Persija dan The Jakmania: Kisah Loyalitas, Organisasi Besar, hingga Peran Penting Suporter di Balik Macan Kemayoran

Persija Jakarta bukan sekadar klub sepak bola biasa di Indonesia. Berdiri sejak 28 November 1928, jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, Macan Kemayoran telah menjadi bagian penting dalam sejarah panjang sepak bola nasional.

BolaCom | Choki SihotangDiterbitkan 27 April 2026, 10:00 WIB
The Jakmania menyalakan Flare saat merayakan kemenangan Persija Jakarta atas PSIM Yogyakarta pada laga pekan ke-14 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (28/11/2025) malam. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Bola.com, Jakarta - Persija Jakarta bukan sekadar klub sepak bola biasa di Indonesia. Berdiri sejak 28 November 1928, jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, Macan Kemayoran telah menjadi bagian penting dalam sejarah panjang sepak bola nasional.

Sepanjang perjalanannya, Persija telah mengoleksi berbagai prestasi bergengsi, termasuk sembilan gelar juara di era Perserikatan. Klub ibu kota ini juga dikenal sebagai rumah bagi banyak pemain top, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Advertisement

Di balik eksistensi Persija, terdapat kekuatan besar dari tribun penonton. The Jakmania, kelompok suporter setia yang identik dengan warna oranye, menjadi elemen tak terpisahkan dari perjalanan klub.

Loyalitas mereka tidak perlu diragukan. Di mana pun Persija bertanding, baik di dalam maupun luar negeri, The Jakmania selalu hadir memberikan dukungan penuh.

 


The Jakmania: Basis Massa Besar dengan Tantangan Kompleks

Selain adu gengsi, laga antara Persija Jakarta dan Persib Bandung kali ini akan menentukan tim mana yang akan duduk di puncak klasemen tengah musim BRI Super League musim 2025/2026. Tampak dalam foto, pendukung Persija Jakarta atau The Jakmania menyambut pemain yang akan berlatih di Persija Training Ground, Bojong Sari, Depok, Jawa Barat, Jumat (9/1/2026). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Saat ini, jumlah anggota The Jakmania diperkirakan mencapai sekitar 100 ribu orang. Mereka tersebar di wilayah Jabodetabek hingga berbagai negara seperti Jepang dan Australia.

Mengelola komunitas sebesar itu tentu bukan perkara mudah. Hal ini diakui oleh mantan Ketua Umum The Jakmania periode 2014-2016, Richard Achmad Supriyanto.

“Pasti ribetlah. Apalagi kalau bukan era sekarang. Kita tarik mundur ke belakang, apa namanya? Baru-baru sosial media banyak. Terus isi kepalanya berubah-ubah. Tidak sama,” ujar Richard.

Ia menegaskan bahwa ketegasan dalam mengambil keputusan menjadi kunci dalam mengelola organisasi dengan latar belakang anggota yang sangat beragam.

“Artinya, memang kita perlu ketegasan, perlu cepat ambil keputusan kalau momentum-momentumnya yang cukup luar biasa gitu.”

“Ya, Alhamdulillah kita sudah punya pegangan, pengertiannya sudah belajar soal organisasi gimana ngurus orang dengan berjuta karakter dan berbeda. Lalu latar belakang agama dan sukunya.”

 


Sistem Organisasi hingga ke Luar Negeri

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Manajer Persib Umuh Muchtar, dan Ketua Jakmania Richard Ahmad pamer batu akik

Dengan jumlah anggota yang sangat besar, The Jakmania memiliki sistem organisasi yang terstruktur. Mulai dari pengurus pusat, koordinator wilayah (korwil), hingga koordinator daerah (korda).

“Iya. Jadi di Thejak itu, sekarang nih, kalau terakhir kita cek ya, itu hampir 100 ribu member-lah. Member itu se-Jabotabek, plus mungkin nasional. Karena ada beberapa juga biro di luar negeri seperti Jepang, Australia, dan sebagainya,” tutur Richard.

Untuk mengoordinasikan anggota di luar negeri, komunikasi dilakukan secara daring.

Meeting online. Jadi, kalau dari zamannya era Mas Gugun tuh, kita setiap minggu tuh dua kali meeting tatap muka. Pengurus pusat dan juga korwil-korwil. Mereka kan punya korda ya, korda meeting lagi sendiri.”

 


Perjalanan Richard: Dari Tribun ke Kursi Ketua Umum

Harapannya Richard Ahmad sebagai Ketua Umum Jakmania. Ia ingin membawa Jakmania sebagai pemain ke-12 yang memacu semangat Persija untuk berprestasi di kancah nasional dan internasional. Jakarta, Kamis (5/3/2015). (Liputan6.com/Gautama Adianto)

Perjalanan Richard di The Jakmania dimulai dari hal sederhana: menjadi penonton Persija. Kecintaannya tumbuh saat masih berkuliah di Universitas Bung Karno (UBK).

“Dulu, ceritanya, kalau gua nonton Persija ya sendiri gitu ya sama teman-teman. Cuma, pas waktu kuliah di UBK, kita habis ikut Asmaja, Liga Mahasiswa Jakarta.”

“Setelah kita main, kita mau ngapain nih. Kira-kira gitu. Kita nonton bola aja bareng-bareng. Nonton Persija. Singkat ceritanya begitu.”

Dari situ, ia mulai membentuk korwil di kampusnya pada 2003, yang kemudian berkembang pesat hingga menarik perhatian pengurus pusat.

“Dari situ, proses jadi sub-korwil. Member banyak. Nah, gua jadi ketua korwil pertama. Itu tahun 2003. Kebutuhan di pengurus pusat Thejak-nya cukup intens tinggi, gua diperbantukan di pengurus pusat.”

Karier organisasinya terus menanjak, mulai dari bidang penelitian dan pengembangan, sekretaris jenderal, wakil ketua umum, hingga akhirnya menjabat sebagai ketua umum.

“Termasuk juga menganalisa perkembangan penonton di tribunnya masing-masing. Gua menjabat itu dua periode, dua kali kepengurusan. Dari litbang, gua lanjut ke sekjen, juga dua periode. Baru wakil ketua umum satu periode, kemudian jadi ketua umum.”


Persaingan di BRI Super League 2025/2026

Berita Terkait