Zaenal Arif: Sibuk Jadi PNS, Bobotoh Persib, Duta PON Jabar

oleh Zaidan Nazarul diperbarui 29 Jul 2016, 13:00 WIB
Zaenal Arif, menikmati kesibukan sebagai PNS di Dispenda Kota Bandung. (Bola.com/Fahrizal Arnas)

Bola.com, Garut - Setelah memutuskan pensiun dari sepak bola, nama Zaenal Arif seperti tenggelam di telan bumi. Wajah abang kandung striker Persib Bandung, Yandi Sofyan, tak lagi menghiasi media-media nasional layaknya saat masih aktif bermain. Pemain yang terakhir kali memperkuat Persepam Madura United pada Indonesia Super League 2014 itu kepada Bola.com bercerita soal aktivitas barunya.

Zaenal Arif, yang pada saat era jayanya jadi salah satu striker top Tanah Air seangkatan Bambang Pamungkas, mengaku ia agak menjauh dari sepak bola karena aktivitasnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Pendapatan Daerah Kota Bandung tak bisa ditinggalkan. Peraturan di instansi pemerintahan sejak Presiden RI Joko Widodo menjabat amat ketat.

Advertisement

Waktunya kini dihabiskan untuk mengabdi pada negara. Layaknya PNS lainnya, setiap hari Arif bekerja di Dispenda Kota Bandung dari jam 7.00 hingga 16.30 WIB. Bahkan tak jarang ia harus pulang larut malam karena sejak beberapa bulan lalu ia dipilih sebagai duta pajak Kota Bandung.

“Dari hari Senin sampai Jumat kerjaan saya keliling ke beberapa tempat di Bandung untuk mensosialisasikan pajak ke masyarakat. Karena itu, saya sangat jarang ke lapangan,” tutur Arif.

Karena alasan ini pula, dengan berat hati Arif menolak tawaran pemilik Madura United, Achsanul Qosasi, untuk menjadi asisten pelatih di tim itu. Apalagi sertifikat kepelatihan eks pemain Persita Tangerang dan Persib Bandung itu baru lisensi C.

Suami Gina Selviani Vera itu juga sadar, bahwa hidupnya bukan di bola lagi. Sekarang ia ingin menikmati profesi sebagai PNS dan menjalaninya dengan hati.

Namun ia tak memungkiri, kerinduan pada olahraga yang membesarkan namanya masih kerap muncul. Karena itu, ia selalu menyempatkan diri untuk menonton pertandingan sepak bola nasional macam Torabika Soccer Championship 2016 presented by IM3 Ooredoo di layar kaca, atau sesekali datang ke stadion untuk menyaksikan Tim Maung Bandung berlaga. Ia kini mengaku amat menikmati jadi bobotoh.

"Persib masih punya peluang juara TSC 2016, asal mereka memperbaiki penampilan di putaran kedua. Mereka punya banyak pemain bagus, tinggal bagaimana Djadjang Nurdjaman mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dari bintang-bintangnya," ujar Zaenal Arif ketika ditanya padangannya tentang performa Tim Pangeran Biru saat ini.

2 dari 2 halaman

Jadi Duta PON Jabar 2016     

Zaenal Arif, menikmati kebersamaan bareng anak dan istri usai gantung sepatu. (Bola.com/Fahrizal Arnas

Jadwal kegiatan Zaenal Arif saat ini memang sangat padat. Tak jarang, saat libur hari Sabtu dan Minggu, masih ada kegiatan yang harus ia hadiri. Apalagi, saat ini ia juga menjadi salah satu duta Jawa Barat untuk mensosialisasikan PON XIX 2016 di Jabar pada September mendatang.

Saat libur dari rutinitas PNS, eks Zaenal juga sering diundang untuk mengisi acara coaching clinic yang diadakan teman atau penggemar di sekitar Bandung saat ia libur dari rutinitas PNS.

“Sabtu biasanya di Gedung Sate untuk pembekalan sosialiasi PON, sementara minggu kerap datangi undangan acara-acara kecil atau sekadar temu kangen dengan fan,” katanya.

Arif sendiri mengaku bahagia dengan kehidupannya sekarang. Namun, bukan berarti ia akan sepenuhnya meninggalkan sepak bola. Ia juga tak mau menutup dari kemungkinan kembali ke lapangan sebagai pelatih.

“Saya tidak mau mendahului Tuhan. Kalau saya masih ditakdirkan berjodoh dengan sepak bola, mungkin suatu saat saya akan kembali dengan keadaan yang berbeda,” jelasnya

Zaenal Arif terhitung striker papan atas yang berkarier cukup panjang di level elite. Memulai karier di Persigar Garut pada 1997 dua tahun berselang dirinya langsung masuk skuat Timnas Indonesia U-19.

Mantan pemain kelahiran 3 Januari 1981 itu tercatat 23 kali membela Tim Merah-Putih pada periode 2002 hingga 2007. Perhelatan Piala Asia 2007 menjadi ajang terakhir ia tampil bersama timnas.

Kasus indisipliner keluyuran malam yang membuatnya dipecat oleh pelatih Ivan Kolev jadi noda hitam yang mematikan kariernya di Timnas Indonesia. Hanya saja di level klub, Zaenal Arif tetap jadi pujaan. Ia selalu jadi rebutan klub-klub elite. Persita Tangerang (2000-2005) dan Persib Bandung (2006-2009) jadi pelabuhan terlamanya.

"Semoga karier adik saya, Yandi Sofyan bisa panjang, memberikan kontribusi positif buat Timnas Indonesia dan juga klubnya. Saya senang melihat permainannya terus berkembang," ungkap Arif.