Ini Gila, Brasil Sudah Tidak Lagi Menghasilkan Pemain Nomor 10

Juninho Paulista sentil keras, Brasil kehilangan identitas pemain nomor 10.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 29 Maret 2026, 11:00 WIB
Ilustrasi - Rivaldo, Pele, Ronaldinho (Bola.com/Bayu Kurniawan Santoso)

Bola.com, Jakarta - Legenda sepak bola Brasil, Juninho Paulista, melontarkan kritik keras terhadap arah perkembangan pemain muda di negaranya. Ia menilai Brasil kini kehilangan identitas sebagai penghasil pemain nomor 10, posisi yang selama ini identik dengan kreativitas dan teknik tinggi.

Dalam wawancara di Podcast "Charla", mantan pemain Timnas Brasil yang turut membawa negaranya juara Piala Dunia 2002 itu menyoroti perubahan tren sepak bola modern.

Advertisement

Menurutnya, saat ini makin banyak pemain sayap yang menjadi penentu permainan, dan hal itu tecermin dari pemanggilan pemain ke Timnas Brasil.

Namun. di balik tren tersebut, muncul ketimpangan yang cukup mencolok. Jumlah pemain sayap melimpah, sementara sosok penyerang tengah murni dan gelandang serang kreatif justru kian langka.

"Kami tidak lagi menghasilkan pemain nomor 10. Ini gila. Pemain yang menonjol di tengah justru mulai bergeser ke sayap. Semua nomor 10 kami sekarang ada di sisi lapangan," ujar Juninho.

Ia mencontohkan Estevao Willian dan Raphinha sebagai pemain yang secara natural memiliki karakter nomor 10, tetapi pada akhirnya lebih sering dimainkan di sektor sayap.


Metode Pembinaan

Gelandang Chelsea asal Brasil #41, Estevao, merayakan gol kedua mereka dalam pertandingan fase grup Liga Champions antara Chelsea dan Barcelona di Stamford Bridge, London, Rabu (26-11-2025). (Adrian Dennis/AFP)

Juninho juga menyoroti metode pembinaan di klub-klub Brasil saat ini. Ia menilai, aspek teknik dasar mulai terabaikan dan digantikan oleh pendekatan taktik sejak usia dini.

"Saya rasa kami gagal dalam mengembangkan pemain. Sekarang, pemain usia 12, 13, atau 14 tahun lebih banyak belajar soal taktik daripada teknik dasar. Dulu fokusnya adalah dasar; umpan, kontrol, menggiring bola, penyelesaian akhir. Kami kehilangan banyak hal itu," keluhnya.

Kondisi tersebut mendorong Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) membentuk kelompok kerja pada awal bulan ini. Tujuannya adalah mengevaluasi sekaligus merumuskan perbaikan dalam sistem pembinaan usia muda.

Pembahasan difokuskan pada lima aspek utama, dari penyesuaian kalender kompetisi dengan kalender sekolah, sertifikasi dan tata kelola klub pembina, regulasi kelompok usia, pedoman nasional pengembangan bakat, hingga pengembangan sepak bola putri usia muda.


Peran Futsal

Eksekusi penalti Raphinha pada menit ke-38 membuka keunggulan Brasil atas Peru. (NELSON ALMEIDA/AFP)

Di tengah upaya pembenahan tersebut, Juninho menekankan pentingnya peran futsal dalam membentuk kualitas teknik pemain muda.

"Semua pemain hebat melewati futsal. Sentuhan pendek, berpikir cepat… kami harus kembali ke sana. Kalau kami terus menyiapkan pemain untuk ke Eropa, tapi mereka baru mendapat kesempatan di usia 24 tahun dan tidak ada perubahan, maka prosesnya akan semakin lama," ujarnya.

Mantan gelandang yang pernah membela Sao Paulo, Vasco da Gama, Flamengo, dan Palmeiras itu juga menanggapi kemungkinan penerapan metode pembinaan terpadu di Brasil, seperti yang pernah dilakukan Jerman setelah 2002.

Ia mengingatkan bahwa perubahan tidak bisa dilakukan secara sepihak.

"Harus lewat dialog. Tidak bisa dipaksakan. Anda tidak bisa begitu saja mencampuri pembinaan di klub. Kami pernah mencoba membuat metodologi, termasuk studi tentang DNA sepak bola Brasil dengan mewawancarai banyak pelatih dan pemain. Itu pekerjaan penting dan bisa diterapkan di klub," jelasnya.


Langkah Jerman

Oliver Kahn. Kiper Timnas Jerman yang terakhir membela Tim Panser pada Piala Dunia 2006 ini menjadi kiper peraih Golden Glove di edisi 2002 saat berlangsung di Jepang dan Korea Selatan. Tampil dalam seluruh 7 laga Jerman di Piala Dunia 2002, ia nyaris membawa Tim Panser meraih trofi Piala Dunia 2002 usai kalah dari Brasil di laga final dengan skor 0-2. Dari 7 laga Jerman berhasil 5 kali menang, 1 kali imbang dan 1 kali kalah di laga final. Oliver Kahn mencetak 5 kali clean sheet dan kebobolan 3 gol dari 7 laga tersebut. (AFP/Toshifumi Kitamura)

Sebagai perbandingan, Jerman melakukan revolusi pembinaan setelah kalah dari Brasil di final Piala Dunia 2002. Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) kemudian turun tangan memperbaiki sistem pembinaan usia muda di klub-klub.

Langkah tersebut mencakup peningkatan standar akademi serta penunjukan lembaga khusus untuk memantau perkembangan klub. Meski sebagian besar klub sudah memiliki akademi, hanya sedikit yang mencapai standar tinggi.

Melalui sistem baru itu, Jerman berhasil menciptakan fondasi yang lebih kuat untuk melahirkan pemain-pemain berkualitas di masa depan.

 

Sumber: Sportsmole

Berita Terkait