Setelah GP Bahrain dan Arab Saudi, Satu Balapan F1 Lagi Terancam Batal

GP Bahrain dan Arab Saudi batal, kini satu seri F1 lagi juga terancam.

Bola.com, Jakarta - Formula 1 musim ini kembali dibayangi ketidakpastian, bahkan sebelum memasuki fase padat pertengahan tahun. Setelah dua seri di Timur Tengah resmi dibatalkan, kekhawatiran kini meluas karena sejumlah balapan lain juga terancam bernasib serupa.

GP Bahrain dan Arab Saudi yang semula dijadwalkan berlangsung pada April 2026 sudah lebih dulu dicoret dari kalender.

Dalam pernyataan resminya, Formula 1 menjelaskan keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan situasi keamanan di kawasan tersebut.

"Hari ini telah dikonfirmasi bahwa, setelah evaluasi menyeluruh, karena situasi yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah, Grand Prix Bahrain dan Arab Saudi tidak akan digelar pada April," tulis pernyataan tersebut.

F1 juga memastikan tidak ada pengganti untuk slot tersebut.

"Meski beberapa alternatif telah dipertimbangkan, pada akhirnya diputuskan tidak akan ada pengganti pada April. Seri Formula 2, Formula 3, dan F1 Academy juga tidak akan berlangsung sesuai jadwal. Keputusan ini diambil melalui konsultasi penuh dengan FIA dan para promotor terkait."

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

GP Azerbaijan Disorot

Setelah pembatalan itu, perhatian kini tertuju pada sejumlah balapan lain yang statusnya mulai dipertanyakan. GP Azerbaijan menjadi satu di antara yang disorot, bersama dua seri penutup musim yang dijadwalkan berlangsung di akhir tahun.

Meski Baku belum terdampak langsung oleh serangan drone, kekhawatiran muncul terkait keamanan perjalanan karena lokasinya yang berdekatan dengan zona konflik, terutama jika tensi terus meningkat dalam beberapa pekan ke depan.

Secara kalender, terdapat jeda dua pekan sebelum dan sesudah balapan tersebut, yang secara teori memberi fleksibilitas.

Namun, dalam kondisi saat ini, makin sulit memastikan bahwa penyelenggaraan balapan di kawasan tersebut tetap aman dan layak.

Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, menegaskan bahwa faktor keselamatan menjadi prioritas utama.

"FIA akan selalu menempatkan keselamatan dan kesejahteraan komunitas serta kolega kami sebagai prioritas utama. Setelah mempertimbangkan dengan saksama, kami mengambil keputusan ini dengan tanggung jawab tersebut sebagai dasar," ujarnya.

Faktor Geografis

Jurnalis Julianne Cerasoli juga menyoroti faktor geografis Azerbaijan sebagai satu di antara sumber kekhawatiran.

"Hal utama yang memengaruhi situasi Grand Prix Azerbaijan, yang dijadwalkan pada September, adalah karena negara itu berbatasan langsung dengan Iran," katanya.

Sementara itu, situasi untuk dua seri penutup musim di Qatar dan Abu Dhabi masih relatif lebih longgar. Pihak F1 disebut merasa memiliki cukup waktu untuk memantau perkembangan sebelum mengambil keputusan.

Sebagai perbandingan, MotoGP sebelumnya juga mengubah jadwal balapan di Qatar yang semula direncanakan pada April menjadi awal November. Jadwal baru tersebut kini hanya berjarak tiga pekan dari rencana kedatangan Formula 1.

Namun, jika situasi memburuk, skenario yang lebih ekstrem tidak bisa diabaikan. Seluruh balapan di Timur Tengah, ditambah Azerbaijan, berpotensi dihapus dari kalender.

Jika itu terjadi, musim F1 akan menyisakan hanya 17 balapan, jumlah yang sama dengan musim 2020 yang terdampak pandemi dan menjadi yang terpendek dalam dua dekade terakhir.

Formula 1 telah menunjukkan kesiapan untuk bergerak cepat dalam situasi darurat. Namun, dengan tim, pembalap, dan seluruh personel membutuhkan kepastian jauh hari, waktu menjadi faktor krusial. Ketidakjelasan yang berlarut-larut hanya akan menambah tekanan di balik layar.

 

Sumber: Give Me Sport

Video Populer

Foto Populer