Cerita di Balik Kesuksesan Dedi Kusnandar di Sepak Bola, sampai Berkarier di Luar Negeri: Sudah Didoktrin Ayah Sejak Kecil

Di balik kisah orang sukses biasanya ada sosok yang berjasa atau berkontribusi. Itu pulalah yang dialami Dedi Kusnandar.

Bola.com, Jakarta - Di balik kisah orang sukses biasanya ada sosok yang berjasa atau berkontribusi. Itu pulalah yang dialami Dedi Kusnandar.

Pria yang kini berusia 34 tahun, yang dulu bermain di posisi gelandang bertahan, pernah memperkuat sejumlah klub papan atas Indonesia seperti Persib Bandung, Arema FC, Persebaya Surabaya, dan Bhayangkara FC.

Pria kelahiran Sumedang 23 Juli 1991 tersebut juga pernah mencicipi Liga Malaysia, saat memperkuat Sabah FC.

Bakat serta performanya yang memesona membuat Dedi Kusnandar sukses menembus Timnas Indonesia, baik U-17, U-23, lalu promosi ke senior.

Sebelum beken dan terkenal seperti saat ini, Dedi Kusnandar layak berterima kasih kepada sosok istinewa di balik kariernya, yakni sang ayah sendiri.

Via kanal YouTube Sport77 Official belum lama ini, Dedi Kusnandar mengaku bisa sukses bahkan menembus timnas karena dorongan semangat dan perhatian yang sangat besar dari almarhum ayahnya.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Keluarga yang Mencintai Persib

Ia mengaku berasal dari keluarga sepak bola yang sangat fanatik dengan Persib Bandung, yang kelak menjadi tim kebangaan Dedi Kusnandar bahkan ikut memenangkan dua gelar, Liga 1 2023/2024 dan Piala Presiden 2015,

"Iya, pas kecil ingin jadi pemain bola. Apalagi keluarga dari passion-nya sepak bola. Sudah didoktrinlah. Apalagi dulu bapak pemain sepak bola juga. Kalau ada pertandingan sering diajak ke lapangan. Terus nonton Persib," kata Dedi.

Menurut Dedi, ayahnya pernah ikut seleksi pemain Persib namun nasib baik tak berpihak. Sang ayah kemudian berdoa dan berharap salah satu anaknya kelak bisa memperkuat Bandung Bandung.

"Sehari-hari ya main bola. Apalagi bapak dulu penah ikut seleksi pemain Persib. Dia angkatan Yusuf Bachtiar, Robby Darwis. Tapi enggak pernah masuk. Jadi mungkin karena bapak enggak jadi pemain profesional, anak-anaknya didoktrinlah supaya jadi pemain bola," ujar Dedi.

"Dia sering ngajak main bola dan latihan ke pertandingannya. Itu sih, almarhum kalau sekarang pasti bangga lihat anak-anaknya jadi pemain bola".

"Kami tiga bersaudara, laki-laki semua. Semuanya terjun di sepak bola. Dimasukin ke sekolah sepak bola semuanya. Alhamdulillah saya yang rezekinya jadi pemain profesional," imbuh Dedi. 

 

Harapan Besar Sang Ayah

Melihat bakat anak-anaknya, terlebih Dedi Kusnandar, harapan ayah begitu besar. Terlebih Persib adalah tim kesayangan sekaligus kebangaan.

Dedi bahkan sampai diajak ke Stadion Siliwangi yang jaraknya terbilang jauh dari Jatinangor hanya untuk menyaksikan Maung Bandung berduel.

"Ya, besar sekali. Apalagi bapak tuh tadinya kepingin jadi pemain profesional. Makanya sering diajak nonton Persib. Dia tuh fanatik sekali sama Persib. Sampai cita-citanya mungkin ingin melihat anaknya suatu saat main di Stadion Siliwangi," tutur Dedi Kusnandar.

"Saya diajak ke Stadion Siliwangi. Dia pernah ngomong,'Ded, saya kepengin lihat nanti suatu saat main di situ'. Makanya dia selalu mendukung, walaupun enggak ambisius. Tapi almarhum bercita-cita kepingin salah satu anaknya bermain di liga dan ya, Alhamdulillah, salah satunya kecapaian," tukas Dedi Kusnandar sambil mengutarakan lagi keinginan hati ayahnya.

 

Bagian Terpaan Mental

Niat menjadi pesepak bola disertai keinginan Dedi Kusnandar untuk masuk sekolah sepak bola (SSB). Hanya saja, SSB saat itu belum ada di Jatinangor, jadi harus ke Bandung. Tapi, perjuangannya ternyata tak semudah itu.

"Nah, yang paling saya aneh tuh, dulu bapak yang kepengen jadi pemain bola tapi karena Jatinangor ke Bandung sangat jauh, karena dulu kan di Jatinangor belum ada sekolah sepak bola. Jadi harus ke Bandung yang jaraknya tuh 1,5 jam. Usia 10 tahun saya mulai itu," kenang Dedi Kusnandar.

"Saya minta ke bapak,'Pak, kalau Jatinangor enggak ada sekolah sepak bola, tapi adanya di Bandung'. Kata bapak oke, tapi jangan mau dianter-anter ya. Kan saya bingung. Usia 10 tahun harus naik angkot, harus naik bis kota, harus itu," imbuhnya.

Belakangan Dedi Kusnandar baru sadar, keputusan ayahnya tak mau mengantar merupakan bagian dari ujian mental yang harus ia hadapi di usia belia.

"Ternyata, dia menguji. Gimana serius enggak mau jadi pemain sepak bola. Lebih ke situ sih. Tapi setelah ikut kompetisi, ikut kejuaraan, orang tua sudah mulai mengantar. Sampai ke usia senior pun enggak terlewatkan nonton ke stadion," pungkasnya.

Video Populer

Foto Populer