7 Manajer Liga Inggris yang Dipecat setelah Terpuruk di Pertandingan Eropa: Derita Jose Mourinho hingga Thomas Tuchel

Berikut ini pelatih Premier League yang kehilangan pekerjaannya setelah timnya terpufruk dalam pertandingan di Eropa.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 11 Maret 2026, 20:30 WIB
Jose Mourinho saat diperkenalkan sebagai pelatih Benfica. (AP Photo/Ana Brigida)

Bola.com, Jakarta - Beberapa klub besar Liga Inggris terkadang bersikap kejam dalam urusan memecat pelatih. Dahulu, Chelsea salah satu yang terkenal suka gonta-ganti pelatih. 

Arsenal, Chelsea, dan Tottenham Hotspur termasuk di antara klub Premier League yang pernah memecat manajernya setelah mengalami kegagalan di kompetisi Eropa.

Advertisement

Meski liga domestik tetap menjadi prioritas utama bagi sebagian besar klub, kekalahan di ajang antarklub Eropa terkadang menjadi titik akhir kesabaran bagi manajemen.

Berikut ini pelatih Premier League yang kehilangan pekerjaannya dalam situasi tersebut.   


1. Martin Jol

Martin Jol. Pelatih berusia 66 tahun yang kini menjabat sebagai direktur teknik ADO Den Haag sejak Juli 2020 ini pernah membesut dua klub di Liga Inggris. Tottenham Hotspur ditanganinya November 2004 hingga Oktober 2007. Sementara Fulham di awal musim 2011/2012 hingga Desember 2013. (AFP/Glyn Kirk)

Salah satu pemecatan paling brutal terjadi ketika Jol diberhentikan di tengah pertandingan saat Tottenham Hotspur menghadapi Getafe di ajang Piala UEFA pada 2007. Ia bahkan kembali ke pinggir lapangan untuk memimpin tim pada babak kedua dalam suasana yang terasa sangat tidak nyata.

Pelatih asal Belanda itu sebenarnya cukup populer di White Hart Lane. Ia berhasil mengangkat Tottenham dari posisi papan tengah dengan membawa klub finis peringkat kelima secara beruntun.

Namun, belanja besar pada bursa transfer musim panas dan awal musim 2007/2008 yang lambat jelas tidak akan cocok di mata pemilik klub, Daniel Levy.

Meski begitu, setidaknya Levy seharusnya belajar dari kejadian tersebut. Tidak mungkin hal serupa akan terulang lagi 12 bulan kemudian.   


2. Juande Ramos

Juande Ramos ditunjuk sebagai pelatih Tottenham Hotspurs pada tahun 2007. Ia memutuskan untuk langsung menghapus saus tomat, garam, dan merica dari daftar menu makanannya. Hasilnya sangat mengesankan, Spurs meraih gelar Liga Inggris di musim perdananya. (AFP/Yuri Kadobnov)

Raihan dua poin dari delapan pertandingan pertama di Liga Inggris menjadi penyebab utama berakhirnya masa jabatan Ramos pada 2008. Sikapnya yang dikenal tanpa toleransi terhadap penggunaan saus atau bumbu di makanan pemain juga tidak membantu situasi di dalam tim.

Namun, Tottenham Hotspur baru benar-benar mengambil keputusan setelah kalah 0-2 dari Udinese pada fase grup Piala UEFA.

Setelah pemecatan itu, kursi pelatih diambil alih oleh Harry Redknapp, yang langsung memenangkan pertandingan pertamanya tiga hari kemudian. 

Sebagai catatan mengenai format Piala UEFA saat itu: fase grup diisi oleh lima tim, di mana setiap tim memainkan dua pertandingan kandang dan dua tandang, serta hanya bertemu satu kali dengan setiap lawan.

Format tersebut dianggap rapuh dan terasa sangat transaksional, tetapi sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan format kompetisi yang ada sekarang. 


3. Roberto Di Matteo

Roberto Di Matteo. Pelatih asal Italia berusia 52 tahun ini tercatat pernah menukangi Aston Villa mulai 2 Juni 2016 hingga 3 Oktober 2016 dan menjadi klub terakhirnya dalam rekor manajerialnya. Ia menggantikan posisi Remi Garde yang dipecat pada 29 Maret 2016. Bersama Aston Villa ia total hanya memimpin tim dalam 12 laga di semua ajang dengan hasil hanya 1 kali menang, 7 imbang dan 4 kali kalah. (AFP/DPA/Bernd Thissen)

Di Matteo sebenarnya baru saja membawa Chelsea menjuarai Liga Champions pada Mei 2012. Namun, itu tidak menghalangi klub untuk memecatnya hanya enam bulan kemudian, setelah kekalahan 0-3 dari Juventus.

Saat itu memang menjadi periode ketika Chelsea sering mengalami penurunan performa di musim dingin, setelah memulai musim 2012/2013 dengan cukup baik.

Sebagai juara bertahan Liga Champions, Chelsea sebelumnya juga sudah kalah dari Shakhtar Donetsk dan hanya bermain imbang di kandang melawan Juventus, sebelum dipermalukan di Turin.

Setelah pemecatan tersebut, Chelsea menunjuk Rafael Benítez sebagai manajer interim. The Blues kemudian turun ke UEFA Europa League dan berhasil menjuarainya.

Bisa dibilang, itu menjadi salah satu penunjukan pelatih tengah musim yang cukup sukses di Stamford Bridge.


4. Unai Emery

Manajer Aston Villa asal Spanyol, Unai Emery, bereaksi selama pertandingan Liga Inggris antara Chelsea dan Aston Villa di Stamford Bridge, London, pada 27 Desember 2025. (Glyn KIRK/AFP)

Emery dipecat oleh Arsenal pada November 2019 setelah kekalahan 1-2 dari Eintracht Frankfurt pada ajang Liga Europa di Emirates Stadium yang hanya terisi setengah penonton.

Sebagai manajer pertama di era pasca-Arsène Wenger, pelatih asal Spanyol itu tidak meraih kemenangan dalam tujuh pertandingan terakhirnya sebelum diberhentikan. Itu menjadi rentetan tanpa kemenangan terpanjang Arsenal sejak 1992.

Setelah pemecatan tersebut, Freddie Ljungberg ditunjuk sebagai pelatih sementara sebelum Mikel Arteta datang sebulan kemudian.

Sejak saat itu, Arteta bisa dibilang melakukan pekerjaan yang cukup baik bersama Arsenal. 


5. Jose Mourinho

Jose Mourinho bermain untuk klub Rio Ave 1980, Mou berganti klub ke Belenenses, Sesimbra dan Comércio e Indústria. Kurang sukses sebagai pemain, Mou banting setir jadi pelatih dan sukses bersama Porto, Chelsea, Inter Milan dan Real Madrid. (AFP/Jack Guez)

Hasil 1-1 melawan Rosenborg di Stamford Bridge yang hanya terisi setengah penonton pada 2007 menjadi penutup yang cukup tidak menyenangkan bagi periode pertama Mourinho bersama Chelsea.

Namun sebenarnya, kepergiannya sudah lama diprediksi. Hubungan The Special One dengan pemilik klub saat itu, Roman Abramovich, memburuk setelah perbedaan pendapat mengenai perekrutan Andriy Shevchenko pada tahun sebelumnya.

Ironisnya, justru Shevchenko yang mencetak gol ke gawang Rosenborg dalam pertandingan tersebut.

Seolah-olah, “dewa sepak bola” memang selalu punya selera humor yang agak kejam.


6. Claudio Ranieri

Claudio Ranieri. Pelatih asal Italia yang kini berusia 70 tahun ini merebut gelar Manager of The Season di Liga Inggris musim 2015/2016 bersama Leicester City yang dibesutnya Juli 2015 hingga Februari 2017. Seperti dongeng, The Foxes dibawanya juara Liga Inggris musim tersebut. (AFP/Adrian Dennis)

Sembilan bulan setelah membawa Leicester City menjuarai Premier League, Ranieri justru dipecat ketika The Foxes hanya unggul satu poin dari zona degradasi.

“Statusnya sebagai manajer paling sukses dalam sejarah Leicester City tidak diragukan lagi. Namun, hasil di kompetisi domestik musim ini telah menempatkan status Premier League klub dalam ancaman," tulis Ranieri. 

Keputusan tersebut langsung memicu ketidakpercayaan dan kesedihan luas.

“Setelah semua yang telah dilakukan Claudio Ranieri untuk Leicester City, memecatnya sekarang adalah keputusan yang tidak dapat dijelaskan, tidak dapat dimaafkan, dan sangat menyedihkan.”

Pertandingan terakhir Ranieri sebagai pelatih adalah kekalahan 1-2 dari Sevilla pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions.

 


7. Thomas Tuchel

Pelatih baru Timnas Inggris, Thomas Tuchel memimpin laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Albania di Wembley Stadium, London, Jumat (21/03/2025) waktu setempat. (AFP/Glyn Kirk)

Kekalahan 0-1 dari Dinamo Zagreb memang mengecewakan, tetapi Tuchel disebut dipecat karena tidak mau menjadi “anak buah” pemilik klub, Todd Boehly.

Pelatih Chelsea itu bahkan dilaporkan pernah meminta Boehly dan rombongannya keluar dari ruang ganti pada September 2022. Meski begitu, ia tetap diberhentikan hanya 16 bulan setelah membawa Chelsea menjuarai Liga Champions.

Boehly kemudian mengeluarkan £20 juta untuk merekrut Graham Potter dari Brighton & Hove Albion.

Namun sejak saat itu, situasi di Chelsea tidak juga menjadi jauh lebih masuk akal. Meski demikian, kini “Big Todd” tidak lagi memegang kendali penuh di Stamford Bridge. 

Sumber: Planet Football

Berita Terkait