Perlakuan Liam Rosenior ke Pemain Picu Pemecatannya di Chelsea

Cara Liam Cara Rosenior memperlakukan dua pemain Chelsea dikabarkan berujung pada pemecatannya.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 23 April 2026, 11:00 WIB
Ekspresi Liam Rosenior usai Chelsea ditaklukkan Manchester United di pekan ke-33 Liga Inggris 2025/2026 di Stamford Bridge, Minggu (19/04/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Bola.com, Jakarta - Kondisi ruang ganti Chelsea akhirnya menjadi satu di antara faktor kunci di balik keputusan klub memecat Liam Rosenior pada Rabu malam waktu setempat.

Di balik keputusan itu, mulai terkuak bagaimana para pemain sebenarnya memandang sang pelatih, termasuk sejumlah kebijakan yang memicu ketegangan internal.

Advertisement

The Blues kini kembali berburu pelatih baru, yang akan menjadi manajer ketiga mereka dalam satu musim.

Masa kerja Rosenior terbilang singkat, hanya sekitar empat bulan sejak ditunjuk menggantikan Enzo Maresca.

Saat pertama datang ke London barat, Rosenior membawa janji membangun suasana positif di dalam tim. Ia dikenal sebagai sosok yang mudah didekati, sesuatu yang sempat membantunya beradaptasi cepat.


Muncul Retakan

Kiper Chelsea, Robert Sanchez (kedua dari kanan), melakukan penyelamatan di depan pemain Bournemouth, Evanilson (9), pada laga Premier League/Liga Inggris antara Chelsea vs Bournemouth di London, Inggris, Selasa, 30 Desember 2025. (AP Photo/Kin Cheung)

Namun, laporan dari GIVEMSPORT mengungkap bahwa dalam beberapa pekan terakhir mulai muncul retakan di dalam tim, yang kemudian berkembang menjadi masalah serius, baik di balik layar maupun di atas lapangan.

Satu di antara sumber ketegangan disebut berasal dari kebijakan Rosenior dalam merotasi penjaga gawang antara Robert Sanchez dan Filip Jorgensen.

Perubahan yang terus-menerus dari satu laga ke laga lain dinilai mengganggu stabilitas dan keharmonisan tim. Di sisi lain, minimnya kesempatan bermain bagi pemain muda seperti Josh Acheampong juga memicu ketidakpuasan di kalangan tertentu dalam skuad.

Situasi makin rumit ketika kelompok pemain senior dalam tim disebut tidak lagi aktif menyuarakan pendapat dalam rapat rutin.

Para pemain berpengalaman justru lebih sering memilih diam saat diminta memberikan masukan. Padahal, Rosenior sebelumnya dikenal sebagai pelatih yang tenang dan berkepribadian baik.


Ketegangan Memuncak

Pelatih kepala Chelsea asal Inggris, Liam Rosenior, bereaksi di pinggir lapangan selama pertandingan Liga Inggris antara Brighton and Hove Albion dan Chelsea di American Express Community Stadium di Brighton, Inggris selatan pada 22 April 2026. (Glyn KIRK/AFP)

Ketegangan disebut mencapai puncaknya setelah kekalahan telak 0-3 dari Brighton & Hove Albion. Dalam momen itu, Rosenior meluapkan kekesalannya dengan mengkritik sejumlah pemain secara terbuka setelah tim kembali menelan hasil buruk.

Di tengah tekanan hasil, persoalan terbesar tetap soal performa tim. Chelsea kini terancam gagal lolos ke Liga Champions musim depan. Mereka tertinggal tujuh poin dari Liverpool, yang menempati batas akhir zona kualifikasi.

Meski begitu, peluang meraih trofi masih terbuka. Chelsea akan menghadapi Leeds United di Stadion Wembley pada Minggu malam mendatang dalam laga penting yang menentukan tiket ke final Piala FA.

Namun, tanda-tanda bahwa masa Rosenior tidak akan berjalan mulus sebenarnya sudah terlihat sejak awal.


Tekanan Bertambah

Bek Chelsea, Marc Cucurella dan Enzo Fernandez merayakan gol ke gawang West Ham di pekan 2 Liga Inggris, Sabtu 23 Agustus 2025. (c) AP Photo/Dave Shopland

Gelandang Enzo Fernandez sempat mengkritik keputusan klub berpisah dengan Maresca pada Januari. Ia menilai klub tidak berusaha cukup keras untuk memperbaiki hubungan sebelum pelatih asal Italia itu hengkang.

Pernyataan tersebut menambah tekanan bagi Rosenior, yang sejak awal harus menghadapi ruang ganti berisi banyak pemain dengan karakter kuat.

Situasi makin diperkeruh ketika bek Marc Cucurella juga menyiratkan bahwa keputusan klub memecat Maresca adalah langkah yang keliru.

Hubungan antara pemain dan staf pun terus memburuk dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, meski sempat diproyeksikan sebagai solusi jangka panjang, tuntutan hasil instan di tengah kondisi finansial klub membuat posisi Rosenior tidak lagi bisa dipertahankan.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait