Kisah Duka Agensi Sepak Bola Indonesia: Dari Cedera, Tuntutan Besar, Hingga Pemain Nakal yang Main Tarkam

Kisah agen sepak bola tak melulu tentang kesuksesan. Seperti profesi lain pada umumnya, pekerjaan seorang agen sepak bola juga tak luput dari nasib apes.

BolaCom | Choki SihotangDiterbitkan 01 Mei 2026, 09:30 WIB
Foto agen pemain Gabriel Budi bersama Ilija Spasojevic di Lapangan Banteng Seminyak. (Bola.com/Maheswara Putra)

Bola.com, Jakarta - Kisah agen sepak bola tak melulu tentang kesuksesan. Seperti profesi lain pada umumnya, pekerjaan seorang agen sepak bola juga tak luput dari nasib apes.

Hal tersebut dibeberkan salah satu agen sepak bola ternama di Indonesia, Gabriel Budi dari Indo Bola Mandiri. Di kancah balbalan Indonesia, khususnya Liga 1, hampir semua mengenal Gabriel Budi.

Advertisement

Profesinya mengharuskan pria berusia 40-an tahun asal Surabaya itu berhubungan dengan sejumlah klub papan atas Indonesia, termasuk beberapa klub di kawasan Asia. 

Ramadhan Sananta, Ilija Spasojevic, Bruno Moreira, Marko Simic, Ryuji Utomo, Gunawan Dwi Cahyo, dan Asnawi Mangkualam merupakan sejumlah pemain yang pernah bekerja sama dengan Indo Bola Mandiri. Termasuk pelatih Stefano Cugurra. 

Lewat kanal YouTube Dens.TV belum lama ini, Gabriel Budi buka-bukaan soal rasa dukanya sebagai agen sepak bola. 

 

 

 

 


Beragam Kondisi Pemain

Gabriel Budi (kanan). (Bola.com/Alit Binawan)

Dari sekian pemain, menurut Gabriel Budi, beberapa di antaranya mengalami nasib yang sama sekali tak diduga sebelumnya. 

"Ada beberapa pemain ya. Maksudnya, dia datang ke kita. Oke, kerja sama. Tapi cedera. Atau kita sukses, good season. Cuma the other season kadang kan pemain atau pelatih sudah wah, sudah sukses, minta harganya sudah terlalu bombastis," kata Gabriel Budi. 

"Dan juga biasanya, ketika itu, kita kan agen perannya adalah, kalau waktu masa sukses sih enak ya. Semuanya pasti mau happy-happy kan. Kontraknya bagus, fasilitas bagus," imbuhnya. 

Masalah cedera dan tak masuk ke dalam rencana pelatih merupakan hal yang paling sulit diterima seorang pemain atau, di sisi yang lain, ketika si pemain sukses, menuntut permintaan di luar batas kepada agensi di mana ia bernaung. 

"Cuma yang sulit adalah ketika pemain injury atau enggak kepakai di sistem taktikal pelatih. Atau ketika sukses, permintaannya sudah di luar batas. Ya, kita perannya apa? Kita sebagai mentoring dong," tukas Gabriel Budi. 

"Kita kan harus mentor mereka. Maksudnya, the real faktornya seperti apa. Kita kasih faktanya. Kalau cedera itu yang paling sulit. Karena semua pemain pasti tak mengharapkan cedera. Tapi bagaimana Anda bangkit? Apalagi  kalau kena cedera ACL". 

 


Pemain Suka Tarkam

Para pemain profesional seperti Gunawan Dwi Cahyo dan Andre Oktaviansyah mengikuti sebuah turnamen Tarkam, Juni 2025. (Dok. Cibinong Cup 2025)

Bagaimana kalau pemain yang bandel, yang sering main di tarkam alias antar kampung misalanya? "Kalau tarkam itu sudah ada di kontrak ya. Mestinya kalau kontrak profesional, kalau kamu injury di tarkam, pasti enggak dicover-lah. Itu maksudnya bridge of kontrak itu kan," ujar Gabriel Budi.

"Itu harus tetap aware ya dari pemainnya. Karena kan kamu pemain profesional. Kamu dibayar untuk berlatih dan bermain di timmu. Jadi, kalau itu, ya ada konsekuensinya memang. Cuma kita harus bicara".

"Harusnya, kalau sekarang ini, pemain lebih dewasa ya. Karena kan zaman sudah global ya. Jadi mereka juga bisa belajar dari pemain senior, pemain asing yang datang. Malah peran pemain dia harus sebagai mentoring pemain lokal," pungkas Gabriel Budi.

Berita Terkait