Sepeninggal Luis Milla, Timnas Indonesia Kental Aroma Italia

oleh Ario Yosia diperbarui 11 Sep 2018, 07:01 WIB
Pelatih Timnas Indonesia, Bima Sakti, berdiskusi dengan tim pelatih saat latihan di Stadion Wibawa Mukti, Jawa Barat, Senin (10/9/2018). Latihan ini persiapan jelang laga uji coba melawan Mauritius. (Bola.com/Vitalis Trisna)

Bola.com, Jakarta - Belum tuntasnya proses negosiasi antara PSSI dengan Luis Milla membuat kursi pelatih kepala Timnas Indonesia lowong. Saat uji coba menghadapi Maurius di Stadion Wibawa Mukti, Karawang, Selasa (11/9/2018), skuat Tim Merah-Putih dipimpin Bima Sakti, yang selama ini berstatus sebagai asisten Milla.

Uniknya Bima tidak bisa mendampingi anak-asuhnya di bench, karena terkena skorsing. Ia diusir wasit saat laga babak 16 besar Asian Games 2018  menghadapi Uni Emirat Arab (UEA).

Advertisement

Tugas Bima memimpin pasukan Timnas Indonesia dijalankan Kurniawan Dwi Yulianto.

"Saya mewakili Coach Bima Sakti karena beliau terkena larangan dua pertandingan internasional imbas kasus di Asian Games 2018 lalu," ujar Kurniawan, Senin (10/9).

"Pada intinya tim kami sudah siap untuk menghadapi pertandingan melawan Mauritius. Karena kita juga sudah mengandalkan analisis mendalam dengan melihat video pertandingan terakhir mereka," tutur pria yang akrab disapa Si Kurus ini.

"Mudah-mudahan skema yang permainan inginkan untuk melawan Mauritius dapat berjalan dengan baik dan besok bisa memenangkan pertandingan," katanya.

Kurniawan merupakan rekan setim Bima Sakti saat sama-sama membela Timnas Indonesia U-19 dalam program pelatnas jangka panjang Primavera yang diusung pengusaha gila bola, Nirwan Dermawan Bakrie, pada periode 1993-1995.

Kala itu Bima dkk. dititipkan di camp klub elite Serie A, Sampdoria. Bima sempat mengecap pengalaman bermain di Liga Swedia bersama Helsingborgs IF pada periode 1995-1996. Demikian pula Kurniawan yang sempat berkostum klub Swiss, FC Luzern pada musim 1994-1995.

Nuansa Timnas Primavera kian ketal di Timnas Indonesia dengan kehadiran Kurnia Sandy, sebagai pelatih kiper. Ia juga ikut dalam program tersebut. Sandy pernah dipinjam Sampdoria saat lawatan Tur Asia.

 

 

2 dari 2 halaman

Disupervisi Guru

Pelatih Indonesia, Luis Milla, saat melawan Uni Emirat Arab (UEA) pada laga Asian Games di Stadion Wibawa Mukti, Jawa Barat, Jumat (24/8/2018). Indonesia kalah adu penalti dari UEA. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Saat menjalankan tugasnya tiga mantan rekan setim Kurniawan Dwi Yulianto-Bima Sakti-Kurnia Sandy disupervisi oleh Direktur Teknik PSSI, Danurwindo. Sosok pelatih senior matang pengalaman yang satu ini merupakan asisten pelatih Timnas Primavera Indonesia yang saat itu dikendalikan nakhoda asal Swedia, Tord Grip.

Saat itu sepak bola Indonesia sedang booming Serie A Italia, Timnas Indonesia U-19 yang bermain di kompetisi Primavera memainkan sepak bola catenatio ala Italia. Formasi andalan kala itu 3-5-2 yang kemudian banyak dipakai klub-klub Indonesia.

Akankah Bima Sakti cs. akan mengadopsi permainan Nerazzurri? 

Kemungkinan besar tidak. Terlalu riskan merubah filosofi permainan dalam waktu hitungan hari. Bima sendiri bisa dibilang katam menguasai sistem bermain yang diusung Luis Milla, karena ia dua tahun terakhir jadi sosok yang selalu dekat dengan pelatih asal Spanyol tersebut.

Penegasan soal itu disampaikan Kurniawan Dwi Yulianto.

"Skema permainan yang tidak jauh berbeda dengan yang selama ini terapkan Luis Milla. Selama ini Coach Bima juga selalu berkomunikasi dengan Coach Luis. Pemain yang dipanggil juga sepertinya database hasil pantauan keduanya, dilihat dari Liga 1 2018. Sudah barang tentu pemain yang ada adalah pemain yang menurut Coach bima cocok dengan skema permainan yang akan diusung."

Di timnas, Luis Milla mengadopsi permainan sepak bola indah tiki-taka ala Spanyol dan Barcelona. Walau sejatinya pelatih berusia 52 tahun (kelahiran 12 Maret 1966) juga amat terinspirasi dengan dua pelatih besar Italia, Claudio Ranieri dan Fabio Capelo saat jadi pemain di Valencia dan Real Madrid.

 

 

Berita Terkait