PSIS Class of 1987 dan Magis Ribut Waidi di Timnas Indonesia

oleh Wiwig Prayugi diperbarui 03 Apr 2020, 08:15 WIB
Legend Series - Ribut Waidi (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Almarhum Ribut Waidi telah masuk catatan sejarah sepak bola Indonesia. Dua momen bersejarah yang mengangkat nama Ribut ialah ketika mencetak gol tunggal PSIS Semarang ke gawang Persebaya Surabaya di final Perserikatan 1987 dan bersama Timnas Indonesia di SEA Games 1987.

Pertandingan menjadi satu di antara duel dramatis PSIS versus Persebaya, yang pantas mendapat julukan El Clasico Indonesia. Ya, pada masa lalu, PSIS dan Persebaya merupakan musuh bebuyutan.

Advertisement

PSIS dua kali sukses menjegal Persebaya yang bertabur bintang. Selaing angkatan 1987, PSIS juga menjadi hantu bagi Persebaya pada final Liga Indonesia 1998-1999.

Angkatan 1987 yang kini berusia 60-an mayoritas bekerja di BUMN, BUMD, dan bank. Setiap tiga bulan sekali mereka bermain futsal. PSIS 1987 telah kehilangan tiga personel, yakni Ribut Waidi yang meninggal pada Juni 2012, bek Rochadi berpulang pada Januari 2013, dan manajer tim Ismangoen Notosaputro wafat pada Mei 2015. 

Pelatih mereka, Sartono Anwar, terkenal galak. Bila terlambat latihan lima menit, pemain dihukum mengelilingi Stadion Citarum 10 kali. Belum lagi bila ada yang ketahuan merokok, hukuman akan bertambah berat.

Tak heran bila mereka jago memainkan bola pendek satu dua dengan cepat dan piawai menaklukkan lapangan berkubang. Itu juga yang membuat skuat PSIS 1987 dikenal dengan Si Jago Becek. 

Usia mereka tak lagi bersahabat untuk duel fisik. Tapi, visi bermain, kontrol bola, dan akurasi umpan para legenda masih teruji. Era 1987, di mana PSIS jadi juara Perserikatan merupakan masa kejayaan sempurna sepak bola Semarang. Cara bermain mereka diingat oleh pecinta sepak bola Kota Atlas hingga kini.

“Kami bermain dengan umpan pendek, cepat, dan mengandalkan gelandang yang punya daya jelajah tinggi dan kecepatan pemain sayap seperti mendiang Ribut. Walaupun main di lapangan becek, tidak ada efeknya karena fisik kami unggul. Kami malah selalu menang,” ungkap Ahmad Muhariah, playmaker PSIS Semarang 1987.

"Khusus untuk Ribut Waidi, dia terkenal ngeyel dan tambeng. Jadi justru di situ kekuatan dia," tambah Sudaryanto, kapten PSIS Semarang angkatan 1987.

Saksikan Video Berikut Ini

2 dari 3 halaman

Medali Emas SEA Games 1987

Almarhum Ribut Waidi (kiri), pahlawan Timnas Indonesia di final SEA Games 1987. (Dok pribadi Agus Santoso)

PSIS Semarang 1987 menjadi jargon tersendiri bagi pecinta sepak bola Semarang, untuk menggambarkan sebuah tim sepak bola lokal yang ideal. Pada masa itu merupakan penampilan terbaik PSIS sepanjang berkiprah di kompetisi Perserikatan. 

Magis Ribut Waidi menjalar ke Timnas Indonesia. Ia dipanggil untuk mengikuti pemusatan latihan menjelang SEA Games 1987.

Laga final Timnas Indonesia melawan Malaysia pada SEA Games 1987, 20 September 1987 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. (Facebook Zona Memory Sepak Bola)

Ribut membuat Stadion Utama Gelora Bung Karno bergetar pada 20 September 1987. Ya, pada final sepak bola SEA Games 1987, Ribut memastikan kemenangan Timnas Indonesia atas Malaysia pada laga final. Kala itu, stadion penuh sesak oleh suporter Tim Garuda. Jumlah penonton yang hadir kabarnya menembus 100 ribu orang. 

Pertandingan melawan Malaysia itu berlangsung amat ketat. Kedudukan 0-0 bertahan selama 90 menit waktu normal. Ribut Waidi menjadi pahlawan lewat golnya pada menit ke-91. Penyerang kelahiran Pati, 5 Desember 1962, itu membuat SUGBK bergemuruh.

Medali emas 1987 merupakan yang pertama bagi Indonesia sejak  SEA Games digelar 1959. Untuk pertama kalinya Indonesia meraih medali emas sekaligus menghentikan dominasi Thailand.

3 dari 3 halaman

Bekerja di Pertamina

Ribut Waidi, jebol gawang Malaysia di final SEA Games 1987. (soccerklopedi)

Bola.com menjadi saksi hari-hari terakhir almarhum Ribut Waidi. Ketika itu, pada akhir Juni 2012, eks pemain PSIS berkumpul di lapangan Sidodadi, Semarang.

Sebagai catatan, mantan pemain PSIS memang sering berkumpul untuk bermain sepak bola atau makan bersama, termasuk angkatan 1987 yang mayoritas sudah bekerja di BUMD.

Pada tahun 2012, mendiang Ribut bekerja di Pertamina. Ia sudah menjadi supervisor unit gas dan ditempatkan di Cilacap. Dari ahli menggocek bola, Ribut akhirnya menikmati kariernya sebagai pegawai.

Timnas Indonesia pada SEA Games 1987 di Jakarta. (Facebok Zona Memory Sepak Bola)

Ribut adalah sosok yang ceplas-ceplos. Dia tidak suka basa-basi dan lebih senang bicara apa adanya. 

Pada 3 Juli 2012, sebuah kabar menyedihkan bagi pencinta sepak bola Semarang dan Indonesia. Ribut tutup usia akibat serangan jantung. Kabar ini begitu mengagetkan karena sosok Ribut masih rajin berolahraga.