Bola.com, Jakarta - FIFA memberikan tanggapan setelah muncul tuduhan pelanggaran hukum Uni Eropa terkait sistem penjualan tiket Piala Dunia 2026.
Sejumlah organisasi suporter di Eropa mendesak Komisi Eropa untuk segera turun tangan. Mereka menilai FIFA tersebut memonopoli penjualan tiket Piala Dunia 2026 dan menerapkan kebijakan yang merugikan penggemar.
Kelompok Euroconsumers bersama Football Supporters Europe (FSE) secara resmi mengajukan pengaduan. Mereka menuding adanya pelanggaran terhadap Pasal 102 Perjanjian tentang Fungsi Uni Eropa, yang bertujuan mencegah perusahaan menyalahgunakan posisi dominan di pasar.
Fokus utama keluhan ini adalah penerapan sistem harga dinamis. Dalam skema tersebut, harga tiket dapat melonjak saat permintaan tinggi dan turun ketika minat rendah.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya beberapa kali membela kebijakan harga tersebut. Namun, Football Supporters Europe menilai penjelasan itu tidak memadai dan tetap melanjutkan laporan ke Komisi Eropa.
Kebijakan FIFA Melenceng
Kepala Litigasi Euroconsumers, Marco Scialdone, menyebut kebijakan ini telah melenceng dari semangat sepak bola sebagai olahraga untuk semua kalangan.
"Sepak bola adalah gairah universal, tetapi FIFA memperlakukannya seperti kemewahan pribadi dengan memanfaatkan monopoli mutlak atas penjualan tiket Piala Dunia," ujar Scialdone.
"Dengan menerapkan harga yang tidak transparan, pola yang menekan pembeli, serta biaya penjualan kembali yang sangat tinggi, mereka membebani jutaan penggemar Eropa secara tidak adil. Kami meminta Komisi Eropa segera mengambil langkah sementara untuk menghentikan praktik ini sebelum turnamen 2026 dimulai," lanjutnya.
Tanggapan FIFA
Menanggapi tudingan tersebut, juru bicara FIFA menyatakan pihaknya belum menerima pengaduan secara resmi.
"Kami mengetahui adanya pernyataan terkait dugaan pengaduan, tapi belum menerimanya secara resmi. Karena itu, kami belum dapat memberikan komentar lebih lanjut saat ini," ujar sang jubir kepada Mirror.
FIFA juga menegaskan komitmennya untuk menjaga akses yang adil bagi para penggemar.
"Kami fokus memastikan akses yang adil terhadap sepak bola bagi penggemar lama maupun baru. Sebagai organisasi nirlaba, pendapatan dari Piala Dunia akan diinvestasikan kembali untuk pengembangan sepak bola, baik pria, wanita, maupun usia muda, di 211 asosiasi anggota di seluruh dunia.
Meski demikian, kritik tetap bermunculan. Beberapa tiket dilaporkan dijual dengan harga lebih dari 100 kali lipat dari harga dasar.
Tiket termurah untuk final Piala Dunia 2026 bahkan disebut mulai dari 4.185 dolar AS menurut Euroconsumers dan FSE.
Minta Kebijakan Diubah
Selain itu, FIFA dituding melakukan praktik "umpan iklan", di mana penggemar tertarik oleh harga awal sekitar 60 dolar AS, tetapi kemudian dihadapkan pada harga yang jauh lebih tinggi.
FIFA juga dikritik karena tidak menetapkan batas harga dalam sistem harga dinamis, menggunakan teknik penjualan yang menekan, serta mengenakan biaya hingga 15 persen pada platform resale tiket.
Direktur Eksekutif FSE, Ronan Evain, menegaskan bahwa pihaknya telah berulang kali meminta perubahan kebijakan.
"Selama beberapa bulan terakhir kami telah mendesak FIFA untuk bertindak adil terhadap penggemar dan meninjau kembali kebijakan tiket yang agresif dan eksploitatif," katanya.
"Ketidakmauan untuk melakukan konsultasi yang berarti dengan para pemangku kepentingan, membuat kami tidak punya pilihan selain mengajukan pengaduan ini bersama Euroconsumers ke Komisi Eropa. Mereka menggunakan angka penjualan yang belum terverifikasi sebagai pembenaran, padahal kenyataannya, penggemar setia tidak punya pilihan, membayar mahal atau kehilangan kesempatan," tutur Evain.
Sumber: Express