GP Bahrain dan Arab Saudi Terancam Batal, Kalender F1 2026 Bisa Berkurang Jadi 22 Balapan

Dua seri awal Formula 1 di Timur Tengah, yakni Grand Prix Bahrain dan Grand Prix Arab Saudi, diperkirakan akan dibatalkan.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 13 Maret 2026, 21:30 WIB
Formula 1. (Bola.com/Wiwig Prayugi)

Bola.com, Jakarta - Dua seri awal Formula 1 di Timur Tengah, yakni Grand Prix Bahrain dan Grand Prix Arab Saudi, diperkirakan akan dibatalkan. Keputusan resmi diyakini akan diumumkan akhir pekan ini berdasarkan informasi dari paddock F1 di Shanghai.

Kedua balapan tersebut sebelumnya sudah berada dalam status tidak pasti sejak memanasnya konflik di kawasan Teluk pada 28 Februari lalu. Ketegangan meningkat setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Advertisement

Sejak saat itu, FIA dan Formula 1 terus memantau perkembangan situasi dengan berkoordinasi bersama promotor balapan serta otoritas setempat di Bahrain dan Jeddah.

Jika pembatalan resmi diumumkan, maka kalender Kejuaraan Dunia F1 2026 akan berkurang menjadi 22 balapan. Selain itu, akan tercipta jeda empat akhir pekan kosong di antara GP Jepang dan GP Miami.

 


Masalah Logistik Jadi Pertimbangan Penting

Pembalap McLaren asal Inggris, Lando Norris, mengemudikan mobilnya selama sesi kualifikasi Grand Prix Formula Satu Australia di Albert Park, Melbourne, Australia, Sabtu, 7 Maret 2026. (AP Photo/Asanka Brendon Ratnayake)

Selain faktor keselamatan, pembatalan sebuah balapan Formula 1 juga melibatkan berbagai pertimbangan komersial dan logistik yang kompleks.

Promotor Arab Saudi disebut sangat berharap balapan di Jeddah tetap bisa diselenggarakan. Namun, dengan kondisi kawasan yang belum menunjukkan tanda-tanda membaik dan perjalanan udara yang masih terganggu, keputusan akhirnya harus segera diambil.

Keputusan tersebut juga penting untuk memberi kepastian bagi tim, sponsor, serta pihak terkait lainnya dalam mengatur ulang perjalanan personel dan pengiriman logistik.

Ribuan tiket penerbangan serta pemesanan hotel berpotensi dibatalkan jika kedua balapan tersebut benar-benar dicoret dari kalender.

Salah satu tenggat penting adalah pengiriman kargo F1 yang semula dijadwalkan berangkat dari Jepang setelah balapan di Suzuka menuju Bahrain dan kemudian ke Jeddah.

Kini, kargo tersebut kemungkinan besar akan langsung dialihkan menuju Miami.

 


Pengiriman Peralatan Tim Jadi Tantangan

(Kiri-Kanan) Pembalap Ferrari asal Monako, Charles Leclerc, pembalap McLaren asal Australia, Oscar Piastri, dan pembalap Mercedes asal Inggris, George Russell, berlaga di Grand Prix Formula Satu Hungaria di sirkuit Hungaroring di Mogyorod, dekat Budapest, Hungaria, pada 3 Agustus 2025. (Attila KISBENEDEK/AFP)

Mengubah rute logistik dalam Formula 1 bukan perkara mudah. Ribuan ton peralatan harus dipindahkan dengan koordinasi yang sangat detail.

Saat ini masih dibahas apakah kargo tersebut akan langsung dikirim ke Miami atau terlebih dahulu disimpan di fasilitas khusus yang memiliki pengatur suhu sebelum dikirim ke Amerika Serikat.

Tim juga memiliki opsi untuk membawa pulang chassis mobil balap mereka ke markas masing-masing di Eropa untuk dilakukan servis sebelum dikirim kembali ke Miami. Namun langkah tersebut akan masuk dalam perhitungan batas anggaran atau cost cap.

Di sisi lain, peralatan untuk Formula 2 dan Formula 3 masih berada di Melbourne. Kedua seri junior tersebut awalnya dijadwalkan balapan di Bahrain, dengan Formula 2 juga direncanakan lanjut ke Jeddah.

Belum diketahui apakah balapan yang hilang itu akan diganti. Namun kemungkinan besar penggantian akan dilakukan mengingat para pembalap telah membayar penuh untuk mengikuti satu musim kompetisi.

 


Banyak Peralatan Masih Tertinggal di Timur Tengah

Pembalap Red Bull Racing asal Belanda, Max Verstappen, keluar dari mobilnya setelah mengalami kecelakaan saat sesi kualifikasi Grand Prix Formula Satu Australia di Sirkuit Albert Park di Melbourne pada 7 Maret 2026. (Paul Crock/AFP)

Situasi semakin rumit karena sebagian peralatan tim sudah berada di Timur Tengah sejak sesi tes pramusim di Sakhir, Bahrain.

Garasi tim bahkan masih terpasang sepenuhnya di sirkuit tersebut. Selain itu, beberapa tim seperti McLaren dan Mercedes serta pemasok ban Pirelli juga meninggalkan lebih banyak peralatan setelah rencana tes ban dibatalkan akibat konflik yang memanas.

Sebagian perlengkapan lainnya juga sudah berada di Jeddah, meskipun masih berada di dalam peti kemasan sehingga lebih mudah untuk dikirim kembali ke lokasi lain.

Biasanya tim F1 menggunakan beberapa set kargo laut yang bergerak bergantian ke berbagai belahan dunia sepanjang musim. Karena sebagian set tersebut kini tertahan di Timur Tengah, tim harus menyusun ulang rencana logistik untuk seri-seri berikutnya.

 


Tim F1 Percaya Keputusan FIA dan F1

Dengan dua balapan yang kemungkinan dibatalkan, tim-tim F1 kini akan memiliki waktu sekitar satu bulan penuh di markas mereka. Waktu tersebut bisa dimanfaatkan untuk melakukan riset, analisis data dari tiga balapan awal, serta pengembangan mobil.

Para pembalap juga memiliki waktu lebih panjang untuk menjalani simulasi di simulator tim.

Sementara itu, sejumlah komponen pembaruan mobil yang semula direncanakan untuk diperkenalkan di Bahrain atau Jeddah kemungkinan akan ditunda hingga seri Miami.

Bos tim Audi, Jonathan Wheatley, menegaskan bahwa tim-tim akan mengikuti arahan FIA dan Formula 1 terkait situasi tersebut.

“Kami selalu mengikuti arahan FIA dan Formula 1 seperti biasanya. Mereka selalu membawa kami ke arah yang tepat,” ujar Wheatley.

“Tidak ada pihak yang ingin mengambil risiko yang membuat tim berada dalam situasi yang tidak nyaman. Logistik memang bagian besar dari bisnis ini, bukan hanya soal komponen tetapi juga pergerakan orang di seluruh dunia,” lanjutnya.

Menurut Wheatley, jika perubahan jadwal memang harus dilakukan, tim-tim Formula 1 sudah terbiasa beradaptasi dengan situasi semacam itu.

Berita Terkait