Hector Bellerin Sebut FIFA dan UEFA Bersikap Rasialis: Konflik di Ukraina Diurus, tapi Bungkam soal Palestina

oleh Gregah Nurikhsani diperbarui 24 Mar 2022, 18:30 WIB
Hector Bellerin - Bek sayap Real Betis ini ternyata juga eksis sebagai YouTuber dengan berbagi video kesehariannya dan juga podcast. Pemain asal Spanyol itu dapat meng-upload video 4 hingga 5 video setiap bulannya. (AFP/Jorge Guerrero)

Bola.com, Jakarta - Di tengah ramainya seruan akan penghentian konflik Rusia-Ukraina, bek Arsenal yang tengah dipinjamkan ke Real Betis, Hector Bellerin, bersikap sinis terhadap UEFA dan FIFA. Ia menyebut minimnya empati terhadap Palestina sebagai sesuatu yang aneh.

Seperti diketahui, dunia mengecam invasi Rusia ke Ukraina, termasuk sepak bola. Efeknya sungguh luar biasa, sampai Pemerintah Inggris membekukan aset Chelsea karena 'keterlibatan' Roman Abramovich sebagai pemilik klub.

Advertisement

FIFA dan UEFA juga bertindak sangat tegas. Seluruh elemen sepak bola Rusia dikenai sanksi, termasuk pencoretan beberapa klub dari kompetisi antarklub Eropa.

FIFA juga mendepak Timnas Rusia dari Piala Dunia. Hal ini membuat Hector Bellerin bersuara. Ia heran mengapa ada perbedaan sikap terhadap konflik di Ukraina dan Palestina.

"Sulit melihat dunia lebih tertarik kepada perang di Ukraina dibandingkan dengan yang lain. Entahlah, apakah karena orang Ukraina lebih mirip dengan kita atau pengaruh konflik tersebut berdampak langsung buat ekonomi dan juga menyoal pengungsi," kata Bellerin kepada La Media Inglesia.

 

2 dari 2 halaman

Rasialis

Hector Bellerin yang merupakan produk akademi Arsenal akhirnya musin ini dipinjamkan ke Real Betis selama satu musim tanpa opsi pembelian. Real Betis memang sudah lama kagum dengan bek yang bersinar dibawah asuhan Arsene Wenger tersebut. (Foto: AFP/Adrian Dennis)

Lebih lanjut, bek kanan alumunus La Masia itu juga merasa kalau sikap dunia, dalam konteks ini yakni FIFA dan UEFA, sama saja bentuk lain dari rasialisme.

"Perang Palestina dibungkam, tak ada yang membicarakannya."

"Yaman, Irak, sekarang Rusia yang tidak boleh ikut Piala Dunia. Padahal (perang di Timur Tengah) adalah sesuatu yang sudah dihadapi bertahun-tahun lamanya."

"Anda rasialis jika menutup mata terhadap konflik lain tetapi saat ini malah memposisikan diri seperti ini. Ini adalah cerminan minimnya empati buat nyawa-nyawa yang hilang di berbagai daerah lainnya karena memprioritaskan konflik tertentu."

Sumber: La Media Inglesia