Piala Dunia 2026 Tinggal Sebulan Lagi, Euforia Mulai Naik tapi Kontroversi Belum Juga Hilang

Piala Dunia 2026 kini tinggal menghitung minggu. Turnamen terbesar di dunia itu akan resmi dimulai pada 11 Juni mendatang dengan format baru yang jauh lebih besar dibanding edisi-edisi sebelumnya.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 11 Mei 2026, 19:30 WIB
Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 kini tinggal menghitung minggu. Turnamen terbesar di dunia itu akan resmi dimulai pada 11 Juni mendatang dengan format baru yang jauh lebih besar dibanding edisi-edisi sebelumnya.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Dunia akan diikuti 48 negara dan digelar di tiga tuan rumah sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Total ada 16 kota yang akan menggelar pertandingan hingga final di MetLife Stadium, New Jersey, pada 19 Juli 2026.

Advertisement

Meski skala turnamen semakin masif, atmosfer menuju Piala Dunia 2026 justru dinilai berbeda. Di media sosial dan forum sepak bola internasional, banyak fans merasa hype turnamen kali ini belum semeriah edisi-edisi sebelumnya. Ada yang menilai format tiga negara membuat nuansa turnamen terasa terpecah, sementara sebagian lainnya menyoroti kondisi global yang sedang penuh ketidakpastian.

Di sisi lain, FIFA juga mulai menghadapi berbagai isu nonteknis menjelang kick-off. Mulai dari persoalan tiket, hak siar, hingga kontroversi kebijakan baru yang memunculkan perdebatan di kalangan penggemar sepak bola dunia.

 


Format Baru, Pertandingan Lebih Banyak

Ilustrasi, logo Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah dengan total 104 pertandingan. Format baru ini membuat fase gugur dimulai dari babak 32 besar, bukan lagi 16 besar seperti sebelumnya.

FIFA juga menyiapkan berbagai gebrakan baru demi membuat turnamen terasa lebih spektakuler. Salah satunya adalah rencana menghadirkan halftime show pada final Piala Dunia, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam sejarah turnamen.

Selain itu, masing-masing negara tuan rumah juga akan memiliki seremoni pembukaan sendiri. Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat akan menggelar opening ceremony dengan konsep hiburan berbeda-beda, lengkap dengan penampilan musisi internasional.

Namun, ekspansi besar-besaran ini juga memunculkan kritik. Banyak fans menganggap jumlah pertandingan yang terlalu banyak membuat kualitas kompetisi berpotensi menurun dan jadwal perjalanan antarkota menjadi terlalu melelahkan bagi suporter maupun pemain.

 


Tiket Mahal dan Kontroversi FIFA Jadi Sorotan

Sebuah papan iklan yang mempromosikan Piala Dunia 2026 terlihat di luar Faneuil Hall Marketplace pada 10 Maret 2026 di Boston, Massachusetts. (Maddie Meyer/Getty Images via AFP)

Persoalan tiket menjadi salah satu isu paling ramai dibicarakan menjelang turnamen. Di berbagai forum penggemar sepak bola, banyak fans mengeluhkan harga tiket yang dianggap terlalu mahal, terutama karena biaya perjalanan di Amerika Utara juga tinggi. Beberapa suporter bahkan memilih menunggu mendekati hari pertandingan karena yakin harga resale akan turun drastis.

FIFA juga tengah menghadapi persoalan hak siar di pasar besar seperti China dan India. Hingga kini, kesepakatan siaran di dua negara tersebut belum sepenuhnya rampung, sesuatu yang dianggap berpotensi mengurangi jangkauan global Piala Dunia 2026.

Kontroversi lain muncul dari kebijakan disiplin FIFA. Federasi sepak bola dunia itu baru saja mengubah aturan hukuman kartu agar beberapa pemain bisa tetap tampil di fase grup Piala Dunia. Kebijakan tersebut memicu perdebatan karena dianggap terlalu fleksibel demi menjaga kehadiran bintang-bintang besar di turnamen.

Terlepas dari semua kontroversi itu, Piala Dunia tetap menjadi magnet terbesar sepak bola dunia. Apalagi edisi 2026 kemungkinan akan menjadi panggung terakhir bagi sejumlah legenda seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo di turnamen terbesar dunia.

Berita Terkait