24 Jam yang Mengoyak Klaim Premier League Sebagai Liga Terbaik di Dunia

Hasil yang ditorehkan enam wakil Inggris di leg pertama babak 16 besar Liga Champions dinilai "merusak" citra Premier League sebagai liga terkuat di dunia.

Bola.com, Jakarta - Dalam kurun 24 jam, dominasi Premier League di mata dunia merosot tajam. Kekalahan telak Manchester City dari Real Madrid di leg pertama babak 16 besar Liga Champions menjadi simbol dari periode suram di mana reputasi liga yang mengklaim sebagai terbaik di dunia mengalami kerusakan serius.

Man City kini menghadapi tugas berat. Tim asuhan Pep Guardiola itu menderita nasib mirip Tottenham Hotspur, yang sehari sebelumnya dipermalukan Atletico Madrid 2-5 di ibu kota Spanyol.

Real Madrid unggul 3-0 berkat hattrick brilian Federico Valverde di babak pertama, memberi mereka posisi nyaman jelang leg kedua babak 16 besar.

Chelsea pun tak jauh berbeda. Tim London itu runtuh di babak kedua saat dibantai Paris Saint-Germain (PSG) dengan skor sama seperti Spurs.

Liverpool kalah 0-1 dari Galatasaray, sedangkan Arsenal dan Newcastle masing-masing hanya bermain imbang melawan Bayer Leverkusen dan Barcelona.

"Melihat defisit yang harus dikejar City dan Chelsea di laga kandang mereka, meski masih ada keyakinan bisa membalikkan keadaan, menurut saya jarak yang harus ditempuh terlalu besar," ujar Nedum Onuoha, pakar BBC Sport.

"Jadi, meski peluang masih ada untuk semua tim Inggris, margin kesalahan mereka kini sangat tipis," imbuhnya.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Siraman Dingin bagi Klaim Premier League

Premier League sempat menonjolkan kekuatannya dengan mengirim enam tim ke babak 16 besar Liga Champions, tetapi hasil di lapangan menjadi siraman dingin bagi klaim superioritas itu.

Kekalahan Man City dan Chelsea menambah daftar buruk setelah Liverpool dan Spurs tumbang sehari sebelumnya.

Arsenal, yang memimpin klasemen liga domestik, bahkan membutuhkan penalti Kai Havertz di menit terakhir untuk menyelamatkan satu poin dari Bayer Leverkusen, klub peringkat enam Bundesliga.

Tottenham dipermalukan Atletico, Liverpool takluk dari Galatasaray, sementara Newcastle hanya gagal menang karena penalti terakhir Barcelona di St James' Park.

Jika klaim Premier League sebagai liga terkuat Eropa ingin dipertahankan, leg kedua akan membutuhkan penampilan besar dari tim-tim Inggris.

Lima dari enam tim bermain di leg pertama sebagai tim tamu, dengan Man City, Chelsea, dan Spurs harus mengejar defisit tiga gol. Hanya Arsenal dan Liverpool yang masih memiliki peluang realistis lolos.

 

Guardiola dan Ambisi yang Terbayar Mahal

Pep Guardiola menurunkan tim penuh pemain menyerang untuk menghadapi Real Madrid. Namun, strategi agresif itu justru dimanfaatkan oleh Madrid yang, meski juga tampil pincang karena cedera, cukup cerdik untuk mengekspos kelemahan The Citizens.

Gol pertama Real menjadi contoh sempurna. Sebuah umpan panjang rutin dari Thibaut Courtois melewati kepala Nico O'Reilly, diteruskan Valverde yang lolos dan menaklukkan Gianluigi Donnarumma.

Guardiola menyadari performa timnya layak lebih baik, tetapi ia juga mengakui betapa beratnya tugas membalikkan keadaan.

"Kami mungkin tidak punya banyak kesempatan untuk membalikkan keadaan. Tapi, tentu kami akan mencoba," ujar Guardiola.

"Permainan kami sebenarnya tidak seburuk hasil akhir. Kami telah berusaha maksimal. Kami tidak menciptakan cukup peluang, tapi Real Madrid selalu berbahaya," kilahnya.

Donnarumma sempat memberi harapan dengan menyelamatkan penalti Vinicius di babak kedua.

"Skor 3-0 tentu lebih baik dibanding 4-0. Hasil ini berat, tapi kami punya enam hari untuk pulih dan mencoba lagi," kata Guardiola.

 

Peluang Tim Inggris untuk Lolos

Setelah leg pertama, semua tim Inggris diprediksi memiliki peluang lebih rendah untuk mencapai perempat final menurut Opta.

Namun, pakar BBC, Stephen Warnock, masih melihat secercah harapan.

"Menurut saya, peluang masih ada di tangan Liverpool dan Arsenal, lebih daripada tim lainnya," ujarnya.

"Newcastle imbang, tapi defisit tim lain terlalu besar. Chelsea dan City rentan di lini belakang, Spurs tidak stabil. Liverpool menghadapi laga sulit, tapi Anfield akan luar biasa lagi," ulasnya.

Man City memiliki kualitas untuk membalikkan keadaan, meski Real tetap favorit. Spurs dan Chelsea, sebaliknya, tampak hampir mustahil lolos. Bahkan belum ada kepastian apakah manajer interim, Igor Tudor, masih memimpin Spurs untuk leg kedua.

Spurs pun mungkin melihat leg kedua sebagai beban tambahan, mengingat perjuangan mereka di Premier League yang hanya satu poin di atas zona degradasi.

Sementara itu, perlakuan Tudor terhadap kiper muda, Antonin Kinsky, yang diganti setelah 17 menit karena dua kesalahan, menambah sorotan terhadap kesulitan Spurs.

Dua hari buruk bagi tim Inggris ini meninggalkan reputasi Premier League ternoda, dan kini semua bergantung pada leg kedua untuk mencoba memperbaikinya.

Peluang Wakil Inggris Mencapai Perempat Final Liga Champions

Tim - % peluang sebelum leg pertama - % peluang setelah leg pertama

1. Arsenal - 85,8% - 77,9%

2. Liverpool - 82,3% - 53,8%

3. Man City - 64,3% - 9,4%

4. Chelsea - 53,3% - 7,3%

5. Newcastle - 44,7% - 32,2%

6. Tottenham - 46,3% - 3,3%

 

Sumber: BBC

Video Populer

Foto Populer