Ditentang Tim Spanyol, Permintaan Klub Inggris Perbesar Skuad Liga Champions Ditolak UEFA

UEFA menolak permintaan klub-klub Inggris untuk menambah kuota Skuad Liga Champions mulai musim depan.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 25 Maret 2026, 05:30 WIB
Logo Liga Champions UEFA ditampilkan sebelum pertandingan Liga Champions antara FC RB Salzburg dan Paris Saint-Germain di Salzburg, Austria, pada 10 Desember 2024. (KERSTIN JOENSSON/AFP)

Bola.com, Jakarta - Upaya klub-klub Inggris untuk memperbesar jumlah pemain dalam skuad Liga Champions musim depan menemui jalan buntu.

UEFA resmi menolak usulan tersebut setelah mendapat penolakan keras, terutama dari klub-klub asal Spanyol.

Advertisement

Isu penambahan kuota skuad menjadi 28 pemain sempat dibahas dalam rapat komite kompetisi klub UEFA bulan lalu. Namun, usulan itu tidak dilanjutkan ke tingkat berikutnya, yakni rapat komite eksekutif UEFA yang dijadwalkan berlangsung menjelang final Liga Eruopa di Istanbul pada 20 Mei 2026.

Regulasi untuk Liga Champions musim depan pun telah disahkan tanpa perubahan. Artinya, jumlah skuad tetap dibatasi maksimal 25 pemain, aturan yang sudah berlaku hampir dua dekade.

Meski begitu, wacana ini masih berpeluang dibahas kembali sebelum musim 2027/28, yang menjadi awal siklus baru hak siar UEFA.


Respons Format Kompetisi

Striker Tottenham Hotspur asal Prancis bernomor punggung 39, Randal Kolo Muani, mencetak gol pertama timnya selama pertandingan leg kedua babak 16 besar Liga Champions UEFA antara Tottenham Hotspur dan Atletico Madrid di Stadion Tottenham Hotspur di London, pada 19 Maret 2026. (Adrian Dennis/AFP)

Sejumlah klub Premier League mendorong penambahan kuota pemain sebagai respons terhadap format Liga Champions yang makin padat.

Mereka menilai jumlah pertandingan yang meningkat membuat risiko cedera dan kelelahan pemain ikut bertambah sehingga membutuhkan skuad yang lebih besar.

Namun, dalam rapat tersebut tidak tercapai kesepakatan. Perwakilan klub-klub Spanyol seperti Atletico Madrid, Sevilla, dan Real Sociedad menjadi pihak yang paling vokal menolak usulan tersebut.

Mereka khawatir klub-klub Inggris akan kian diuntungkan karena memiliki kekuatan finansial yang lebih besar sehingga bisa membangun skuad yang jauh lebih dalam dibanding pesaingnya.


Kekhawatiran Ketimpangan Kompetisi

Pelatih kepala Tottenham Hotspur asal Denmark, Thomas Frank (2 kanan), dan bek Tottenham Hotspur asal Belanda, #37, Micky van de Ven (kanan), bertepuk tangan kepada para penggemar di lapangan setelah pertandingan fase liga Liga Champions UEFA antara Tottenham Hotspur dan FC Copenhagen di Stadion Tottenham Hotspur, London, Rabu (5-11-2025) dini hari WIB. Tottenham menang dengan skor 4-0. (Ben STANSALL/AFP)

Di kalangan sepak bola Eropa, juga berkembang anggapan bahwa klub-klub Inggris sudah memiliki keuntungan tersendiri dalam League Phase.

Hal ini berkaitan dengan prinsip "perlindungan negara", yang membuat mereka tidak berhadapan pada tahap awal kompetis, sehingga dianggap memiliki jalur lebih mudah menuju fase gugur.

Musim ini, enam klub Inggris berhasil lolos ke babak 16 besar, meski hanya Arsenal dan Liverpool yang melaju hingga perempat final.

Sejak diperkenalkannya format baru dengan 36 tim musim lalu, setiap peserta Liga Champions kini memainkan setidaknya dua pertandingan tambahan.

Klub yang tidak finis di delapan besar bahkan harus menjalani dua laga ekstra di bab play-off Januari lalu untuk memperebutkan tiket ke 16 besar.

Situasi inilah yang memicu keluhan dari sejumlah pihak, termasuk mantan pelatih Tottenham Hotspur, Thomas Frank.

Pada Januari lalu, Frank mengaku frustrasi karena harus mencoret Mathys Tel dari skuad saat menghadapi Eintracht Frankfurt, demi memberi ruang bagi Dominic Solanke yang baru pulih dari cedera.

 

Sumber: Guardian

Berita Terkait