Syaiful Indra Cahya dan Keputusan Main di Liga 2 Selepas Tinggalkan Semen Padang

oleh Iwan Setiawan diperbarui 14 Agu 2019, 19:15 WIB
Wawancara Eksklusif Syaiful Indra Cahya. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Malang - Bek sayap Syaiful Indra Cahya resmi mundur dari Semen Padang, Selasa (13/8/2019). Meski, dia memiliki sisa kontrak setengah musim, Semen Padang sudah menyetujui permintaan bek asal Malang tersebut.

Banyak faktor yang membuat Syaiful Indra Cahya hengkang, mulai minim kesempatan bermain, jauh dari keluarga, dan yang lainnya.

Advertisement

Tetapi, yang mengejutkan, dia ingin melanjutkan kariernya di kompetisi kasta kedua, Liga 2. Hal itu berarti Indra rela turun kasta.

Padahal, pemain berusaha 27 tahun ini sejak awal kariernya selalu bermain di kompetisi kasta tertinggi. Tentu ada alasan yang kuat di balik perpindahannya di transfer window ini.

Berikut wawancara Bola.com dengan Syaiful Indra Cahya, perihal keputusannya meninggalkan Semen Padang dan gabung klub Liga 2.

Kenapa memutuskan untuk pamit dari Semen Padang?

Banyak faktornya. Tapi, yang utama saya ingin lebih dekat dengan keluarga karena saya sudah berkeluarga dan punya anak. Kalau di Padang, terlalu jauh.

Anak saya baru tiga bulan kasihan kalau perjalanan ke Padang. Jadi, ada rasa kenyamanan juga yang hilang. Tentu ada faktor lain juga yang tidak bisa saya sebutkan.

Soal kesempatan bermain?

Ada juga faktor itu. Tapi, yang paling utama memang jauh dari keluarga.

2 dari 2 halaman

Alasan Main di Liga 2

Syaiful Indra Cahya meninggalkan Semen Padang. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Kabarnya Anda akan menuju Liga 2 bersama PSIM Yogyakarta?

Rencananya seperti itu. Doakan saja. Dari sana jaraknya juga dekat dengan rumah istri di Mojokerto. Hanya sekitar tiga jam. Jadi, bisa lebih dekat. Doakan saja lancar.

Ada tawaran dari Liga 1 juga, tetapi saya memilik fokus dapat kesempatan bermain dan dekat dengan keluarga dulu untuk waktu dekat.

Apa tidak merasa mengalami penurunan dalam karier?

Saya tidak berpikir seperti itu. Rezeki selalu ada di mana saja. Yang saya lakukan fokus saja bermain. Kalau nantinya ke PSIM, saya melihat tim itu juga punya target serius untuk promosi. Jadi tidak masalah.

Materi pemainnya juga bagus. Banyak pemain dari Liga 1 di sana. Saat transfer window ini juga kabarnya ingin merekrut beberapa pemain dari Liga 1 lagi.

Faktor apa lagi yang membuat Anda lebih dekat dengan PSIM?

Di sana ada pelatih Aji Santoso yang saya anggap seperti bapak sendiri. Beliau juga yang ikut mengorbitkan saya dulu. Pernah melatih di timnas U-23 dan di Arema, jadi sudah tidak asing lagi rasanya. Senang kalau bisa berkumpul kembali.

Jika sudah diresmikan, nantinya akan memboyong keluarga ke Yogyakarta?

Kemungkinan iya. Tapi, akan dilihat dulu seperti apa perkembangannya. Kalau memungkinan tentu akan saya bawa anak dan istri karena mereka penambah semangat saya untuk bermain di lapangan.