Timnas Thailand Pilih Didukung Pelajar daripada Suporter Fanatik

oleh Aning Jati diperbarui 23 Feb 2017, 08:30 WIB

Bola.com, Bangkok - Langkah tegas diambil Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT) dalam membatasi gerak suporter garis keras mereka atau yang biasa disebut Ultras. FAT memutuskan melarang kedatangan Ultras ke stadion saat timnas Thailand menggelar tiga laga kandang pada putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Asia di Stadion Rajamangala.

FAT memilih membatalkan tiket pertandingan, sekitar 800 lembar, yang sudah terjual, disinyalir kepada Ultras, daripada kecolongan ulah negatif dari Ultras lagi. FAT tidak mau terkena sanksi lagi dari AFC akibat perilaku buruk para Ultras.

Pada 17 Desember 2016, tepatnya saat menjamu Indonesia di leg kedua final Piala aff 2016, FAT kecolongan lantaran ada flare yang menyala di Stadion Rajamangala dari tribune yang dihuni Ultras.

FAT sudah menangkap satu penjual flare, namun FAT terlanjur diperingatkan AFC untuk tidak kecolongan lagi saat jadi tuan rumah kualifikasi Piala Dunia 2018 atau sanksi yang akan dijatuhkan bakal lebih berat.

Gara-gara flare di laga kontra Indonesia itu, FAT dikenai AFC denda sebesar 30 ribu dolar AS (sekitar Rp 400,5 juta), disertai peringatan keras dari Kondeferasi Sepak Bola Asia itu.

"Fans garis keras itu menimbulkan masalah, Desember lalu. Jadi kali ini kami ingin zona yang dikuasai Ultras itu diisi para pelajar," kata juru bicara FAT, Patit Suphaphongs, seperti dikutip dari Straits Times.

Advertisement

Timnas Thailand akan menjamu Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab di Stadion Rajamangala pada kualifikasi putaran ketiga Piala Dunia 2018 Zona Asia, mulai Maret 2017.

The War Elephant butuh dukungan dari suporter terutama saat laga kandang karena saat ini mereka ada di dasar klasemen Grup B. Kemenangan di sisa pertandingan memang tidak lagi berpengaruh pada peluang Thailand ke Piala Dunia 2018 yang sudah tertutup, namun FAT menginginkan timnas mereka bisa finis di posisi lebih baik.

Alih-alih mendapat dukungan suporter fanatik dalam Ultras yang bisa mengorbarkan semangat pemain saat di lapangan, FAT lebih memilih timnas didukung kalangan pelajar.

Di sisi lain, tegasnya kebijakan ini juga karena FAT ingin memerangi holiganisme serta kekerasan yang terjadi di sepak bola Thailand. Kompetisi reguler Thailand kerap kali diwarnai kekerasan seusai pertandingan.

Dalam pemberitaan Straits Times, pada September 2016, kepolisian Thailand terpaksa menyemprotkan gas air mata untuk membubarkan perkelahian yang melibatkan fans dua kelompok suporter klub rival yang saling melempar batu, botol, dan setidaknya satu bom molotov di luar stadion saat pertandingan.

 

Berita Terkait