Sukses


    Sutiyono, Berawal dari Sepeda Rakitan hingga Jadi Legenda Balap Sepeda Indonesia

    "Bukan sepeda tua, tapi sepeda biasa milik saya yang kemudian saya rakit sendiri menjadi sepeda balap," ujar Sutiyono kepada Bola.com soal sepeda yang digunakannya pertama kali berlomba di peringatan HUT Komando Wilayah Pertahanan (Kowilhan) Bukit Barisan pada 1971. Itulah momen di mana Sutiyono mengawali kiprah sebagai pembalap sepeda yang kemudian menjadi andalan Indonesia di level internasional.

    Bola.com, Medan - Lomba balap sepeda dalam rangka HUT Kowilhan I Bukit Barisan pada 1971 memang menjadi langkah awal Sutiyono menjadi pembalap sepeda meski saat itu belum berpikir untuk serius.

    Sutiyono, yang memang menyukai olahraga dan sempat mencoba peruntungan di sepak bola dan voli, akhirnya memutuskan untuk mengikuti lomba tersebut dengan sepeda rakitannya sendiri.

    "Motivasi saya saat itu adalah saya ingin mencoba olahraga individu. Sebelumnya saya ikut sepak bola, selain itu juga tim bola voli. Saya pun ingin mencoba sebuah olahraga individu di mana prestasi itu akan ditentukan dari perjuangan saya sendiri," kisah Sutiyono perihal motivasinya mengikuti lomba balap sepeda untuk pertama kalinya.

    Setelah itu, di bawah arahan seorang warga Italia bernama Maurice Lungo, Sutiyono pun mulai serius dengan balap sepeda. Ia pun mulai mendapatkan beberapa prestasi lainnya yang membuatnya kemudian mulai diperhitungkan sebagai atlet potensial milik Indonesia.

    Akhirnya satu per satu prestasi ditorehkannya, mulai dari meraih 5 medali emas PON 1973 di Jakarta, medali emas dan perunggu saat ASEAN Tour de Singapore 1975 dan Tour of Formosa di Taiwan pada 1976.

    Sejak itu, Sutiyono terus mendapatkan kepercayaan untuk membawa nama Indonesia di pentas internasional dari balap sepeda.

    Selain meraih medali emas di level PON 1973, 1975, dan 1981, Sutiyono meraih medali emas di SEA Games 1977 di Kuala Lumpur, 1979 di Manila, dan 1981 di Jakarta.

    Selain itu, Kejuaraan balap sepeda Asia 1977 dan 1981 yang keduanya digelar di Manila, Filipina, menjadi arena lain Sutiyono berprestasi, di mana medali emas dan perak berhasil diraihnya. Asian Games 1978 dan 1981 juga menjadi bagian dari perjalanan Sutiyono meski tidak berhasil meraih medali, sama seperti ketika ia tampil di Kejuraan dunia balap sepeda di Jerman pada 1978.

    Lebih dari 10 tahun menorehkan banyak prestasi di dunia balap sepeda, Sutiyono memutuskan untuk menggantungkan sepedanya pada 1983, kurang lebih satu tahun setelah keikutsertaannya di Asian Games 1982 di New Delhi, India. Setelah itu, Sutiyono mendapatkan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Wali Kota Medan hingga akhirnya pensiun.

    Semua perjalanan berkesan di dunia balap sepeda itu tak membuat Sutiyono melupakan satu hal, yaitu bagaimana ia memulainya lewat sepeda rakitannya sendiri saat mengikuti lomba balap sepeda HUT Kowilhan I Bukit Barisan. Sutiyono pun kini menjadi seorang legenda yang sangat dikenal di Medan dan Sumatra Utara.

    Satu bukti Sutiyono menjadi legenda dilihat sendiri oleh Bola.com ketika berkunjung ke kediamannya di Medan pada akhir Juli 2018. Bapak Suher, pengemudi mobil yang disewa kru kami, langsung berteriak "Sutiyono!" ketika tiba di depan kediaman sang legenda dan mengetahui orang yang dicari Bola.com di Medan adalah mantan atlet sepeda Indonesia.

    Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

    2 dari 4 halaman

    Sukses berkat Polesan Maurice Lungo

    Sepeda rakitan dan lomba balap sepeda di Medan dalam HUT Kowilhan mungkin menjadi titik awal karier Sutiyono sebagai atlet andalan Indonesia. Namun, mungkin semua kisah keberhasilannya menjadi seorang legenda saat ini tak akan ada tanpa kehadiran Maurice Lungo.

    Maurice Lungo merupakan seorang warga Italia yang tinggal di Jalan S. Parman, Medan, mulai Februari 1971. Menurut pengakuan Sutiyono, Lungo merupakan seorang pembalap sepeda profesional di negara asalnya. Bakat alam Sutiyono pun dilihat oleh Maurice Lungo yang kemudian meminta sang atlet untuk berlatih bersamanya.

    Kerja keras Sutiyono kerap mendapatkan apresiasi dari Maurice Lungo lewat hadiah seperti ban sepeda atau velg baru.

    Maurice Lungo juga yang mengajarkan kepada Sutiyono bagaimana teknik balap sepeda yang baik sesuai dengan kapasitas dirinya sebagai atlet, di mana hal ini diakui oleh sang atlet sebagai alasan dirinya mengikuti Maurice Lungo dan tidak berlatih bersama atlet-atlet balap sepeda lainnya.

    "Ia mengarahkan saya sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Ia memiliki dasar balap sepeda karena dia juga merupakan seorang profesional dari Italia. Saya kemudian berpikir kalah saja saya tidak dilatih olehnya mungkin saya tidak bisa menjadi pembalap yang baik," kisah Sutiyono.

    "Ia selalu meminta saya untuk berlatih sesuai dengan kapasitas yang saya miliki. Akhirnya terbukti apa yang dikatakannya, dalam empat bulan saya bisa meraih prestasi ketika mengikuti kejuaraan daerah di Siantar."

    "Dalam 10 bulan saya mengikuti kejuaraan nasional mewakili Sumatra Utara dan aya berhasil menjadi juara umum untuk nomor perorangan karena di sana ada tiga nomor yang saya ikuti, tur Jakarta-Lido, tur Jakarta-Serang, dan Tur Jakarta-Cibulan. Saya menjadi juara untuk tur Lido dan Cibulan, serta menjadi peringkat kedua di tur ke Serang. Karena itu saya bisa menjadi juara umum. Prestasi dalam 10 bulan bersamanya membuat saya memutuskan tetap berlatih di bawah arahannya hingga akhirnya ke pelatnas," lanjutnya. 

    3 dari 4 halaman

    King of the Montain, Momen Terbaik Sutiyono

    Berkunjung ke kediaman Sutiyono di Medan, Bola.com semua torehan prestasinya sebagai pembalap sepeda masih tersimpan rapi. Sebuah kabinet di ruang tamu memperlihatkan betapa banyak trofi dan penghargaan yang telah diraihnya.

    Bahkan semua medali yang berhasil diraihnya masih tersimpan rapi di dalam sebuah kotak dengan dibungkus kertas untuk menandai di mana dirinya berhasil meraih medali itu.

    Satu trofi berukuran besar menarik perhatian Bola.com. Trofi tersebut memiliki plakat di bagian bawahnya dengan tulisan, "Picca Tour '77, 28 Maret - 3 April 1977", yang dilanjutkan dengan predikat "Most Well - Coordinated Team, King of the Mountain, Sutiyono, didonasikan oleh Mayor Jenderal Fidel Ramos."

    Fidel Ramos merupakan Presiden ke-12 Filipina yang menjabat pada 1992 hingga 1998. Sementara ketika menyerahkan trofi kepada Sutiyono, Fidel Ramos tengah menjabat sebagai Kepala Constabularia Filipina, sebuah kesatuan polisi yang didirikan oleh pemerintah kolonial Amerika Serikat yang menggantikan pemerintah kolonial Spanyol di Filipina.

    Sutiono, legenda balap sepeda Indonesia saat torch relay Asian Games di Lampung. (Bola.com/Reza Bachtiar)

    Momen meraih predikat King of the Mountain di Tour of Picca itu ternyata menjadi satu yang terbaik yang dirasakan oleh Sutiyono. Tak hanya karena prestasi yang diraihnya, tapi karena adanya dukungan luar biasa yang dirasakannya ketika bertanding di Filipina saat itu.

    "Yang paling berkesan memang kejuaraan Tour of Picca yang digelar di Filipina. Selain karena predikat King of the Mountain, satu hal yang menarik bagi saya adalah banyak yang mengelu-elukan nama saya di situ. Saya bahkan bingung dari mana mereka mengenal saya," kisah Sutiyono.

    "Ternyata mereka yang memanggil nama saya di sekitar lintasan balap itu karena mendengarkan siaran langsung balapan melalui radio. Mereka mengetahui saya berada di depan dan langsung memberikan dukungan kepada saya. Momen itu membuat saya merasa sangat bangga dan setelah finis mendapatkan hadiah dari Fidel Ramos sebagai King of the Montain saya semakin bangga," lanjut pria kelahiran 1951 itu.

    4 dari 4 halaman

    Arti Kemenangan dan Mimpi yang Masih Menyala

    Setelah berhenti menjadi atlet balap sepeda pada 1983, Sutiyono fokus dengan pekerjaannya sebagai PNS di Kantor Wali Kota Medan sambil membantu perkembangan balap sepeda di Sumatra Utara. Ia turut melatih generasi-generasi muda untuk bisa berprestasi, masuk pelatnas, dan mewakili Indonesia di level internasional.

    Alasannya berhenti menjadi atlet pun tak lain karena ingin regenerasi balap sepeda Indonesia berjalan, sehingga di kemudian hari akan hadir pembalap sepeda baru yang termotivasi untuk mencatatkan prestasi yang lebih baik.

    "Kalau sudah berprestasi dan berada di puncak, lebih baik saya memberikan pengalaman kepada yang lebih muda agar mereka bisa melewati prestasi kami yang sudah senior," ujar Sutiono yang bersama enam legenda olahraga nasional lainnya berpartisipasi menggelorakan kampanye Kemenangan Itu Dekat yang diusung perusahaan jasa aplikasi Grab, salah satu sponsor Asian Games 2018.

    Ketekunan Sutiyono menangani pembalap muda tak main-main. Sejak 2013 ia telah mempersiapkan pembalap muda yang diproyeksi akan mencapai performa terbaik pada 2020 hingga 2024. Menurutnya, momen tersebut akan sangat tepat bagi pembalap asal Medan untuk bisa berprestasi.

    "Nanti 2024 Sumatra Utara dan Aceh akan menjadi tuan rumah PON. Oleh karena itu kami membina pembalap muda sejak 2013 dan membuat rencana jangka panjang," kisah Sutiyono.

     

    Grab sebagai mobile platform O2O terkemuka di Asia Tenggara merilis kampanye #KemenanganItuDekat di Yogyakarta. Kampanye ini diyakini bisa melecut semangat kemenangan, nilai-nilai sportivitas, dan fairplay jelang pesta olahraga se Asia pada 18 Agustus hingga 2 September di Jakarta dan Palembang. Grab, yang merupakan oficial mobile platform Asian Games, menggandeng tujuh atlet legendaris Indonesia dalam kampanye tersebut. Mereka adalah Ellyas Pical (tinju), Nico Thomas (tinju), Tati Sumirah (bulutangkis), Sutiyono (balap sepeda), Alexander Pulalo (sepak bola), Pascal Wilmar (bola voli), dan Abdul Rojak (taekwondo). Marketing Director Grab Indonesia, Mediko Azwar, mengatakan para legenda tersebut digandeng supaya bisa berbagi inspirasi, bukan hanya terhadap atlet yang akan bertanding, tapi juga seluruh lapisan masyarakat Indonesia. #CeritaKemenangan

    A post shared by Bola.com (@bolacomid) on

    Sayangnya, kendala organisasi membuat Sutiyono tak lagi dilibatkan dalam pembinaan pembalap sepeda sehingga ia sempat berkecil hati. Namun, melihat semangat yang diperlihatkan oleh anak-anak asuhnya, Sutiyono pun tetap melatih mereka secara mandiri.

    "Namun, sekarang saya memiliki gairah untuk bisa melanjutkan pembinaan kepada anak-anak. Mereka sangat bersemangat, artinya mereka tetap memiliki kemauan untuk serius dalam olahraga ini. Ada satu orang yang sedang tidak bisa ikut latihan karena dia akhirnya bergabung dengan tim di Yogyakarta, dia semakin berkembang dan serius meniti karier sebagai pebalap sepeda," lanjutnya.

    Momen membina anak-anak hingga serius memilih balap sepeda sebagai satu jalan menuju masa depan menjadi hal yang memuaskan bagi seorang Sutiyono. Bahkan ia masih bermimpi bisa terus memberikan perhatian dan pembinaan kepada pembalap muda yang ingin mengharumkan nama Indonesia lewat prestasi yang lebih baik.

    "Selagi saya mampu, di mana saya sangat mengandalkan bakat saya di olahraga ini, saya ingin terus berbagi pengalaman hidup dan membina anak-anak generasi masa depan untuk bisa mengejar mimpi mereka," tutur Sutiono mengakhiri percakapan penuh keakraban dengan kami.

     

    Video Populer

    Foto Populer