Mengapa Pemerintah Inggris Bisa Paksa Sheikh Mansour Menjual Manchester City

Pemerintah Inggris berpotensi memaksa Sheikh Mansour menjual Manchester City.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 11 Mei 2026, 09:15 WIB
Foto yang diberikan oleh Pengadilan Kepresidenan UEA ini menunjukkan Wakil Presiden dan Wakil Perdana Menteri UEA, Sheikh Mansour bin Zayed al-Nahyan, tiba di Bandara Internasional Sharm el-Sheikh pada 13 Oktober 2025, menjelang KTT Perdamaian Sharm El-Sheikh. (Eissa AL-HAMMADI/AFP)

Bola.com, Jakarta - Pemilik Manchester City, Sheikh Mansour bin Zayed Al-Nahyan, menghadapi tekanan baru di Inggris di tengah konflik berkepanjangan di Sudan.

Pemerintah Inggris didesak mempertimbangkan sanksi terhadap anggota keluarga kerajaan Uni Emirat Arab (UEA) tersebut karena dugaan keterkaitannya dengan dukungan kepada kelompok paramiliter di Sudan.

Advertisement

Menurut The Athletic, organisasi hak asasi manusia, FairSquare, meminta pemerintah Inggris menyelidiki dugaan hubungan Sheikh Mansour dengan dukungan pemerintah UEA terhadap kelompok Rapid Support Forces (RSF), yang dituduh melakukan kejahatan perang dalam konflik Sudan.

Pemerintah UEA membantah terlibat dalam konflik tersebut.

Konflik di Sudan telah menewaskan sedikitnya 150 ribu orang menurut sejumlah lembaga bantuan internasional dan pemerintah Amerika Serikat.

FairSquare menilai pemerintah Inggris memiliki jalur tekanan yang jelas terhadap Sheikh Mansour melalui kepemilikannya atas Manchester City.


Sheikh Mansour dan RSF

Presiden Uni Emirat Arab, Sheikh Mohamed bin Zayed al-Nahyan kiri) dan pemilik Manchester City, Sheikh Mansour bin Zayed al-Nahyan (dua dari kiri), menonton pertandingan final Liga Champions antara Inter Milan kontra Manchester City di Ataturk Olympic Stadium, Istanbul, pada 10 Juni, 2023. (Franck Fife/ AFP)

Direktur FairSquare, Nick McGeehan, menyebut hubungan Sheikh Mansour dengan RSF bisa menjadi faktor penting jika Inggris serius ingin menekan konflik tersebut.

"Jika pemerintah Inggris serius ingin menghentikan konflik mengerikan ini, hubungan Sheikh Mansour dengan RSF yang sudah terdokumentasi dengan baik serta kepemilikannya atas Manchester City memberikan titik tekanan yang sangat jelas," kata McGeehan.

FairSquare juga mengklaim laporan mereka telah disampaikan langsung kepada Premier League dan regulator independen sepak bola Inggris yang baru dibentuk.

Jika pemerintah Inggris benar-benar menjatuhkan sanksi terhadap Sheikh Mansour, situasinya bisa berdampak besar terhadap Manchester City.

Berdasarkan aturan Premier League mengenai Owners' and Directors’ Test, individu yang terkena sanksi dapat didiskualifikasi dari kepemilikan klub.

Hal ini berarti, Sheikh Mansour berpotensi dipaksa melepas kepemilikan Manchester City.


Kegemilangan Man City

Kapten tim Manchester City, Kyle Walker bersama rekan-rekannya merayakan gelar juara Liga Inggris 2023/2024 setelah mengalahkan West Ham United 3-1 pada laga pekan terakhir Liga Inggris 2023/2024 di Etihad Stadium, Manchester, Minggu (19/5/2024). (AP Photo/Dave Thompson)

Sejak mengambil alih Manchester City pada 2008, Sheikh Mansour mengubah klub tersebut menjadi kekuatan dominan di Inggris dan Eropa.

Di bawah kepemilikannya, The Citizens meraih delapan gelar Premier League, satu trofi Liga Champions, tiga Piala FA, dan tujuh Piala Liga Inggris.

Investasi dari Abu Dhabi juga mengubah kawasan Eastlands di Manchester. Stadion Etihad direnovasi besar-besaran, sementara area di sekitarnya berkembang dengan hadirnya arena musik Co-Op Live, National Cycling Centre, Velodrome, hingga National Squash Centre.

Di sisi lain, Manchester City juga masih menghadapi penyelidikan terkait lebih dari 115 dugaan pelanggaran aturan keuangan Premier League. Klub terus membantah seluruh tuduhan yang diarahkan kepada mereka.


Dibandingkan Kasus Abramovich

Gelar Piala Liga Inggris musim 2005 menjadi trofi pertama Chelsea di bawah kepemimpinan Roman Abramovich. Mereka menyabet tiga Piala Liga Inggris pada tahun 2005, 2007 dan 2015. (AFP/Ben Stansall)

Kasus Sheikh Mansour mulai dibandingkan dengan situasi mantan pemilik Chelsea, Roman Abramovich, pada 2022. Saat itu, aset Abramovich dibekukan pemerintah Inggris setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Chelsea akhirnya dijual kepada konsorsium yang dipimpin Todd Boehly dan Clearlake Capital dengan nilai lebih dari 4 miliar paun.

Hingga kini, Abramovich dan pemerintah Inggris masih terlibat sengketa hukum terkait hasil penjualan klub tersebut.

The Athletic menyebut mereka sudah menghubungi pihak Sheikh Mansour, Premier League, dan pemerintah terkait untuk meminta komentar. Namun, hingga laporan diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari ketiga pihak tersebut.

 

Sumber: Sportbible

Berita Terkait