Piala Dunia 2026 Dibayangi Ancaman Teror Akibat Konflik AS-Iran

Piala Dunia 2026 di dibayangi ancaman teror akibat konflik Amerika Serikat-Iran.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 11 Mei 2026, 16:30 WIB
Sebuah papan bertuliskan "Piala Dunia FIFA 2026" dipajang di Stadion NYNJ, Kamis, 7 Mei 2026, di East Rutherford, N.J. (Foto AP/Yuki Iwamura)

Bola.com, Jakarta - Pertandingan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat disebut menghadapi ancaman teror yang lebih tinggi di tengah memanasnya konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Sejumlah pakar keamanan menilai situasi tersebut diperburuk oleh berkurangnya personel dan sumber daya kontra-terorisme di lembaga penegak hukum federal.

Advertisement

Empat pakar kontra-terorisme yang diwawancarai menyebut ancaman terbesar justru datang dari pelaku ekstremis domestik yang bergerak sendiri atau lone actor.

Mereka biasanya terpapar radikalisme melalui internet, baik dari propaganda politik ekstrem maupun kelompok jihad seperti Islamic State atau ISIS.

"Kita tidak hanya harus melindungi setiap stadion, tetapi juga seluruh rantai menuju pertandingan itu sendiri," kata Javed Ali, profesor asosiasi di Universitas Michigan yang pernah bertugas di FBI, Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, dan Dewan Keamanan Nasional.

"Ada sangat banyak pertandingan, sementara sumber daya untuk mengurangi risiko dari berbagai ancaman jumlahnya terbatas," lanjutnya.


Skala dan Kompleksitas Piala Dunia 2026

Sebuah papan iklan yang mempromosikan Piala Dunia 2026 terlihat di luar Faneuil Hall Marketplace pada 10 Maret 2026 di Boston, Massachusetts. (Maddie Meyer/Getty Images via AFP)

Pada Maret lalu, FBI menggelar latihan besar terkait ancaman domestik dengan menghadirkan agen-agen yang menangani kasus terorisme dalam negeri dari seluruh Amerika Serikat. Latihan tersebut dilakukan sebagai persiapan menghadapi agenda keamanan nasional besar, seperti Piala Dunia.

Satu di antara sumber penegak hukum federal yang hadir dalam latihan itu mengatakan para agen FBI terkejut melihat skala dan kompleksitas pengamanan turnamen tersebut.

"Mereka khawatir karena ada begitu banyak hal yang harus diatasi," kata sumber anonim itu.

"Situasinya akan sulit dikendalikan mengingat kondisi saat ini, ditambah banyaknya lokasi pertandingan dan pesta nonton bareng di seluruh Amerika Serikat. Kemungkinan terjadinya sesuatu yang buruk benar-benar ada."


NSSE dan SEAR

Suasana panggung disela pertandingan NFL Super Bowl 51 football game antara tim Atlanta Falcons melawan New England Patriots, di Houston, AS, (5/2). (AP Photo/Morry Gash)

Amerika Serikat memang berpengalaman mengamankan ajang olahraga besar seperti Super Bowl NFL. Namun, para ahli menilai jumlah pertandingan Piala Dunia 2026 membutuhkan koordinasi dan pengawasan yang jauh lebih besar.

Turnamen berlangsung sekitar enam pekan dengan total 104 pertandingan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Sebanyak 78 laga digelar di wilayah Amerika Serikat, termasuk di Atlanta, Boston, Dallas, Houston, Kansas City, Los Angeles, Miami, Philadelphia, San Francisco Bay Area, Seattle, dan East Rutherford, New Jersey.

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat mengumumkan hanya partai final di Stadion MetLife, East Rutherford, yang mendapat status national special security event (NSSE).

Status tersebut membuat pengamanan dipimpin langsung Dinas Rahasia Amerika Serikat dengan dukungan intelijen FBI serta koordinasi darurat dari the Federal Emergency Management Agency (FEMA).

Sistem keamanan mencakup perimeter ketat, pemeriksaan detektor logam, pembatasan penerbangan sementara, sistem anti-drone, hingga pemantauan kontra-terorisme lintas lembaga federal dan lokal.

Sementara itu, pertandingan lain dikategorikan sebagai special event assessment rating (SEAR) level 1 atau 2, dua tingkat risiko tertinggi untuk acara besar yang juga membutuhkan pengerahan aparat federal.

FEMA telah mengalokasikan dana 625 juta dolar AS untuk mendukung pengamanan dan kesiapsiagaan darurat selama Piala Dunia 2026 berlangsung.


Koordinasi Antarlembaga

Kandidat Partai Republik Donald Trump terlihat dengan wajah berlumuran darah dikelilingi oleh agen dinas rahasia saat ia turun dari panggung pada acara kampanye di Butler Farm Show Inc. di Butler, Pennsylvania, 13 Juli 2024. (Rebecca DROKE / AFP)

Meski stadion dianggap sebagai "target keras" karena memiliki lapisan pengamanan tinggi, para ahli menilai ancaman terbesar justru berada di "target lunak" seperti hotel, pusat transportasi, dan kerumunan suporter di luar stadion.

"Perencanaan pengamanan Piala Dunia 2026 sudah berjalan selama berbulan-bulan dan FBI terus bekerja sama dengan aparat federal, negara bagian, dan lokal," kata juru bicara FBI kepada The Guardian.

"Pertandingan berlangsung di banyak wilayah sehingga membutuhkan kerja sama banyak pihak untuk memastikan keamanan penonton di stadion maupun masyarakat sekitar."

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat juga menyatakan terus bekerja sepanjang waktu untuk mengidentifikasi dan mengurangi potensi ancaman terhadap pertandingan, festival suporter, dan lonjakan lalu lintas perjalanan selama turnamen.

Seluruh 11 kota tuan rumah akan menggelar festival resmi FIFA yang menampilkan layar raksasa, konser, dan hiburan langsung sepanjang turnamen. Selain itu, ribuan acara nonton bersama di bar dan tempat umum diperkirakan memunculkan kerumunan jauh lebih besar di luar stadion resmi.

"Kita tetap akan memiliki kerumunan padat di luar stadion. Ancaman drone juga menjadi kerentanan besar karena perangkat itu mudah didapat dan dioperasikan, termasuk oleh kelompok teroris," kata Colin Clarke dari Soufan Group, perusahaan konsultan intelijen dan keamanan yang berbasis di New York.

Mantan agen CIA dan FBI, Tracy Walder, menyebut koordinasi antarlembaga masih menjadi titik lemah terbesar dalam sistem keamanan Amerika Serikat.

"Yang sering saya lihat, celah keamanan muncul ketika Departemen Keamanan Dalam Negeri, FBI, dan kepolisian lokal gagal saling berkomunikasi. Itu mungkin masalah terbesar kami," ujar Walder.

Walder mencontohkan percobaan pembunuhan terhadap Donald Trump pada kampanye 2024 di Pennsylvania serta penyerbuan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 sebagai contoh buruknya koordinasi antar-aparat.


Sel Tidur

Pemerintah Iran mengecam keras insiden ini sebagai serangan terhadap infrastruktur sipil dan memperingatkan bahwa kerusakan tersebut akan mengganggu lalu lintas di salah satu rute komuter tersibuk di negara itu selama berbulan-bulan. Tampak dalam foto, kondisi sebuah jembatan yang terkena terkena serangan udara Amerika Serikat pada Kamis 2 April 2026 terlihat di Karaj, sebelah barat Teheran, Iran, Jumat, 3 April 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

Para ahli juga menyoroti meningkatnya kerentanan Piala Dunia 2026 akibat konflik dengan Iran. Mereka menyebut Iran memiliki sejarah keterkaitan dengan berbagai rencana serangan terhadap target Amerika Serikat.

Kekhawatiran bertambah karena ada kemungkinan laga Iran melawan Amerika Serikat digelar di Texas pada 3 Juli, sehari sebelum Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Selain itu, keluarga kerajaan Arab Saudi disebut telah memesan satu hotel penuh di Houston selama turnamen berlangsung.

"Ketika keluarga kerajaan Saudi berada sangat dekat dengan lokasi laga Iran melawan Amerika Serikat, situasinya seperti menuangkan bensin ke api," kata sumber penegak hukum federal tersebut.

Meski demikian, sejumlah ahli menilai kekhawatiran mengenai "sel tidur" teroris asing di Amerika Serikat masih berlebihan.

"Iran sebenarnya tidak memiliki cukup orang di sini untuk melakukan serangan langsung," ujar Ali.

Menurutnya, kelompok yang berafiliasi dengan Iran selama ini lebih sering menggunakan jaringan kriminal lokal untuk menjalankan aksi, termasuk melalui skema pembunuhan bayaran.

Ali mencontohkan upaya pembunuhan mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, John Bolton, pada 2022 yang dituduhkan melibatkan warga Iran terkait Garda Revolusi Iran.

Iran juga disebut berada di balik sejumlah percobaan pembunuhan terhadap aktivis oposisi Iran yang tinggal di New York, Masih Alinejad.

Di sisi lain, ancaman dari ekstremis domestik dinilai jauh lebih sulit dideteksi.

"Saat ini kita hidup dalam lingkungan dengan tingkat ancaman tinggi," kata Walder.

"Anda tidak bisa membunuh sebuah ideologi. Pemimpinnya bisa disingkirkan, tetapi akan selalu muncul pengganti. Ide itu tidak akan pernah mati. Kita hanya tinggal beberapa langkah lagi dari serangan besar berikutnya."


Ancaman Baru dari Teknologi

Presiden AS Donald Trump berbicara selama konferensi pers di Ruang Briefing Brady Gedung Putih pada 25 April 2026 di Washington, DC. Presiden Trump memberikan pernyataan setelah pembatalan Makan Malam Tahunan Asosiasi Koresponden Gedung Putih menyusul kemungkinan penembakan. (Andrew Leyden/Getty Images via AFP)

Beberapa insiden terbaru disebut memperlihatkan ancaman tersebut. Pada April, seorang pria bersenjata menyerang acara makan malam koresponden Gedung Putih.

Pada 1 Januari 2025, seorang pria menabrakkan mobil pikap ke kerumunan di Bourbon Street, New Orleans, lalu menembaki warga hingga menewaskan 14 orang. Bendera ISIS ditemukan di dalam kendaraannya.

Pada Maret, seorang penyerang yang sebelumnya pernah dihukum karena mendukung ISIS melepaskan tembakan ke kelas pelatihan Reserve Officers' Training Corps (ROTC) di Universitas Old Dominion. Satu instruktur tewas dan dua kadet terluka dalam insiden tersebut.

Clarke menilai perhatian pemerintah Amerika Serikat terhadap kontra-terorisme mulai berkurang.

"Saya rasa pemerintahan saat ini tidak cukup serius menangani kontra-terorisme. Sumber daya dialihkan ke prioritas lain," katanya.

Ia juga memperingatkan ancaman baru dari teknologi seperti serangan drone dan serangan siber.

"Kondisi teknologi sekarang sangat berbeda dibanding 2001. Dengan jumlah orang yang lebih sedikit, kerusakan besar tetap bisa terjadi," ujar Walder.

Kekhawatiran lain muncul setelah unit kontra-intelijen FBI bernama CI-12 dibubarkan pada Februari lalu. Unit yang berbasis di Washington itu sebelumnya bertugas memantau mata-mata asing dan ancaman terorisme terhadap Amerika Serikat.

"Banyak orang kehilangan pekerjaan dan alasannya tidak selalu jelas. Bahkan tampaknya bukan karena performa kerja," kata Ali.

Ali menilai koordinasi intelijen lintas lembaga sangat penting untuk mendeteksi tanda-tanda awal ancaman, terutama yang berkaitan dengan Iran.

"Harapan saya, keputusan-keputusan yang diambil sekarang tidak membuat FBI kehilangan kemampuan menjalankan misi keamanan nasionalnya karena itu justru membuat negara menjadi kurang aman," ujar Ali.

 

Sumber: The Guardian

Berita Terkait