Ada Sosok Dejan Antonic di Balik Kebangkitan Madura United

oleh Aditya Wany diperbarui 25 Agu 2019, 13:50 WIB
Pelatih Madura United, Dejan Antonic, saat melawan Bhayangkara FC pada laga Liga 1 2019 di Stadion Madya, Jakarta, Senin (5/8). Kedua tim bermain imbang 1-1. (Bola.com/M iqbal Ichsan)

Bola.com, Pamekasan - Madura United berhasil bangkit dari keterpurukan dengan memenangi duel kontra PSIS Semarang dalam laga pekan ke-16 Shopee Liga 1 2019. Madura United menang 3-0 di Stadion Gelora Madura, Pamekasan, Sabtu (24/8/2019).

Di laga ini Laskar Sape Kerrab untuk kali pertama sejak musim ini tidak ditemani Dejan Antonic. Pelatih asal Serbia itu telah memutuskan mundur akibat lima laga sebelumnya dilalui tanpa kemenangan. Asisten pelatih Rasiman bertindak sebagai caretaker.

Advertisement

Rasiman menilai kemenangan yang diraih oleh Slamet Nurcahyo dkk. di pertandingan ini berkat Dejan Antonic, meski sosoknya tidak ada di bench. Dia menilai Dejan Antonic telah membangun tim Madura United.

"Saya berterima kasih untuk coach Dejan. Secara dasar, tim ini telah dibuat oleh coach Dejan selama delapan bulan, dia membuat banyak warisan buat tim ini. Alhamdulillah, kami bisa memenangkan pertandingan," ungkap Rasiman.

Dejan, yang bergabung sejak awal musim ini, telah menjadikan Madura United sebagai tim yang ditakuti. Dia mendampingi tim dalam 28 pertandingan di tiga ajang, yaitu Piala Indonesia 2018, Piala Presiden 2019, dan Liga 1 2019.

Pelatih berusia 50 tahun itu membawa Madura United ke semifinal Piala Indonesia 2018 dan Piala Presiden 2019. Sebelum pergi, tim itu juga bertengger di papan atas dengan menghuni peringkat keempat klasemen sementara di Liga 1 2019.

2 dari 2 halaman

Transisi Itu Sulit

Rasiman akan mendampingi Madura United dalam laga versus PSIS Semarang di Stadion Gelora Madura, Pamekasan, Sabtu (24/8/2019). (Bola.com/Aditya Wany)

Rasiman sempat menyebutkan Madura United bermain monoton saat menumbangkan PSIS. Itu menjadi bukti, pekerjaannya masih membutuhkan perbaikan. Menurutnya, pemain Madura United juga perlu waktu untuk beradaptasi dengan pergantian pelatih.

"Transisi itu sulit dalam situasi apa pun. Dalam kehidupan sehari-hari, transisi itu menyulitkan karena transasi itu perlu adaptasi, ada metodologi baru. Semua orang pasti perlu waktu," ujar Rasiman.

"Karena, saya baru dua hari diminta menangani tim ini. Saya sebagai pelatih caretaker hanya menambahkan dan merapikan sedikit apa yang kurang dari tim ini," imbuh ayah Syahrian Abimanyu tersebut.