Sukses


Pevoli Tasya, Termuda dan Terpendek di Proliga 2016,

Bola.com, Yogyakarta - Libero tim putri Jakarta Pertamina Energi, Mahida Muntaza, mudah dikenali di lapangan. Di antara seluruh pemain di timnya, dia paling mungil. Pemain yang akrab disapa Tasya tersebut terlihat semakin mungil ketika berdiri di antara dua pemain asing Jakarta Pertamina, Marianne Mari Stein Brecher dan Logan Tom.

Ya, badan Tasya memang tak semenjulang rekan-rekannya, hanya 155 cm. Perempuan yang memiliki tinggi badan 48 cm tersebut merupakan pemain terpendek di Proliga 2016. Selain itu, dia juga merupakan pemain termuda. Gadis yang sering menebar senyum tersebut baru saja merayakan ulang tahun ke-17 pada 29 Maret lalu.

“Kalau berdiri di samping Mari paling cuma segininya (memegang pundak). Kalau sedang receive bola di samping Morgan dan Mari, seperti terjepit. Jadi suka diledekin orang,” kata Tasya menceritakan pengalamannya sebagai pemain termungil di Proliga, saat berbincang dengan bola.com di sela-sela final four Proliga 2016 di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Sabtu (7/5/2016).

Pemain voli selama ini identik dengan postur tubuh tinggi, meskipun libero tak harus membutuhkan tinggi badan yang menjulang. Namun, stigma itu tak menghalangi Tasya memantapkan pilihan berkarier di dunia voli. Tinggi badan tak menghalanginya bermimpi tinggi.

Pevoli Jakarta Pertamina Energi, Wahida Muntaza (Tasya), saat tampil pada babak final four seri kedua Proliga 2016 melawan Gresik Petrokimia di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Sabtu (7/5/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

“Saya awalnya memang merasa minder, karena beda sendiri daripada yang lain. Tapi kemudian saya yakin memiliki kelebihan di balik kekurangan ini.,” kata Tasya,

Tasya meyakini tinggi badan tak akan menjamin kesuksesan di dunia voli profesional. Itu bukan satu-satunya faktor penting. “Walaupun paling pendek harus percaya diri .Yang menjamin kesuksesan itu adalah sampai di mana kita mau bekerja keras dan berusaha menjadi lebih baik,” kata Tasya.

Menengok ke belakang, Tasya mengaku menyukai voli sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat melihat para senior sedang bermain bola voli, pemain yang berambut pendek ini jatuh cinta. Dia pun mulai rajin berlatih setiap hari. Setapak demi setapak dia menekuni jalan menuju ke voli profesional. Ini adalah musim pertama Tasya di ajang Proliga.

“Keluargaku memang banyak pemain voli, tapi tidak ada yang sampai masuk timnas. Kalau menekuni voli, memang aku yang pengin. Saat masih SD, tinggi badan aku masih sejajar dengan pemain lain, tapi saat di SMP, kok aku jadi paling pendek. Akhirnya milih jadi libero saja,” ujar Tasya mengenang masa kecilnya.

“Tapi jadi libero itu berat. Harus bisa receive bola dengan bagus, defend bagus, dan harus mau mengejar bola ke manapun. Libero harus jadi leader, jadi mesti lebih lincah daripada yang lain,” sambung dia.

Bantuan dari Pemain Senior

Selama menjalani musim pertama di tim Jakarta Pertamina, Tasya mengaku banyak mendapat bantuan dari para pemain seniornya. Mereka banyak memberi masukan saat Tasya melakukan kesalahan atau bagaimana supaya tampil lebih baik. Tasya juga terbantu dengan masukan dari dua pemain asing Jakarta Pertamina.

Perhatian para senior menjadi motivasi tersendiri bagi Tasya supaya bisa tampil lebih baik. Apalagi Jakarta Pertamina memastikan lolos ke final Proliga 2016 untuk menantang tim tertangguh saat ini, Jakarta Elektrik PLN.

Pevoli Jakarta Pertamina Energi, Wahida Muntaza (Tasya), usai tampil pada babak final four seri kedua Proliga 2016 melawan Gresik Petrokimia di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Sabtu (7/5/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

“Pemain asing Pertamina (Mari dan Logan) sering memberi masukan kalau saya salah atau memberi tahu kalau bola seperti ini atau itu, seharusnya saya yang ngambil. Walaupun kelihatan marah-marah sebenarnya mereka mendukung,” beber Tasya.

Meski baru semusim menjajal kerasnya persaingan di Proliga, Tasya berani bermimpi tinggi. Dia bertekad ingin menembus skuat tim nasional. Tasya menyadari butuh perjuangan keras untuk mencapai mimpi tersebut.

“Saya tak tahu kapan bisa menembus timnas, kalau ada rezeki pasti masuk. Yang penting saya harus berusaha lebih keras lagi supaya bisa masuk timnas,” tegas Tasya.

Video Populer

Foto Populer