Sukses


Evolusi Formasi 4-3-3 yang Semakin Menggelitik : Taktik, Nostalgia, dan Masa Depan

Bola.com, Jakarta - Setamsil sayur tanpa garam, demikianlah juga sepak bola tak mungkin lepas dari apa yang disebut formasi atawa pola permainan. Formasi ini sangat menentukan hasil akhir, meski tak ada jaminan kemenangan menjadi milik di ujung laga.

Tapi, setidaknya, kejelian seorang pelatih menentukan formasi menjadi modal besar guna menggapai hasil positif. Satu di antara formasi yang masih diterapkan hingga sekarang adalah 4-3-3.

Dalam sejarah sepak bola yang panjang, skema ini telah menghasilkan terciptanya beberapa tim paling paling menarik di pentas balbalan dunia. Semua gara-gara strategi tradisional 4-3-3.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

 

2 dari 3 halaman

4-3-3 Tradisional

Dari sudut pandang menyerang, formasi 4-3-3 telah menjadi favorit para pelatih di level elit. Secara tradisional, sistem 4-3-3 memungkinkan keterlibatan yang lebih besar dari penyerang sayap dalam upaya mereka memanfaatkan ruang atau lebar lapangan.

Penyerang seperti itu tidak hanya memperlebar lapangan, mereka juga memberikan jalan keluar bagi rekan satu timnya ketika lini tengah menjadi padat. Ini dirancang meregangkan lini belakang lawan untuk memungkinkan lebih mudahnya lari dari pemain ketiga.

Jude Bellingham dari Real Madrid baru-baru ini menunjukkan bagaimana seorang gelandang ofensif dapat menggunakan sistem ini untuk meningkatkan penampilannya. Liverpool asuhan Jurgen Klopp mendasarkan Gegenpressing mereka pada formasi ini.

Latarnya tak lain karena memungkinkan mobilitas ke depan yang lebih besar selama serangan balik. Singkatnya, 4-3-3 disukai semua orang, terutama tim berkantong tebal yang mampu membeli pemain sayap mewah.

Itu sebabnya, 4-3-3, yang disukai oleh orang-orang puritan seperti Johan Cruyff, bisa dibilang merupakan formasi sepak bola yang paling sakral. Pilihan tersebut menjadi gagasan romantis tentang bagaimana sepak bola seharusnya dimainkan, meskipun Cruyff kemudian dikenal karena 'sistem berlian'-nya.

 

3 dari 3 halaman

4-3-3 atau kembalinya 2-3-5?

Dalam bukunya 'Inverting the Pyramid: The History of Football Tactics', penulis sepakbola Jonathan Wilson menjelaskan secara rinci tentang 2-3-5. Literatur itu menjelaskan, poin ini adalah sistem yang pertama kali dikembangkan di Inggris pada tahun 1920-an.

Namun, seiring berjalannya waktu, sistem ini disempurnakan di belahan dunia lain. Karena sepak bola menyerang sangat diminati, tim pun menjadi lebih berani.

“Di Eropa Tengah dan Amerika Selatan, di mana sikap terhadap Inggris lebih skeptis, sepak bola mulai berkembang. Formasi 2-3-5 dipertahankan, namun bentuk hanyalah sebagian saja; ada juga gaya lain yang mengembangkan bentuk permainan yang lebih halus," tulis Wilson, di halaman 37 buku tersebut.

Formasi 2-3-5 bisa dibilang merupakan formasi menyerang pertama yang benar-benar hebat dalam sepak bola, selain menjadi salah satu sistem pertama yang dikembangkan secara penuh. Tim mulai menggunakan bentuk tersebut hingga tahun 1940-an dalam beberapa rupa, hingga pertahanan diberi prioritas.

Namun, jika kita bisa mempercayai tren terkini dalam sepak bola, tampaknya pola 2-3-5 kembali muncul. Hal ini diperkenalkan secara diam-diam oleh beberapa manajer paling elit di dunia sepakbola. Kini, kedok 4-3-3, 3-5-2 atau 4-2-3-1, zon aksi 2-3-5 selalu hadir, dalam sebagian besar permainan.

Sumber : Sportskeeda

Video Populer

Foto Populer