Sukses


Tim Grup C Piala Eropa 2016: Jerman

Bola.com — Dari 28 Januari 1900, ketika didirikannya Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), hingga momen Piala Dunia pada 13 Juli 2014, tim nasional Jerman sudah meraih empat gelar juara dunia dan tiga trofi juara Piala Eropa.

Untuk ukuran negara di UEFA, Jerman adalah penguasa Eropa. Memang, jumlah gelar juara Piala Dunia sama dengan yang diraih Italia, tetapi Negeri Piza itu baru sekali meraih gelar juara Piala Eropa.

Bicara Jerman, mental dan semangat bermain menjadi salah satu acuannya. Tim yang dikenal dengan julukan Panzer ini tidak pernah menyerah sedikit pun hingga wasit meniup peluit panjang. Tidak heran dari tujuh trofi juara di turnamen mayor yang dimiliki, banyak gol di pertandingan final tercipta saat memasuki menit-menit genting.

Dalam empat final Piala Dunia, gol penentu kemenangan Jerman tercipta pada 10 menit terakhir pertandingan, baik pada babak pertama maupun kedua. Final Piala Dunia 1954, Helum Rahn mencetak gol pada menit ke-84 untuk memastikan kemenangan 2-1 Jerman, yang kala itu masih memakai nama Jerman Barat, atas Hungaria.

Kemudian pada final Piala Dunia 1974, Gerd Mueller mencetak gol penentu pada menit ke-43 ke gawang Belanda. Sebelumnya pada menit kedua, Belanda sudah unggul 1-0 dan disamakan Breitner menit ke-25.

Pada final di Stadion Olimpico Roma, 8 Juli 1990, Jerman Barat menang 1-0 atas Argentina. Gol tunggal dicetak Andreas Brehme pada menit ke-85, sementara pada final Piala Dunia 2014, gol tunggal Jerman dicetak Mario Goetze ke gawang Argentina pada perpanjangan waktu babak kedua, tepatnya menit ke-113.

Sementara itu, pada tiga final Piala Eropa, hanya final pada 1954 Jerman menang dalam situasi normal. Ketika itu, kemenangan 3-0 atas Uni Soviet tercipta pada menit ke-27 dan 58 oleh Gerd Mueller dan menit ke-52 oleh Herbert Wimmer.

Pada dua final Piala Eropa lainnya, momen kemenangan Jerman Jerman Barat terbilang mendebarkan. Pada final Piala Eropa 1980 Jerman mengalahkan Belgia 2-1. Unggul lebih dulu pada menit ke-10 melalui Horst Hrubesch, Belgia menyamakan kedudukan dari titik putih pada menit ke-75. Namun, Hrubesch kembali mencetak gol saat pertandingan babak kedua menyisakan waktu dua menit.

Momen Jerman di final Piala Eropa 1996 menghadapi Republik Ceko juga berakhir dramatis. Tertinggal lebih dulu sejak menit ke-59 dari eksekusi penalti Patrick Berger, Jerman bangkit lewat dua gol Oliver Bierhoff. Gol penentu kemenangan yang dicetak Bierhoff terjadi pada perpanjangan waktu menit ke-95 dan menjadi golden goal dalam aturan sudden death.

Dengan fakta seperti itu, setiap tim yang menghadapi Jerman selalu berhati-hati. Jerman adalah timnas yang lambat panas sehingga sering ketinggalan lebih dulu sebelum bangkit mengejar dan memenangi pertandingan. Semua lawan pun wajib menjaga konsentrasi penuh selama 90 menit untuk mengimbangi daya juang khas Tim Panser.

Di sisi lain, berdasarkan statistik yang ada, sejak pertama kali bertanding di level internasional melawan Swiss, 5 April 1908, hingga terbaru, 13 November 2015 melawan Prancis, Jerman sudah turun dalam 901 pertandingan. Hasilnya 530 kali menang, 176 seri, dan 195 kalah.

Untuk catatan mencetak gol, timnas Jerman sudah membukukan 2.009 dan kebobolan 1.064 gol. Dari situ rata-rata mencetak gol adalah 2,22 per pertandingan dan kebobolan 1,17 per pertandingan.

Bintang:

Thomas Muller

Bintang tim nasional Jerman, Thomas Muller. (AFP/Franck Fife).

Harga 75 juta euro (Rp 1,2 triliun) di pasar transfer pemain dunia, berdasarkan Tranfermarkt, sudah menunjukkan bagaimana kualitas Thomas Muller. Harganya memang belum menyamai Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi, tetapi banderol harga itu memperlihatkan betapa sulitnya menggaet bintang satu ini.

Muller adalah pemain serbisa di lini serang Bayern Munchen, sekaligus timnas Jerman. Pemain yang memiliki kontrak bersama Bayern hingga 2021 itu, merupakan berlian dalam generasi emas timnas Jerman.

Diboyong Bayern Munchen atas saran pemandu bakat saat melihatnya di TSV Pahl Jugend pada 2000, Muller berubah menjadi predator yang menakutkan. Ketika diboyong Bayern, saat itu usia Muller masih 11 tahun.

Menjalani karier sejak kecil di tim muda Bayern, pemain kelahiran Weilheim, 13 September 1989, itu mendapatkan promosi ke tim senior pada 2009. Adalah Louis van Gaal yang pada waktu itu memberinya surat promosi ke tim senior. Sejak promosi ke tim senior, performa Muller langsung memikat.

Panggilan ke timnas senior pun tidak butuh waktu lama. Pada 3 Maret 2010, pemain ini melakoni debut berkostum timnas senior. Hingga kini Muller sudah mencetak 68 caps dengan koleksi 31 gol bersama Jerman.

Dari segi posisi bermain, Muller bisa menjalani peran sebagai penyerang sayap, second striker, hingga striker murni. Tidak heran bila kemampuan itu membuat pelatih timnas senior Jerman, lebih leluasa dalam meracik taktik dan strategi. Terutama jika ingin menerapkan skema false nine atau striker palsu.

Pemain yang memiliki tinggi 186 cm ini sudah bergelimang prestasi. Di level klub, Muller sudah meraih segala-galanya. Bersama Bayern Munchen, ia sudah mengoleksi empat trofi juara Bundesliga, tiga trofi DFB Pokal atau Piala Jerman, dua trofi Piala Super Jerman, satu Liga Champions, satu Piala Super Eropa, dan satu Piala Dunia Klub.

Bahkan untuk prestasi di level timnas, Muller sudah mencapai puncaknya, yaitu juara Piala Dunia 2014. Saat Jerman meraih gelar juara dunia di Brasil itu, Muller menjadi salah satu elemen penting dalam tim asuhan Joachim Low.

Meski begitu, ada satu trofi juara yang belum mampu diraih Muller, yaitu Piala Eropa. Pencapaian terbaik Muller bersama timnas Jerman di Piala Eropa hanya finis sebagai semifinalis 2012.

Itulah mengapa Piala Eropa 2016 Prancis, menjadi kesempatan emas buat Muller meraih gelar juara. Apalagi skuat Jerman sekarang ini tidak jauh berbeda dari generasi juara di Piala Dunia 2014 Brasil.

Pelatih: 

Joachim Low

Pelatih tim nasional Jerman, Joachim Low. (AFP/Patrik Stollarz).

Durasi 18 tahun bukan waktu yang singkat buat timnas sekelas Jerman untuk mengalami paceklik gelar. Sejak terakhir kali meraih trofi juara di turnamen mayor, yaitu Piala Eropa 1996, Jerman baru kembali merengkuh titel juara pada Piala Dunia 2014. Keberhasilan menyudahi hampa gelar itu dilakukan Joachim Low, pelatih kelahiran Schonau, 3 Februari 1960.

Menggantikan Jurgen Klinsmann usai Piala Dunia 2006, Low berhasil menyejajarkan dirinya dengan pelatih timnas Jerman yang mampu meraih gelar juara Piala Dunia. Tiga pelatih Jerman sebelumnya yang sukses mempersembahkan trofi juara Piala Dunia adalah Sepp Herberger (1954), Helmut Schon (1974), dan Franz Beckenbauer (1990).

Total hingga saat ini Jerman sudah mengoleksi empat gelar juara Piala Dunia. Selama hampir 10 tahun menangani Jerman, Joachim Low sudah menjalani 127 pertandingan di berbagai ajang. Hasilnya adalah 85 kali menang, 22 kali seri, dan 20 kali kalah. Produktivitas yang dicatat adalah mencetak 310 gol dengan 124 kebobolan.

Sebelum menjadi pelatih Jerman, nama Low terdengar asing buat para pecandu sepak bola dunia. Hal itu bisa dimaklumi karena sepanjang kariernya, baik sebagai pemain maupun pelatih, Low tidak pernah berada di klub tenar.

Sebagai pemain Low hanya menjadi pemain di Freiburg, VfB Stuttgart, Karlsruher, hingga klub divisi bawah FC Schaffhausen, FC Winterthur, dan FC Frauenfeld. Bermain sebagai gelandang serang, Low bahkan tidak pernah mendapatkan panggilan timnas.

Ketika menjadi pelatih, Low juga hanya pernah menangani FC Frauenfeld, VfB Stuttgart, Fenerbahce, Karlsruher, Adanaspor, Tirol Innsbruck, hingga Austria Wien.

Tetapi, peruntungannya berubah saat diajak Klinsmann menjadi asisten pelatih timnas pada 2004. Ketika DFB memutuskan berpisah dengan Klinsmann, Low, yang dipandang tahu bagaimana mengelola skuat warisan Klinsmann, dipilih untuk mengisi kursi pelatih kepala timnas Jerman.

Kini, di Piala Eropa 2016, Joachim Low berpeluang menyamai torehan Helmut Schon, satu-satunya pelatih Jerman yang mampu mengawinkan gelar juara Piala Eropa dengan Piala Dunia. Peluang Low terbilang besar karena saat ini Jerman memiliki status juara dunia, plus masih berada di usia puncak generasi emas pemain Jerman.

Legenda: 

Franz Beckenbauer

Legenda tim nasional Jerman, Franz Beckenbauer (tengah), saat masih menjadi pelatih Der Panzer. (AFP/STF).

Franz Beckenbauer adalah mantan pemain dan pelatih timnas Jerman. Saat masih aktif bermain, dia memiliki julukan Der Kaiser alias Sang Kaisar.

Julukan itu disematkan karena performanya yang elegan, mampu mendominasi permainan, dan kepemimpinannya di lapangan yang penuh kharisma. Ditambah lagi dengan posisinya sebagai libero atau sweeper pada masanya, membuat Beckenbauer begitu disegani, baik kawan maupun lawan.

Buat publik Jerman, "Sang Kaisar" adalah segala-galanya. Beckenbauer mencatat caps timnas sebanyak 103 pertandingan dan tampil dalam tiga edisi Piala Dunia. Dia merupakan salah satu dari dua orang yang mampu meraih gelar juara Piala Dunia, baik sebagai pemain maupun pelatih. Satu orang lainnya adalah Mario Zagallo.

Sebagai kapten timnas, Beckenbauer mengangkat trofi Piala Dunia 1974 dengan ban kapten melingkar di lengannya. Kemudian sebagai pelatih timnas, ia mempersembahkan titel juara di ajang Piala Dunia 1990.

Beckenbauer juga orang pertama yang berhasil meraih trofi Piala Dunia dan Piala Eropa sebagai kapten. Tidak heran bila FIFA memasukkannya sebagai salah satu sosok dalam Tim Dunia Abad ke-20.

Saat ini Beckenbauer yang sudah berusia 70 tahun, masih menjadi figur yang dihormati dalam persepakbolaan Jerman. Ia juga pernah menjadi tokoh penting dalam terpilihnya Jerman sebagai tuan rumah Piala Dunia 2006. Dalam beberapa kali kesempatan, Beckenbauer sering jadi analis dan komentator.

Sumber: Berbagai sumber

Saksikan cuplikan pertandingan dari Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Prancis dengan kualitas HD di sini

Sepak Bola Indonesia

Video Populer

Foto Populer