Alfred Riedl: Keluar dari Zona Nyaman, Akrab dengan Tekanan

oleh Aning Jati diperbarui 23 Jun 2016, 18:45 WIB
Alfred Riedl buka-bukaan perihal apa yang membuatnya bersedia kembali menerima tawaran jadi pelatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2016.

Bola.com, Sentul - "Halo, bagaimana kabarmu? Lama tidak berjumpa," begitu sapaan tegas namun hangat dari Alfred Riedl kepada Bola.com. Tidak banyak yang berubah dari sosok Alfred Riedl. Pelatih asal Austria itu masih memiliki sorot mata tajam, bicara dengan nada tegas kepada lawan bicaranya.

Di balik wajah seriusnya, pelatih 66 tahun itu tetap sosok yang gemar bercanda, seperti yang selama ini kerap ditunjukkannya kala berbicara dengan para jurnalis olah raga di Indonesia.

Meski begitu, ada satu hal yang terlihat berbeda dengan Alfred. Badan pelatih yang mengantongi lisensi kepelatihan UEFA Pro terlihat lebih berisi, tidak seperti kala membesut Timnas Indonesia pada 2010, 2012, dan 2014. 

Advertisement

Kepada Bola.com yang menemuinya di Hotel Lor In, Sentul, Minggu (19/6/2016), Alfred mengaku sangat sehat dan siap secara fisik dan mental untuk kembali ke Indonesia dengan menerima tawaran jadi pelatih Timnas Indonesia untuk kesekian kalinya.

"Kalau saya merasa sakit, tentu saya tak akan ke mari (Indonesia)," ujarnya dengan tegas.

Dalam sesi wawancara itu, Alfred dengan gamblang menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan Bola.com kepadanya. Berikut wawancara Bola.com dengan pelatih Timnas Indonesia proyeksi Piala AFF 2016 itu secara eksklusif:

Setelah setahun lebih, bagaimana rasanya kembali ke Indonesia lagi?
Semuanya baik-baik saja. Apa yang berubah dalam jangka waktu setahun, selain Anda bertambah tua?

Bagaimana prosesnya sampai Anda setuju jadi pelatih Timnas Indonesia lagi?
Prosesnya terbilang singkat. PSSI membuat tawaran yang tak bisa ditolak karena pada saat bersamaan saya ingin mencoba lagi bagaimana rasanya keluar dari zona nyaman saya di Austria. Selama setahun saya benar-benar nyaman berada di lingkungan saya.

Setiba di sini (Indonesia), saya langsung merasa seperti tidak pernah meninggalkan tempat ini dan seperti kembali ke rumah. Ini benar-benar hal yang bagus buat saya.

Apa yang jadi pertimbangan utama Anda menerima tawaran dari PSSI?
Yang pertama adalah tidak terlalu banyak berpikir. Ketika mendapat tawaran, saya jawab "ya", saya ingin melakukan itu. Kemudian, pastinya saya mendapatkan gambaran mengenai kesulitan yang akan saya hadapi.

Saya tahu liga sudah dimulai dan sanksi FIFA dicabut yang menyebabkan situasi baru (di sepak bola Indonesia). Tapi secara prinsip, ini tidak mengenakkan. Memang, bagus FIFA mencabut sanksi, tapi menghadapi situasi baru ini tidak mudah bagi siapapun. PSSI maupun pihak lain harus kembali bekerja sama, bahkan untuk saya sekalipun.

2 dari 2 halaman

Tekanan Fans

Bagaimana dengan tekanan fans Indonesia yang menginginkan kemenangan dari setiap laga yang dijalani timnas?
Tekanan? Tekanan apa? Dengar, Anda sudah melihat klasemen kompetisi saat ini? Siapa yang pertama saat ini, Arema? Siapa yang paling bawah? Semuanya ingin menang. Di Indonesia, setidaknya ada lima-enam tim yang ingin jadi juara tapi hanya satu yang bisa meraih itu.

Lalu apa? Yang bisa Anda lakukan hanya bekerja. Anda hanya bisa memberikan tenaga dan pengetahuan Anda pada tugas ini (Piala AFF 2016). Anda hanya bisa mempersiapkan tim sebaik Anda bisa dan berharap itu akan berjalan baik.

Tekanan? Kita semua selalu punya tekanan sepanjang hidup. Saat ini lebih saya fokus mempersiapkan tim ketimbang "dalam tekanan" menghadapi laga pertama yang baru digelar November nanti.

Bak menyusun puzzle, saat ini saya sudah mulai menyusun potongan-potongan komposisi pemain. Pemain itu oke, pemain itu tak oke. Ketika kami sudah mencapai 30-35 pemain, itu akan bagus.

Pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl saat berbincang dengan Bola.com di Sentul, Jakarta, Minggu (19/6/2016). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bagaimana Anda melihat persaingan di AFF nanti?
Para pesaing ini sangat kuat. Vietnam, Thailand sangat kuat. Juga Filipina, dengan "pemain asing" mereka..

Apakah Anda masih sempat menikmati Piala Eropa 2016?
Ya, tentu saja. Tapi, saya membatasi diri terkadang hanya menyaksikan pertandingan yang digelar malam hari, tidak dini hari. Itu pun tidak selalu karena saya harus menjaga kesehatan.

Saat ini saya masih melakukan pantauan terhadap pemain, dari satu kota ke kota lain. Saya harus cukup istirahat dan mengatur pola keseharian saya. Ini masalah prioritas, bahkan bila Austria yang bermain sekalipun, bila jadwalnya tidak sesuai, saya tidak akan menonton.