Federasi Sepak Bola Norwegia Desak FIFA Cabut Penghargaan Perdamaian untuk Donald Trump

Kontroversi FIFA Peace Prize, Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) tuntut penghargaan untuk Donald Trump dibatalkan.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 28 April 2026, 21:40 WIB
(Kiri/Kanan) Presiden AS, Donald Trump, memperhatikan saat menerima Hadiah Perdamaian FIFA (FIFA Peace Award) dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia 2026 yang berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko, di Kennedy Center, Washington, DC, pada 5 Desember 2025. (Brendan SMIALOWSKI/AFP)

Bola.com, Jakarta - Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF), Lise Klaveness, secara terbuka meminta agar penghargaan FIFA Peace Prize dihapus.

Klaveness juga menyatakan dukungan terhadap pengaduan etik yang menyorot Presiden FIFA, Gianni Infantino, terkait kedekatannya dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Advertisement

Klaveness, yang akan mewakili Norwegia dalam Kongres FIFA pekan ini serta duduk di komite eksekutif UEFA, menilai FIFA harus menjaga jarak dari tokoh politik dunia.

Kontroversi bermula ketika Trump menerima FIFA Peace Prize dari Infantino dalam acara undian Piala Dunia 2026 di Washington DC pada 6 Desember 2025.

Penghargaan tersebut diumumkan FIFA sebulan sebelumnya tanpa persetujuan Dewan FIFA.

Tujuannya disebut untuk "memberikan penghargaan kepada individu yang mengambil tindakan luar biasa untuk perdamaian dan menyatukan orang-orang di seluruh dunia".


Isu Netralitas Politik

(Kiri/Kanan) Presiden Argentina, Javier Milei, dan Presiden FIFA, Gianni Infantino, menghadiri pertemuan perdana "Board of Peace" yang diselenggarakan oleh Presiden AS, Donald Trump, di Institute of Peace AS di Washington, DC, pada 19 Februari 2026. (SAUL LOEB/AFP)

Namun, waktu pengumuman dan kedekatan Infantino dengan Trump memunculkan spekulasi bahwa penghargaan itu dibuat sebagai bentuk kompensasi setelah Trump tidak mendapatkan Nobel Perdamaian.

Klaveness menilai FIFA tidak memiliki kewenangan maupun sumber daya untuk memberikan penghargaan semacam itu.

'Kami ingin melihat penghargaan ini dihapus," kata Klaveness dalam diskusi dengan media internasional, termasuk The Athletic.

"Kami tidak melihat ini sebagai bagian dari mandat FIFA. Sudah ada lembaga Nobel yang menjalankan tugas itu secara independen," imbuhnya.

Menurut Klaveness, federasi sepak bola, baik nasional, konfederasi, maupun FIFA, harus menghindari situasi yang dapat mengaburkan batas dengan kekuasaan politik.

"Penting bagi federasi untuk menjaga jarak dengan pemimpin negara. Penghargaan seperti ini sangat mudah menjadi politis jika tidak didukung mekanisme dan pengalaman yang benar-benar independen," ujarnya.


Dukungan untuk Pengaduan Etik

Trofi FIFA Peace Price diserahkan langsung oleh Presiden FIFA Gianni Infantino ke Donald Trump dalam acara pengundian Piala Dunia 2026 di Kennedy Center, Washington D.C, Jumat (5/12025). (Dok. AP)

Ia menambahkan bahwa proses penilaian penghargaan semacam itu membutuhkan struktur khusus.

"Membentuk juri dan kriteria adalah pekerjaan penuh waktu. Ini sangat sensitif. Dari sisi sumber daya, mandat, dan tata kelola, hal seperti ini sebaiknya dihindari ke depan."

FIFA tidak pernah mengumumkan nominasi atau mekanisme pemilihan penerima penghargaan tersebut.

Kontroversi ini berlanjut dengan masuknya laporan ke komite etik FIFA. Organisasi hak asasi manusia, FairSquare, menuduh Infantino melakukan empat pelanggaran terhadap aturan netralitas politik.

Klaveness mendukung langkah tersebut.

"Kami sudah menyampaikan kritik secara terbuka terhadap proses ini karena tidak dibahas di Dewan FIFA dan, menurut kami, berada di luar mandat organisasi," katanya.


Respons Infantino

Presiden AS, Donald Trump, berpose dnegan jersey yang diberikan presiden FIFA, Gianni Infantino, selama pertemuan di Oval Office Gedung Putih, Selasa (28/8). Presiden FIFA bertemu Trump untuk membahas kesiapan Piala Dunia 2026. (AFP/Mandel Ngan)

Klaveness menegaskan bahwa dugaan pelanggaran netralitas politik perlu diteliti lebih lanjut.

"Itu harus dinilai oleh komite etik. Kami percaya penting untuk tidak hanya menyampaikan kritik di media, tetapi juga menggunakan mekanisme pengawasan internal. Proses ini harus ditangani dan dilakukan secara transparan," imbuhnya.

Di tengah kritik, Infantino tetap membela keputusan tersebut. Ia bahkan menyebut Trump secara objektif layak menerima penghargaan itu.

"Bukan hanya saya yang mengatakan itu. Ada penerima Nobel Perdamaian yang juga menyatakan hal yang sama," kata Infantino kepada Sky News pada Februari.

"Dia berperan dalam menyelesaikan konflik dan menyelamatkan banyak nyawa.”

Sebagai tambahan, pemenang Nobel Perdamaian terbaru, Maria Corina Machado, diketahui menyerahkan medalinya kepada Trump sebagai bentuk pengakuan atas dukungannya terhadap kebebasan Venezuela.


Rekam Jejak Kritik Klaveness

Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia, Lise Klaveness, dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Sepak Bola Norwegia, Karl-Petter Loken, memberikan pidato dalam konferensi pers Asosiasi Sepak Bola Norwegia di Oslo, Norwegia, pada 10 Oktober 2025 menjelang pertandingan kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 antara Norwegia dan Israel yang akan berlangsung di Stadion Ullevaal pada 11 Oktober. (Fredrik Varfjell / NTB / AFP)

Klaveness bukan kali pertama mengkritik FIFA. Pada 2022 di Doha, menjelang undian Piala Dunia 2022 Qatar, ia menyatakan FIFA masih memiliki jalan panjang dalam menangani isu hak asasi manusia, kesetaraan, dan demokrasi.

Namun, untuk Kongres FIFA kali ini di Vancouver, Kanada, ia tidak berencana menyampaikan kritik serupa secara terbuka.

Meski begitu, pernyataannya soal FIFA Peace Prize menunjukkan satu hal: ketegangan antara sepak bola dan politik kembali mencuat, dan kini langsung menyentuh pusat kekuasaan di tubuh FIFA.

 

Sumber: The Athletic

Berita Terkait