Bola.com, Jakarta - Tak ada kata menyerah dalam hidup Agung Rizki Satria. Dengan satu kaki dan tergabung dalam Sepak Bola Amputasi Indonesia, ia tetap semangat mengejar mimpi.
Kini, lewat kerja keras selama bertahun-tahun, Agung Rizki Satria boleh berbangga dengan apa yang sudah ia raih. Bahkan sesuatu yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Agung Rizki Satria bukan hanya membanggakan keluarga, timnya, tapi juga bangsa dan negara. Ia membawa Timnas Amputasi Indonesia lolos ke Piala Dunia 2022 di Turki.
Agung Rizki Satria merupakan pencetak gol terbanyak di Malaysia pada 2023, dan juga top scorer di ajang yang digagas Kemenpora pada musim 2024/2025 merupakan tiga torehan spektakuler Agung Rizki Satria.
Awalnya, semua berjalan normal bagi Agung Rizki Satria. Artinya, ia berjalan, berlari, dan bermain dengan dua kaki. Sampai kemudian petaka itu datang.
Lewat kanal YouTube Dens.TV belum lama ini, pria murah senyum yang juga hobi mendaki gunung itu mengenang momen pahit di mana ia dan keluarga mengalami kecelakaan lalu lintas di usia yang sangat dini, 7 tahun.
Kecelakaan Merenggut Kakinya
Meski awalnya sulit menerima, pelan tapi pasti Agung Rizki Satria bangkit dan akhirnya menjadi kebangaan keluarga, komunitas yang kini ia geluti, dan tentu saja bangsa Indonesia.
"Ya, kalau bicara fase hidup saya, awalnya kondisi biasa. Belum kehilangan satu kaki, jadi seperti main sama teman-teman yang lain, main apa saja," kata Agung Rizki Satria.
"Terus kondisi yang sekarang itu karena kecelakaan bareng orang tua. Waktu itu mau mudik ke Palembang dari kampung waktu itu, Tanjung Enim namanya," imbuhnya.
"Ke Palembang naik motor dengan bapak, ibu, dan adik. Saya duduk di depan, di tangki. Sepeda motornya yang ada tangki. Kalau enggak salah waktu itu usia 7 tahun, kelas 2 SD," lanjutnya.
Menurut Agung Rizki Satria, saat kejadian ia sedang tertidur pulas. Jadi ia sama sekali tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ketika sadar, ia tak lagi memiliki kaki yang utuh.
"Waktu kejadian, posisinya saya sedang tidur. Jadi enggak tahu, bagaimana ceritanya. Ketika terbangun kondisi kaki sudah enggak ada lagi, sudah putus. Jadi sadar itu sudah di atas mobil yang kebuka," Agung Rizki Satria menambahkan.
Tak hanya dirinya, kedua orang tuanya cedera. Beruntung, adiknya, yang juga masih sangat kecil kala itu, selamat alias tak mengalami luka berarti.
"Mungkin mobil-mobil pribadi enggak mau mengangkut. Jadi ya, kondisi yang parah yang enggak ada kaki. Orang tua patah tulang, hanya dipasang pen, masih bisa bergerak, masih bisa jalan, dan kalau ibu tangannya sempat patah juga. Kalau adik jatuh saja, enggak kenapa-kenapa," tukas Agung Rizki Satria.
Membutuhkan Waktu untuk Memulihkan Mental
Setelah kecelakaan yang nyaris merenggut nyawa itu, semua tidak lagi sama. Agung Rizki Satria beradaptasi dengan kondisinya yang baru. Ia butuh waktu untuk kembali berjumpa teman-teman.
"Belajar jalan pakai tongkat, belajar adaptasi, ke luar juga butuh waktu. Jadi belum langsung berani memperlihatkan kalau saya pakai tongkat. Butuh waktu," ujarnya.
Melihat kondisi anaknya, kedua orang serta keluarga dekat terus memberikan dukungan dan juga semangat kepada Agung Rizki Satria. Sang anak pun perlahan bangkit.
"Ya, pertama orang tua ya. Mereka memberi semangat, selalu support. Terus, ya teman-teman yang lain juga. Kalau mau main ada yang menemani," tukasnya sembari menambahkan ia mulai mengenal dan menyukai sepak bola tatkala berusia 9 tahun.
"Awalnya main bola itu belum mau, karena dengan kondisi seperti ini mana mau teman-teman yang lain untuk main bareng."
"Namun, waktu itu saya minta dibelikan bola oleh bapak. Saat itu, ya sekitar umur 9 tahun. Melihat teman-teman main bola, tapi kurang berani untuk mengajak."
"Dengan punya bola sendiri, masa ya enggak main. Jadi ya sudah, minta dibelikan bola. Waktu bola mereka bocor, enggak bisa dipakai, hanya saya yang punya bola. Jadi ya sudah bisa main bareng," tutup Agung Rizki Satria.