Ia Lakukan usai Man City Kalahkan Arsenal di Final Carabao Cup: Masih Termotivasi!

Selebrasi penuh emosi Pep Guardiola di pinggir lapangan Wembley menjadi bukti bahwa rasa lapar akan gelar bersama Manchester City (Man City) belum padam sedikit pun.

BolaCom | Hendry WibowoDiterbitkan 23 Maret 2026, 13:15 WIB
Momen Pep Guardiola (kanan) berbincang dengan Erling Haaland usai menerima medali juara Carabao Cup. Pada partai final, Man City mengalahkan Arsenal 2-0. (Adrian Dennis / AFP)

Bola.com, Jakarta - Selebrasi penuh emosi Pep Guardiola di pinggir lapangan Wembley menjadi bukti bahwa rasa lapar akan gelar bersama Manchester City (Man City) belum padam sedikit pun.

Momen itu terjadi setelah gol kedua Nico O'Reilly dalam rentang empat menit sebelum gol pertama memastikan kemenangan 2-0 Man City atas Arsenal di final Carabao Cup.

Advertisement

Pep Guardiola tampak tak bisa menahan emosinya. Ia berlari di sepanjang garis lapangan sambil mengepalkan tangan ke arah suporter City, sebelum merayakan kemenangan dengan pelukan erat kepada para pemain dan staf setelah peluit akhir.

"Saya ingin kartu kuning lagi, itu sebabnya saya melakukannya,” canda Pep Guardiola saat diwawancara usai pertandingan.

"Jika saya tidak bisa merayakan kemenangan saat melawan tim seperti Arsenal, dan dengan cara kami bermain... emosi saya terkait dengan cara kami bermain. Saya bukan kecerdasan buatan, saya manusia, dan saya ingin merayakan." 

"Itu bukan menunjukkan rasa tidak hormat kepada Arsenal atau kepada penggemar lain, saya hanya merayakan bersama orang-orang saya. Dan ketika saya merasakannya, saya mengungkapkannya," tambahnya. 

 


Kekecewaan Arsenal

Viktor Gyokeres mempertahankan bola dari gangguan Rodri dalam laga final Piala Liga Inggris antara Arsenal vs Manchester City di Wembley Stadium, 23 Maret 2026. (AP Photo/Maja Smiejkowska)

Di sisi lain, Arsenal harus menelan kekecewaan besar. Tim asuhan Mikel Arteta tampil kurang menggigit dan gagal memanfaatkan kesempatan untuk mengakhiri puasa gelar sejak 2020.

Lebih dari sekadar trofi, kemenangan ini menjadi pernyataan tegas dari Manchester City. Mereka tidak hanya ingin juara, tetapi juga mengirim pesan kepada Arsenal dalam perburuan gelar Premier League.

Man City tampil dominan, percaya diri, dan efektif: ciri khas tim Guardiola di masa jayanya. Meski musim ini tak seimpresif saat mereka meraih empat gelar liga beruntun, performa di final ini menunjukkan bahwa City masih menjadi tim paling berbahaya di Inggris ketika berada dalam performa terbaik.

Kini, pertanyaan besar muncul: apakah kemenangan ini bisa menjadi titik balik kebangkitan City di liga? Atau justru menjadi pukulan mental bagi Arsenal yang tengah memimpin klasemen?

Yang jelas, di Wembley kali ini, Manchester City tampil sebagai tim yang jauh lebih baik dan mereka membuktikannya dengan cara yang tak terbantahkan.

Sumber: BBC 


Yuk Lihat Peta Persaingan

Berita Terkait