Robert Alberts, Evolusi Tim dan Misi Bawa PSM Juara Liga 1 2017

oleh Abdi Satria diperbarui 21 Jun 2017, 09:15 WIB
Pelatih PSM Makassar, Robert Alberts mengungkapkan anak asuhnya dalam trek yang benar di Liga 1 2017. (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Makassar - PSM Makassar konsisten berada di papan atas klasemen sejak awal bergulirnya Liga 1 2017. Sukses PSM ini berbanding terbalik dengan hasil yang digapai klub elite lainnya seperti Arema FC, Persib Bandung, dan Sriwijaya FC.

Bagi PSM, fakta ini bisa jadi titik awal kebangkitan mereka di pentas sepakbola nasional setelah terakhir meraih trofi juara pada Liga Indonesia 1999/2000. Sosok Robert Alberts pun disebut sebagai figur penting di balik keberhasilan ini. Kepercayaan penuh yang diberikan oleh manajemen terkait materi pemain dan strategi tim dibuktikan dengan hasil sementara yag digapai Juku Eja.

Advertisement

Meski sementara sedang berada di puncak, Robert menegaskan PSM belum bisa dianggap kandidat utama peraih trofi juara musim ini. Di mata pelatih asal Belanda ini, persaingan antarklub di Liga 1 sangat kompetitif dan tidak ada jaminan Juku Eja bisa bermain dominan saat bertemu dengan lawan yang peringkatnya di bawah.

Maka itu, Robert mengungkapkan dirinya selalu menekankan kepada pemain agar selalu fokus pada setiap pertandingan. Bagi Robert, hasil sebelumnya menghadapi lawan yang sama adalah masa lalu dan tidak bisa dijadikan acuan.

Bagaimana Robert menyikapi pencapaian PSM hingga pekan ke-11 dan kans timnya meraih gelar Liga 1 2017? Berikut petikan komentar Robert yang dirangkum Bola.com pada berbagai kesempatan wawancara.

PSM kini masuk dalam jajaran kandidat juara Liga 1 2017. Apa resep Anda membangun tim ini?

Sebagai pelatih, saya percaya bahwa membangun tim butuh proses yang tidak instan. Itu yang saya tegaskan kepada manajemen PSM saat menerima tawaran mereka untuk melatih tim ini.

Saya salut dengan sikap manajemen yang tetap konsisten memberi kepercayaan kepada saya meski secara peringkat PSM tidak mencapai target di Torabika Soccer Champioship 2016. Hal itu karena kami sama-sama bersepakat menjadikan TSC 2016 sebagai ajang proses membangun tim yang akhirnya bermuara pada target juara Liga 1.

Bisa Anda jelaskan proses membangun PSM?

Pada setiap partai PSM di TSC 2016 saya selalu membuat catatan untuk dijadikan bahan evaluasi. Saya tidak pernah terpengaruh apa pun hasil akhir yang kami raih pada ajang itu. Saya dan tim kepelatihan tetap fokus untuk mempersiapkan tim menghadapi kompetisi resmi.

Salah satu hasilnya adalah PSM sangat membutuhkan pembenahan di lini belakang. Acuannya karena hampir di setiap partai PSM selalu kebobolan. Karena itu, saya mengusulkan kepada manajemen mendatangkan pemain senior seperti Zulkifli Syukur, Hamka Hamzah, Steven, Paulle dan Faturrahman. Untuk sementara hasilnya bisa terlihat.

Dari 11 partai, PSM empat kali mencatat cleansheet. Saya juga punya alasan tersendiri mendatangkan Marc Klok sebagai penyeimbang tim. Saya membutuhkan agresivitas dan mobilitas Marc untuk membantu kinerja Wiljan Pluim yang belakangan jadi incaran kawalan lawan.

Selanjutnya?

Selain dari sisi teknis, saya ingin tim ini punya karakter dan didasari oleh kebersamaan tim yang kuat. Alasan inilah yang membuat saya meminta kepada manajemen untuk melakukan pemusatan latihan di Bali. Berada di luar Makassar bisa mempercepat proses pembentukan karakter tim.

Selama tim berproses, saya ingin segalanya berjalan sesuai program yang dibuat dan disepakati bersama. Kalau pun saat persiapan ada turnamen Piala Presiden kami hanya jadikan ajang itu sebagai uji coba untuk mengukur kemampuan tim.

Ada anggapan PSM selalu 'diuntungkan' karena kartu merah buat pemain lawan dan penalti saat meraih kemenangan kandang. Ada komentar soal itu?

Saya tidak mau berkomentar soal itu. Faktanya saat PSM menang kami tampil dominan dan banyak mendapatkan peluang. Secara umum, tim lain juga mewaspadai PSM. Ini sangat berbeda dengan musim sebelumnya.

Terkait penyelesaian akhir yang dinilai masih jadi problem PSM?

Saat ini PSM sudah mengoleksi 18 gol dari 11 partai. Kami pun selalu mencetak gol di setiap partai. Hanya memang tidak semua peluang yang kami dapat bisa jadi gol. Mungkin ini yang dinilai problem PSM. Secara bertahap saya akan membenahinya.

Saya optimistis dengan semakin banyak partai yang kami mainkan, PSM menjadi lebih kuat. Yang terpenting buat saya adalah selalu menatap ke depan. Saya selalu tekankan kepada tim agar saling percaya dan kerja keras sesuai tugas masing-masing. Ini akan membuat PSM lebih kuat menghadapi persaingan di Liga 1.