Cerita Dharma Raj: Jatuh Cinta dengan Hoki Sejak Usia 8 Tahun hingga Menakhodai Timnas Indonesia

Bola.com belum lama ini mendapatkan kesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Pelatih Timnas Hoki Indonesia, Dharma Raj.

Bola.com, Jakarta - Bola.com belum lama ini mendapatkan kesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Pelatih Timnas Hoki Indonesia, Dharma Raj. Sosok asal Malaysia itu bercerita banyak hal, termasuk awal mula menggeluti olahraga hoki.

Saat ini, fokus utama Dharma Raj adalah mempersiapkan Timnas Hoki Indonesia menuju ajang multievent terbesar di Asia, yakni Asian Games 2026. Namun, langkah Indonesia tidak mudah karena harus melewati babak kualifikasi.

"Kami sekarang persiapan untuk ke Asian Games di mana Indonesia harus lolos dalam kualifikasi. Makanya kami sudah mulai latihan hampir tiga minggu," buka Dharma Raj.

Menurutnya, baik tim putra maupun putri sama-sama wajib berjuang dari fase kualifikasi. Situasinya berbeda dengan Timnas Hoki Malaysia yang sudah mengamankan tiket otomatis.

"Tim wanita dan pria, dua-duanya pasukan Indonesia perlu untuk mengikuti kualifikasi. Berbedalah dengan Malaysia yang sudah lolos otomatis," ujarnya.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Cinta Hoki Sejak Kelas 2 SD

Di Indonesia dan Malaysia, bulutangkis serta sepak bola memang menjadi olahraga yang paling populer. Namun, Dharma Raj justru jatuh hati pada hoki sejak usia sangat belia.

"Memang benar bulutangkis itu olahraga populer karena menang medali di Olimpiade. Tapi hoki itu yang mempunyai paling banyak atlet Olimpiade dan salah satunya adalah saya," katanya.

Dharma Raj bahkan masih tergabung dalam grup WhatsApp mantan atlet Olimpiade Malaysia yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Menariknya, sebagian besar berasal dari cabang hoki.

"Dari umur delapan tahun saya sudah minat hoki. Tahun 1977 kelas 2 SD saya sudah main hoki. Makanya saat saya datang ke Indonesia, saya kaget orang mulai bermain hoki di umur belasan tahun," tutur Dharma Raj.

Selain itu, ia menyoroti keseriusan Malaysia dalam membangun fondasi hoki sejak puluhan tahun lalu. Hampir setiap negeri (setingkat provinsi) memiliki sekolah olahraga dengan fasilitas lengkap, termasuk lapangan karpet standar internasional.

"Di sekolah olahraga negeri itu mereka mempunyai lapangan karpet. Di Indonesia yang sebegitu besar negaranya cuma mempunyai empat lapangan karpet. Kalau di Malaysia, setiap sekolah olahraga mempunyai lapangan karpet di dalam sekolahnya," jelasnya.

 

Warisan Sejarah Sejak 1950-an

Menurut Dharma Raj, hoki sudah menjadi olahraga istimewa di Malaysia sejak era 1950-an. Salah satu alasannya adalah konsistensi mereka lolos ke Olimpiade.

Eks pelatih Timnas Hoki Malaysia itu menyebut hoki sebagai cabang olahraga yang paling banyak menyumbang atlet Olimpiade di negaranya. Faktor sejarah itu membuat pemerintah dan federasi memberikan perhatian khusus.

"Hoki itu salah satu olahraga yang Malaysia sering lolos ke Olimpiade. Gara-gara itu dianggap olahraga istimewa karena sering ke Olimpiade," ungkapnya.

"Di sekolah saya mempunyai banyak mantan pemain timnas yang mewakili sampai Olimpiade. Karena di sekolah, guru yang mengenalkan olahraga ini dan membuat orang seperti saya mulai minat ke hoki," imbuh dia.

 

Tantangan Besar di Indonesia

Kini, Dharma Raj menghadapi tantangan berbeda bersama Timnas Hoki Indonesia. Ia mengakui, jika dibandingkan dengan Malaysia, perkembangan hoki Indonesia masih tertinggal jauh.

"Kalau dibandingkan Indonesia sama Malaysia itu sepertinya langit dan bumi ya olahraga hokinya. Sangat populer di sana," ucapnya.

Namun, justru tantangan itulah yang memotivasi dirinya. Dengan persiapan yang mulai digeber sejak tiga pekan terakhir, Dharma Raj berharap Timnas Hoki Indonesia mampu menembus kualifikasi dan tampil di Asian Games.

Bagi Dharma Raj, membangun hoki bukan sekadar soal prestasi jangka pendek, melainkan menciptakan budaya dan sistem pembinaan yang kuat sejak usia dini. Sebuah pekerjaan rumah besar yang kini ada di pundaknya bersama Tim Merah-Putih.

Video Populer

Foto Populer