Respons Arema dengan Pemindahan Venue Laga Kontra Persebaya ke Blitar

oleh Iwan Setiawan diperbarui 16 Feb 2020, 20:50 WIB
Arema memberikan komentar perihal perubahan venue dan jadwal pertandingan melawan Persebaya di semifinal Piala Gubernur Jatim 2020. (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Malang - Panpel Piala Gubernur Jatim 2020 terpaksa harus mengubah satu jadwal partai semifinal yang semula akan digelar pada Senin (17/2/2020), yakni duel Arema kontra Persebaya Surabaya.

Penyebabnya, pihak kepolisian tidak memberikan izin pertandingan lantaran kedua tim selama ini merupakan rival abadi. Kedua kelompok suporter, Aremania dan Bonek, juga sering terjadi gesekan.

Advertisement

Pada awalnya panpel Piala Gubernur Jatim 2020, Asprov PSSI Jawa Timur, memutuskan semua laga semifinal berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Senin (17/2/2020).

Namun, hal ini menuai protes dari penggemar Persebaya. Mereka ingin laga digelar di tempat netral. Panpel pun berjuang mencari jalan tengah, sehingga diputuskan laga Arema melawan Persebaya dilangsungkan di Stadion Supriyadi, Blitar, Selasa (18/2/2020), tanpa penonton.

Sementara laga semifinal lainnya, Persija Jakarta melawan Madura United, tetap dimainkan sesuai rencana awal, di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Senin (17/2/2020). Namun, laga ini juga berlangsung tanpa penonton.

Tim Arema sudah mendapatkan informasi pertandingan melawan Persebaya mengalami perubahan jadwal dan venue. Tim Singo Edan tidak berkeberatan mengikuti keputusan panpel.

"Arema menjunjung tinggi sportivitas dan keputusan bersama. Prinsipnya, Arema siap main di manapun," jelas Sudarmaji, Media Officer Arema.

2 dari 2 halaman

Mengulang Kejadian 2013

Pemain Arema, Elias Alderete, disambut Dave Mustaine dan Jonathan Bauman setelah menjebol gawang Persela di Piala Gubernur Jatim di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang (13/2/2020). (Bola.com/Iwan Setiawan)

Ini bukan kali pertama panpel harus mengubah jadwal ketika Arema bertemu Persebaya. Pada 2013, kejadian serupa terjadi justru di partai puncak. Ketika itu, penyelenggara sudah memutuskan menggelar laga final di Stadion Kanjuruhan.

Namun, lantaran fans Persebaya tak terima, panpel pun mengubah lokasi pertandingan ke Lapangan Bumimoro, Surabaya, tanpa penonton. Arema tetap jadi juara setelah menang 1-0.

"Sebenarnya kami menginginkan tahun ini jadi momentum semua pihak menjaga sportivitas. Namun, kejadian 2013 masih terulang. Ada perubahan jadwal dan venue ketika Arema bertemu Persebaya. Tapi, apa pun itu, kami berterima kasih kepada penyelenggara yang tetap berjuang menyelamatkan turnamen hingga partai puncak," lanjut Sudarmaji.

Selain pemindahan venue, Arema punya menyentil laga yang harus digelar tanpa penonton. Tanpa kehadiran penonton, pertandingan yang menarik sekalipun terasa kurang komplet. Pemain juga akan lebih senang jika tampil di hadapan banyak penonton.

"Harusnya persaudaraan antarsuporter dijunjung tinggi karena sepak bola itu intinya bertanding di depan pendukungnya," kata Sudarmaji.